Kebakaran Rita Pasaraya Cilacap Hanguskan Rumah dan Bisnis Cahyanto, Kini Tunggu Tanggung Jawab
khoirul muzaki March 03, 2026 03:30 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Kebakaran hebat yang melanda Rita Pasaraya Cilacap, Selasa (3/2/2026) lalu, tidak hanya merusak bangunan pusat perbelanjaan, tetapi juga merembet ke rumah warga hingga menghanguskan tempat tinggal dan usaha milik Cahyanto.


Cahyanto menceritakan malam kejadian bermula dari rutinitas biasa saat ia menutup toko sekitar pukul 21.30 WIB dan beristirahat di kamar bersama istrinya.


“Jam 10 lewat lima itu mulai tercium bau kebakaran, saya kira ada yang bakar sampah seperti biasanya,” ujar Cahyanto, Selasa (3/3/2026).


Ia sempat bertanya kepada istrinya dan pegawai di bawah rumah soal bau tersebut sebelum akhirnya keluar rumah dan mendapati asap putih sudah memenuhi jalan.


“Keluar cuma pakai kaos sama celana pendek, di luar sudah penuh asap putih, jalan sampai gelap,” katanya.


Cahyanto mengaku sempat mondar-mandir memantau kondisi dari dalam rumah karena belum terlihat kobaran api di bagian depan bangunan Rita.


“Waktu saya lihat ke parkiran dan atap puja sera, belum ada api sama sekali,” tuturnya.


Sekitar pukul 22.15 WIB mobil pemadam kebakaran sudah tiba di lokasi, namun belum bisa langsung melakukan penyemprotan karena aliran listrik belum dipadamkan.


“Damkar sudah datang cepat, tapi listrik masih nyala sampai sekitar jam setengah sebelas,” jelasnya.

Baca juga: Total Kekayaan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang Dilaporkan KPK


Pada pukul 23.00 WIB, istrinya meminta agar mobil yang diparkir di garasi segera dikeluarkan karena situasi semakin mencekam.


“Saya pindahkan mobil ke parkiran Rita, waktu itu di luar belum ada api tapi di dalam sudah terlihat api,” katanya.


Setelah kembali ke rumah dan duduk di meja makan yang menghadap ke arah Rita, Cahyanto menyaksikan langsung semburan api besar sekitar pukul 23.15 WIB.


“Tiba-tiba ada semburan api seperti kompor, keras sekali, dalam setengah menit kaca-kaca pecah,” ungkapnya.


Ia mengaku langsung syok dan linglung karena api dengan cepat menyambar bagian atap rumahnya.


“Dari jam 11.15 sampai 11.25 itu cepat sekali, pertama kena atap rumah saya,” ucapnya.


Dalam kondisi kaki yang pernah patah serta istrinya yang tidak sehat, Cahyanto memilih menyelamatkan diri lewat bagian belakang rumah.


“Kami berdua tidak memungkinkan menyelamatkan barang, yang penting selamat dulu,” katanya.


Ia menyebut dalam waktu sekitar 10 menit kobaran api sudah membesar dan merambat, hingga akhirnya rumahnya habis terbakar.


“Saya bilang waktu itu, wah ini habis rumah saya,” ujarnya.


Meski demikian, ia menilai petugas pemadam kebakaran sudah bekerja sigap untuk mencegah api merambat ke permukiman.


“Damkar itu cukup sigap, mereka juga menjebol bagian belakang rumah saya supaya api tidak merambat ke kampung,” jelasnya.


Akibat kebakaran Rita Pasaraya tersebut, Cahyanto kehilangan tiga hal sekaligus yakni rumah tinggal, harta benda, dan tempat usaha yang sedang ia siapkan untuk anaknya.


“Saya kehilangan rumah, kehilangan harta benda, sama kehilangan tempat usaha, sekarang tidak punya apa-apa,” tuturnya.


Sudah satu bulan kebakaran berlangsung, Cahyanto mengungkapkan, telah berulang kali mencoba menemui manajemen Rita Pasaraya sejak 5 Februari untuk meminta kejelasan.


“Tanggal 5 saya ketemu Pak Ahmad, tanggal 7 ketemu Pak Alvin, dua-duanya minta nomor saya tapi tidak ada tindak lanjut,” katanya.


Cahyanto juga mendatangi kediaman pemilik Rita yang berada di Purwokerto, untuk menyampaikan pesan dan video, namun tidak berhasil bertemu secara langsung.


“Saya titip video dan nomor WA, tapi tidak pernah dihubungi,” ujarnya.


Ia kembali mencoba prosedur dari bawah dengan mendatangi security hingga akhirnya bertemu manajer pada 21 Februari.


“Setiap ketemu saya cuma minta dua, tanggung jawab dan empati,” tegasnya.


Menurut Cahyanto, jawaban yang diterimanya hanya bahwa kebakaran tersebut adalah musibah yang sama-sama dialami.


“Yang saya dengar cuma sama-sama kena musibah,” pungkasnya.


Menutup ceritanya, Cahyanto berharap ada itikad baik dan empati nyata dari pihak pengelola Rita Pasaraya atas musibah yang dialaminya.


“Saya tidak menuntut macam-macam, saya cuma ingin empati sebagai sesama manusia dan kejelasan tanggung jawab,” ujar Cahyanto.


Ia berharap pihak manajemen tidak hanya menyebut kebakaran sebagai musibah, tetapi juga hadir memberi solusi bagi warga dan tenant yang terdampak langsung.


“Kalau hanya dibilang musibah, lalu kami yang kehilangan rumah dan usaha ini bagaimana,” katanya.


Cahyanto juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terkait sistem keamanan gedung, apalagi sudah 50 tahun ia tinggal di rumah tersebut namun tidak ada kejadian seperti itu.


Ia berharap ke depan ada kejelasan soal standar keselamatan, termasuk fungsi bangunan yang dialihfungsikan dan sistem deteksi dini kebakaran.


“Saya cuma berharap kejadian seperti ini tidak terulang dan tidak ada korban lain yang kehilangan segalanya seperti kami,” pungkasnya. (ray)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.