SURYA.CO.ID, SURABAYA – Dinas Pendidikan Jawa Timur melalui UPT Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK) kembali menggelar program Mobile Training Unit (MTU) sebagai pelatihan kompetensi vokasi bagi siswa SMK dan SMA Double Track.
Tahun ini, pelaksanaan MTU difokuskan di satu wilayah, yakni Kota Malang dan Kota Batu.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan pemusatan pelaksanaan di satu wilayah bertujuan agar dampaknya lebih terasa bagi sekolah maupun masyarakat.
Baca juga: Catatan Capaian Program Pendidikan Dinas Pendidikan Jatim, Fokus Akses dan Kesejahteraan Guru
“Fokus di satu wilayah agar hasilnya lebih maksimal. Kalau dulu lima daerah dengan lima MTU, sekarang satu wilayah tetapi beberapa sekolah. Kehadiran UPT PTKK jadi lebih terasa dengan variasi kompetensi yang diberikan,” ujar Aries kepada SURYA.co.id, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, selain menyasar SMK, program ini ke depan juga akan diperluas ke SMA Double Track yang belum memiliki fasilitas praktik standar.
Sejumlah sekolah, kata dia, masih kekurangan laboratorium maupun peralatan praktik seperti otomotif, tata boga, dan video-fotografi.
“Kita tidak ingin mengirim peralatan besar beserta instruktur selama seminggu tanpa hasil yang linier. Karena itu ada pretest dan post test untuk mengukur capaian siswa,” jelasnya.
Ia menegaskan, pretest dan post test menjadi instrumen evaluasi untuk melihat perkembangan siswa selama enam hari pelatihan.
“Jadi ada data evaluasi. Ada pendahuluan sebelum dilakukan pelatihan dan sesudah dilakukan pelatihan,” tegasnya.
Aries yang merupakan lulusan IPDN ini juga berharap kompetensi tata boga dapat segera digulirkan dalam program MTU, mengingat tingginya kebutuhan pasar kuliner.
Menurutnya, siswa akan lebih antusias jika mendapatkan interaksi langsung dalam pelatihan praktik tata boga.
Ia menambahkan, pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari pengabdian di bulan Ramadan melalui transfer ilmu yang diharapkan memberi manfaat jangka panjang.
Sementara itu, Kepala UPT PTKK, Endang Wanarsih, menjelaskan MTU merupakan layanan pelatihan keliling yang membawa peralatan praktik langsung ke sekolah, sehingga siswa dapat merasakan pengalaman belajar berbasis praktik nyata.
“Kegiatan ini meningkatkan akses pembelajaran keterampilan bagi siswa. Dengan sarana yang dibawa MTU, siswa bisa belajar langsung menggunakan peralatan sesuai standar industri,” ujarnya.
Setiap kompetensi diikuti sekitar 30 siswa, sehingga total peserta mencapai 150 orang.
Dalam satu kegiatan, satu kompetensi dapat diikuti siswa dari hingga empat sekolah.
Narasumber berasal dari guru sekolah serta praktisi atau instruktur profesional.
"Pemusatan kegiatan di wilayah Malang dan Batu dipilih karena memiliki fasilitas pendukung yang relatif lengkap sehingga pelaksanaan pelatihan lebih optimal," ujarnya.
Instruktur praktisi Teknik Sepeda Motor (TSM), Widianto, menjelaskan materi yang diberikan masih pada level dasar, meliputi pengenalan mesin, sistem kelistrikan, rangka, serta penggunaan alat ukur yang lazim digunakan di bengkel.
“Targetnya siswa mampu melakukan servis ringan. Materinya selaras dengan yang ada di sekolah, tapi kita perdalam lagi sesuai standar terkini,” jelasnya.
Pelatihan berlangsung selama enam hari, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, dengan kombinasi teori dan praktik.
Peralatan yang digunakan merupakan kolaborasi antara fasilitas sekolah dan unit MTU.