Oleh: KH. Muhammad Muhlasin
PROHABA.CO - Ibadah puasa di bulan suci Ramadhan merupakan satu madrasah untuk mendidik kita, terutama khususnya kaum muslimin dan muslimat, untuk menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mukhlasin - yang ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
Di dalam AlQur’an, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman: Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun, Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian semua untuk beribadah puasa sebagaimana orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.
Dari ayat ini, pertama, Allah memerintahkan kepada orangorang yang beriman.
Artinya, ibadah puasa itu tidak mungkin dikerjakan kecuali oleh orang yang benar-benar beriman kepada Allah.
Oleh karena sebab itu, puasa adalah ibadah yang sirri, ibadah rahasia.
Bisa jadi ketika saat makan sahur kita melaksanakannya bersama, ketika berbuka juga kita melaksanakan bersama-sama.
Tetapi hakikat kita berpuasa tidak ada satu pun yang mengetahuinya, kecuali hanya diri kita dan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karenanya, ibadah puasa benar-benar mendidik kita agar berbuat amal kebajikan apa pun tanpa tendensi, tanpa motivasi lain, tanpa niat selain hanya karena semata-mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baca juga: Ramadhan Bulan untuk Reparasi dan Pembersihan Hati
Lihatlah ketika kita shalat.
Pertama di dalam shalat diawali dengan niat.
Misalnya shalat Magrib, di ujung niat melaksanakan shalat itu hanya karena Allah.
Begitu juga di dalam doa iftitah, kita telah berikrar dengan sesungguhnya kepada Allah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Amal ibadah, amal kebaikan, amal saleh yang dilakukan tidak karena Allah berarti di dalamnya ada unsur syirik, walaupun kategori syiriknya adalah syirikul asghar — syirik yang kecil.
Orang yang melakukan amal kebaikan namun memiliki orientasi bukan karena Allah, hanya ingin mendapatkan pujian, ingin mendapatkan pengakuan, ingin menjadi eksis dalam melakukan amal kebaikan, maka sungguh itu merupakan perbuatan yang sia-sia.
Baca juga: Panggilan Keimanan di Bulan Ramadhan
Berarti orang itu takut dan khawatir jika amal kebaikannya tidak mendapat pengakuan dari orang lain.
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat hadis Imam Bukhari dan Muslim bersabda: Andai kata di antara kalian melakukan amal kebaikan di dalam satu gua yang tidak memiliki pintu dan jendela, tidak ada sedikit pun lubang untuk akses ke dalam ataupun keluar, maka sungguh amal kebaikan itu akan tetap mencari jalannya sebagaimana ketentuan Allah.
Artinya, amal tersebut tetap mendapatkan catatan kebaikan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karenanya, Tribuners yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, marilah melalui ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini kita berproses, kita belajar melakukan amal kebaikan, baik amal sosial maupun amal ritual, yang semuanya kita niatkan hanya mengharap ridha dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang yang berpuasa, kata Rasulullah, tidak sedikit yang tidak mendapatkan sedikit pun amal kebaikan.
Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala di sisi Allah, kecuali hanya mendapatkan lapar dan dahaga, karena berpuasa bukan untuk mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadikan kita manusia-manusia yang ikhlas, manusia-manusia yang beramal hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)
Baca juga: Sabar: Ibadah Sunyi yang Pahalanya Besar
Baca juga: Ramadhan, Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia
Baca juga: 7 Manfaat Pisang Saat Berbuka Puasa, Energi Cepat Pulih dan Jaga Kesehatan Jantung