Pernah melihat orang yang ditagih utang lebih galak dari si penagih? Atau bahkan detikers pernah mengalaminya sendiri?
Ya, fenomena tersebut memang sering terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hal demikian ternyata dapat dijelaskan secara biologis dan juga psikologis. Rasa marah ini bukan muncul karena direncanakan, melainkan di dalam diri orang yang ditagih hutang ada ledakan emosi yang tak disengaja.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University yang juga seorang psikiater, dr Riati Sri Hartini, SpKj, MSc mengatakan bahwa respons tersebut dipicu oleh stres finansial dan ancaman harga diri.
"Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun," ujar dr Riati, dikutip dari IPB University pada Selasa (3/3/2026).
Otak Mendeteksi 'Ancaman' saat Ada yang Menagih
Secara biologis, kata dr Riati, tekanan ditagih utang bisa mengaktifkan amigdala, yakni bagian otak yang berfungsi sebagai pusat deteksi ancaman. Kondisi ini juga mengikis peran dari yang bertugas untuk mengukur rasionalitas dan pengendalian emosi.
"Kondisi ini membuat otak masuk ke mode fight or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif," jelasnya.
Jadi, dapat dikatakan jika respons marah atau galak saat ditagih hutang bukan semata-mata karena sikap seseorang. Hal tersebut muncul karena dipicu oleh faktor biologis dan psikologis, yang menimbulkan rasa malu, stres, dan ancaman identitas diri karena tertekan oleh kondisi finansial.
Kendati demikian, fenomena ini tidak bisa dikaitkan dengan gangguan jiwa, karena keduanya berbeda.
Galak saat Ditagih Utang Termasuk Respons Stres Akut
Sikap galak dan marah saat ditagih hutang termasuk dalam respons stres akut atau (acute stress response). Kondisi ini membuat tubuh dan otak bereaksi normal saat menerima ancaman secara tiba-tiba.
Reaksi serupa juga dapat terjadi karena seseorang merasa terancam secara psikologis. Misalnya, rasa frustrasi karena kegagalan, menghadapi konflik interpersonal yang dalam, hingga kelelahan akibat kurang tidur.
dr Riati menjelaskan bahwa stres finansial karena utang, dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan. Namun, hal tersebut hanyalah salah satu faktor pemicu dan bukannya penyebab utama timbulnya gangguan mental.
"Penyebab gangguan mental bersifat multifaktor, melibatkan aspek biologis, ekonomi, sosial, dan psikologis," tuturnya.
Reaksi seseorang saat ditagih utang ternyata dipengaruhi oleh siapa yang menagihnya. Biasanya orang yang ditagih cenderung merasa malu dan tersinggung jika yang menagih adalah orang dekatnya. Hal ini terjadi karena harga diri orang tersebut merasa direndahkan.
Sementara jika penagih utang yang datang seorang debt collector misalnya, orang yang ditagih akan merasa terancam sehingga menyulut emosi yang berapi-api.
"Meski sama-sama tampak galak, keduanya bukan tanda gangguan jiwa," tandasnya.
Respons yang Wajar?
Menurut dr Riati, respons marah dan galak saat ditagih utang adalah hal yang wajar dan normal terjadi. Itulah mengapa sikap tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok gangguan jiwa.
Sebab, masalah keuangan memang bisa membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi stres. Kemudian ketika ditagih, muncul perasaan malu, takut, dan terpojok bisa muncul bersamaan, sehingga orang bereaksi dengan emosi tinggi.
"Ini lebih mirip refleks orang yang kaget, bukan karena sakit jiwa," tuturnya.
Meski begitu, perasaan marah yang muncul pada waktu-waktu tertentu, seperti saat ditagih utang, termasuk dalam stres yang normal. Namun, perlu diwaspadai bila rasa marah terus berlanjut dan semakin tidak terkendali lagi.
Hal ini semakin berbahaya jika disertai dengan gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, atau bahkan perilaku berisiko yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Cara yang Tepat untuk Meredam Rasa Marah
Untuk menghadapi orang yang galak saat ditagih utang, dr Riati menyarankan, sebaiknya tidak membuatnya merasa tertekan.
"Biasanya mereka bukan ingin mencari keributan, tetapi sedang tertekan dan kewalahan. Pendekatan yang lebih baik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada pelan, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama," jelasnya.
Ia menyimpulkan bahwa pendekatan dengan cara yang tenang akan menurunkan emosi dalam percakapan, sehingga orang yang ditagih utang dapat berpikir rasional.
"Intinya, orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin besar," pungkasnya.







