Sahur berdarah terjadi di Bekasi. Pasutri diduga jadi korban perampokan yang berujung kematian. Suami meninggal, istri masuk rumah sakit.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Tragis betul nasib EU (65) dan PW (60). Pasangan suami istri itu menjadi korban dugaan perampokan di waktu sahur. Sang suami meninggal dunia, sementara sang istri terluka parah.
Kejadian terjadi pada Senin, 2 Maret 2025, dini hari, di sebuah rumah di Perumahan Prima Lingkar Asri Blok B4 No 14, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi. Menurut polisi, motif sementara adalah perampokan.
Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, anak bungsu korban berinisial DNA terakhir berinteraksi dengan kedua orang tuanya sekitar pukul 22.00 WIB. "Anak korban tidak mendengar suara keriuhan. Yang bersangkutan tidur jam 1 dan itu belum ada suara-suara. Dan masih bertemu sama orang tuanya itu di jam 10," ungkap Andi saat ditemui di TKP, Senin.
Peristiwa berdarah itu pertama kali diketahui ketika DNA terbangun untuk sahur. Biasanya ibunya akan membangunkannya sekitar pukul 03.00 WIB.
Tapi pagi itu, tidak ada yang membangunkannya. Alarm DNA kemudian berbunyi sekitar pukul 04.15 WIB. Merasa sudah mendekati waktu imsak, DNA turun ke lantai bawah untuk membangunkan ibunya.
"Akhirnya korban inisiatif ke lantai bawah membangunkan ibunya. Di situ tidak ada jawaban. Yang terdengar suara seperti orang suara mendengkur," ujar Andi.
DNA yang panik kemudian berusaha meminta pertolongan. "Anak korban kaget, panik, kemudian meminta tolong ke warga tapi enggak ada siapa-siapa di sini. Sehingga korban menghubungi keluarganya," kata Andi.
Tak lama berselang, keluarga korban sampai ke TKP. Mereka membuka paksa kaca jendela karena sulit mengakses pintu masuk. "Kemudian keluarganya datang dan kaca dibuka paksa. Di situ dilihatlah korban sudah tergeletak kedua-duanya," ujar Andi.
Mereka kemudian menemukan EU di atas kasur dalam kondisi bersimbah darah, sedangkan PW tergeletak di lantai kamar. "Berdasarkan dokter rumah sakit, ada pukulan benda tumpul di belakang kepala. Untuk sementara benda tumpul ya, karena tidak ada bekas benda tajam di luka," kata Andi.
Menurut dugaan polisi, peristiwa tersebut mengarah pada tindak perampokan, meski motif pastinya masih didalami. "Masih dalam lidik, kami belum bisa menyimpulkan saat ini. Tapi yang disampaikan anak korban, gelang emas di tangan ibunya hilang, kunci mobil dua-duanya hilang," ujar Andi.
Yang aneh, dua unit mobil korban diketahui masih terparkir di garasi. Dengan alat pengisi daya mobil listrik juga masih terpasang.
Untuk membongkar motif, Direktorat Polisi Satwa menurunkan anjing pelacak (K-9) untuk menyisir lokasi. Berdasarkan pantauan di lapangan, anjing tersebut menyusuri area dalam rumah hingga ke Jalan Raya Kalimalang yang berbatasan langsung dengan pagar depan rumah korban.
Sekitar 20–30 meter dari rumah, anjing berhenti di bangunan bekas tempat pencucian motor yang kini menjadi lokasi penampungan rongsokan. Namun, selama kurang lebih 15 menit penyisiran, tidak terlihat reaksi signifikan.
Polisi sempat meminta keterangan dari tiga pegawai di lokasi tersebut sebelum anjing pelacak kembali ke rumah korban.
Hasil olah TKP menunjukkan pelaku diduga masuk melalui jendela rumah pada dini hari. "Untuk tersangka kami cek tadi dari olah TKP masuknya lewat jendela. Jadi jendela dirusak yang di pojok sana (depan rumah)," ujar Andi.
Mereka juga diduga memanjat pagar depan rumah yang berbatasan dengan lahan kosong dekat Jalan Raya Kalimalang. Dugaan itu diperkuat dengan temuan bekas jejak kaki di pagar.
"Jadi kemungkinan besar dari tembok di depan, kemudian langsung memanjat ke pintu pagar rumah. Depannya ini lahan kosong," ujar Andi. "Untuk jumlah pelaku belum bisa kami sebutkan. Kemungkinan besar pelaku lebih dari satu. Tapi masih dalam proses untuk memastikan.”
Yang bakal bikin lumayan ruwet, rumah korban diketahui tidak dilengkapi CCTV. Polisi kini memeriksa rekaman kamera pengawas milik warga sekitar.
"Untuk barang bukti saat ini kami mengamankan seprei yang ada darahnya, serta yang ada indikasi," kata Andi.
Menurut kesaksian tetangga korban, Samuel Pasaribu, DNA sempat berlari ke masjid untuk meminta pertolongan warga. "Anaknya ke masjid memanggil warga. Terus ramai di sini baru saya keluar. Setelah itu saya langsung melihat ke dalam," ujar Samuel.
Dia mengaku tidak mendengar suara mencurigakan pada malam kejadian. "Saya enggak dengar apa-apa. Enggak ada suara gaduh. Anaknya juga enggak dengar, dan turun karena mau sahur," katanya.
Dia juga mengaku sempat melihat kedua korban masih hidup sebelum dilarikan ke rumah sakit. Namun EU akhirnya meninggal dunia. “Sempat diberikan tindakan di rumah sakit, tapi sayangnya tidak tertolong," ujarnya.
Sementara itu, Samuel mengatakan kondisi PW kini masih menjalani perawatan intensif. "Kalau istrinya sampai sekarang hidup, tadi sempat dioperasi. Korban dibawa ke rumah sakit sama warga, keluarga, dan anak-anaknya," kata Samuel.
Dia juga sempat melihat luka di bagian mulut dan belakang kepala korban. "Korban di mulutnya keluar darah, terus dari belakang kepalanya juga keluar darah. Itu saja sih yang kelihatan," ujarnya.
Samuel menyebut kompleks perumahan selama ini dikenal aman karena menerapkan sistem satu pintu (one gate system). Namun, peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi warga. "Mungkin ini jadi celah juga ternyata," katanya.
Dia berencana mengusulkan peninggian tembok pembatas yang mengarah ke Kalimalang serta pemasangan kawat berduri. "Kami akan minta tembok depan ini ditinggikan dan di atasnya dipasang kawat berduri di sepanjang tembok ini," ujarnya.
Samuel mengatakan jenazah EU telah dimakamkan di TPU BRI Jakasampurna pada Senin malam. Setelah sebelumnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan otopsi dan visum.
"Sudah diputuskan oleh keluarga, korban dimakamkan di TPU BRI depan Kota Bintang. Jenazahnya dibawa ke rumah dan disalatkan di masjid kompleks," ungkap Samuel.
Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penyelidikan. Penanganan melibatkan Polsek Pondok Gede, Polres Metro Bekasi Kota, serta Jatanras Polda Metro Jaya untuk mengungkap pelaku dan motif kejadian.