Laku Baru Bayar, Strategi Pedagang di Babel Jual Daging Jelang Lebaran
Fitriadi March 03, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Perdagangan sapi antarpulau menuju Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyimpan skema bisnis tersendiri.

Sebagian pedagang, khususnya yang bersifat perseorangan, ternyata baru melunasi pembayaran ke produsen setelah sapi tersebut laku terjual di pasar lokal.

Sistem ini menjadi strategi untuk menekan risiko, sekaligus menjaga perputaran modal di tengah tingginya biaya distribusi.

Di kandang sederhana di Parit Lalang, Kecamatan Rangkui, Pangkalpinang, 12 sapi berdiri berjajar diikat pada tiang kayu penyangga. Lantai kandang berupa campuran tanah padat dan semen.

Palung kayu memanjang di bagian depan berisi rumput hijau dan dedaunan kering.

Aroma khas peternakan bercampur tanah lembap tercium menyengat, namun lazim bagi lingkungan kandang.

Pemiliknya, Darlan, peternak asal Madura, mengandalkan pasokan dari luar Pulau Bangka untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Tahun ini, sapi didatangkan dari Lampung dan Bali, didominasi jenis sapi Madura dan sapi Bali.

“Sekarang stok ada 12 ekor. Kebanyakan dari Lampung dan Bali,” ujar Darlan, Minggu (22/2/2026).

Namun, yang menarik bukan sekadar asal ternak, melainkan pola transaksinya.

Darlan mengakui, untuk sebagian pasokan, pembayaran ke produsen tidak selalu dilakukan di muka.

“Ada yang sistemnya dibayar setelah sapi laku. Jadi kita jual dulu di sini, baru uangnya disetor ke pemasok,” katanya.

Skema tersebut dijalankan berdasarkan kepercayaan dan relasi lama dengan pemasok.

Untuk sapi dari perusahaan besar, pembayaran umumnya lebih terstruktur dengan administrasi dan pemeriksaan kesehatan lengkap.

Sementara dari jaringan perorangan, fleksibilitas pembayaran lebih memungkinkan.

Tembus Rp300 Juta

Menurut Darlan, nilai transaksi dalam satu kali pengiriman tidak kecil. Harga sapi bervariasi tergantung ukuran dan bobot.

“Sapi kecil sekitar Rp20 juta, sedang Rp30 juta, besar bisa Rp40 juta per ekor,” jelasnya.

Dalam satu kali angkut menggunakan truk jenis fuso, muatan bisa mencapai 10 hingga 20 ekor sapi.

Jika dirata-ratakan dengan harga sedang, nilai muatan bisa menembus Rp300 juta dalam satu perjalanan.

“Sekali kirim pakai fuso itu bisa Rp300 jutaan. Makanya sistem pembayaran bertahap atau setelah laku itu membantu pedagang,” ujarnya.

Perjalanan pengiriman pun tidak singkat. Sapi dari Lampung, misalnya, dibawa melalui jalur darat menuju pelabuhan di Palembang, kemudian menyeberang ke Mentok sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Pangkalpinang.

Total waktu tempuh bisa tiga hingga empat hari. Sementara pengiriman dari Bali dapat memakan waktu hingga sepekan.

Selama perjalanan, sapi tetap berada di dalam truk. Hewan diikat agar tetap berdiri stabil.

Sopir biasanya berhenti untuk memeriksa kondisi ternak serta memberi minum dan pakan guna mengurangi stres.

“Kalau ada yang sakit atau mati di jalan, kadang ditanggung pemasok, kadang juga kami yang menanggung. Tapi lebih sering kami,” kata Darlan.

Risiko tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan harga jual.

Selain bobot dan kondisi fisik, faktor perjalanan jauh ikut memengaruhi biaya.

“Harga mengikuti berat dan kondisi. Yang penting sehat, cukup umur, dan tidak cacat. Kualitas tetap nomor satu,” ujarnya.

Jelang Idulfitri

Lonjakan pasokan biasanya terjadi menjelang Idulfitri dan Iduladha.

Pedagang lain di Pangkalpinang, Bang Ari, menyebut distribusi menjelang lebaran dikuasai perusahaan besar dari Lampung.

“Sepuluh hari sebelum Idulfitri sampai hari H, ribuan sapi masuk dan ludes terjual,” katanya, Selasa (24/2/2026).

Ia menjelaskan, perusahaan pemasok bisa mendatangkan 500 hingga 800 ekor sapi jenis limosin dan simental pada tahap awal, lalu menambah hingga total sekitar 1.000 ekor dalam dua pekan.

Berbeda dengan pedagang lokal, perusahaan besar umumnya memotong sapi terlebih dahulu sebelum didistribusikan ke pasar tradisional.

Pedagang pasar tidak membeli sapi utuh, melainkan menerima daging sesuai kebutuhan.

“Sapi satu ton bisa untuk enam pedagang pasar. Mereka sudah punya tukang jagal dan sistem bagi sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, pedagang seperti Darlan lebih fokus pada penjualan per ekor, terutama untuk kebutuhan kurban.

Menurutnya, pola konsumsi Idulfitri dan Iduladha berbeda.

“Kalau Idulfitri orang beli per kilo. Kalau kurban beli satu ekor utuh,” katanya.

Keterbatasan populasi sapi lokal di Bangka Belitung membuat ketergantungan pada pasokan luar daerah sulit dihindari.

Peternakan skala besar masih minim, sehingga pedagang harus mengambil risiko distribusi jarak jauh.

Meski sistem pembayaran setelah laku terjual membantu arus kas, beban modal tetap besar.

Dalam kondisi tertentu, pedagang harus menyiapkan dana ratusan juta rupiah untuk menjamin kelancaran pasokan.

“Perjalanan jauh dan modal besar itu tantangan. Tapi kalau jaringan sudah kuat dan sapi cepat laku, perputarannya tetap jalan,” ujar Darlan.

Dengan stok awal 12 ekor, ia memperkirakan jumlahnya akan bertambah hingga 50 ekor menjelang Iduladha.

Skema dagang berbasis kepercayaan dengan produsen pun tetap dipertahankan sebagai strategi bertahan di tengah tingginya biaya distribusi antarpulau. (x1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.