Hasil RDP, Ketua Komisi II DPRD Tarakan Simon Minta Prosedur Pengaduan Keluhan soal MBG Diperbaiki
Junisah March 03, 2026 06:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Hasil pertemuan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Tarakan yang dipimpin Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Simon Patino, salah satunya prosedur pengaduan keluhan MBG yang harus diperbaiki. 

Dikatakan Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Simon Patino, selama ini informasi keluhan dari orang tua disampaikan lewat media sosial. Ia melihat ada yang harus diperbaiki salah satunya kejelasan prosedur pengaduan.

"Nah pertemuan ini kita bagaimana orang tua itu bila melaporkan ada prosedur. Nah prosedur itu dari BGN itu sudah ada. Tapi belum atau tidak terpublish," ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Sehingga prosedur pengaduan keluhan ini lanjutnya harus juga disampaikan kepada orang tua. Bagaimana cara yang benar untuk menyampaikan keluhan-keluhan tentang MBG. 

Baca juga: Jawab Keluhan Warga soal Menu MBG, Jakson Sebut Bukan Cari Keuntungan tapi Berani Ambil Risiko 

"Salah satunya, orang tua harus bicara melalui langsung ke sekolah. Melalui PIC. Nanti PIC menyampaikan MBG. Apabila keluhan bungkusan atau keluhan dengan makanan yang kurang baik atau merasa harganya kurang cocok. Nanti itu disampaikan langsung ke dapur SPPG. Saya kira itu," beber Simon Patino.

Menanggapi persoalan penyampaian pihak mitra BGN bahwa perlu pelibatan pemerintah untuk membantu menyiapkan kebutuhan pasokan. Dimana SPPG melaporkan ada keterbatasan untuk mendapatkan pasokan termasuk pendukung misalnya mika, wadah yang lebih baik  dibandingkan menggunakan plastik stoknya terbatas.

"Itu yang perlu dicatat. Tapi dengan informasi keterbatasan tadi, tidak berpengaruh sama kualitas makanan. Artinya kalau keterbatasan makanan berarti variasi saja yang kurang. Nah mereka minta DPRD untuk memfasilitasi berkoordinasi sama DKUKMP," terangnya.

Ini untuk mencari  solusi mengatasi kekurangan-kekurangan bahan yang mereka alami. 

"Juga fasilitas kualitas makanan misalkan bungkusan mika atau vakum makanan. Nah ini yang tidak ada di Tarakan. Sehingga mereka menggunakan kantong plastik kiluan. Tapi itu semua dilakukan bukan disengaja. Karena kondisi," paparnya.

Baca juga: Breaking News, DPRD Tarakan Kembali Panggil SPPG Bahas soal MBG

Yang jelas persoalan ini belum selesai. Masih akan melibatkan lagi pemerintah untuk fasilitasi kebutuhan pangannya.

Seperti diketahui, akson mewaliki SPPG Juata Kerikil, menyampaikan penggunaan kemasan plastik gula atau plastik kiloan adalah keterpaksaan dikarenakan plastik vacum tak tersedia di Tarakan.

"Mengenai penyajian bahan plastik. Kami juga mohon  bapak idewan panggil dinas terkait untuk bantu fasilitasi sediakan bahan MBG. Ketika diambil beberapa  dapur, maka dapur  yang lain tidak kebagian. Makanya mereka tidak dapat plastik vacum, makanya kasih plastik kiloan dan itu kemarin sudah disetujui kepala  SPPG," ujarnya.

Ia menambahkab bahwa memang saat ini persoalan yang dihadapi SPPG adalah kendala kekurangan bahan pangan. Ia juga menegaskan bahwa jika ada ,UMKM, kelompok tani dan nelayan direkomendasikan, maka bisa diupayakan kerja sama.

"Justru sekarang petani, kami juga berusaha kerja sama dengan para petani nelayan. Karena kan menu-menu yang akan disajikan itu kan sesuai standar ya. Seperti nelayan kan banding tanpa duri, ikan-ikan yang disukai anak-anak lah, ya kan. Sesuai dengan harga yang ditentukan," ungkapnya.

Untuk buah jadi catatan, karena buah masih terbatas ditanam di Tarakan dan andalkan dari luar.

"Kita kan buah di sekitar terbatas. Jadi kalau pun ada yang komplain tentang buah pisang, pisang terus, ya karena nemang itu yang ada. Kita kasih anggur, enggak ada. Kita kasih yang lain-lain juga enggak ada. Apel, enggak ada. Dan mahal, tidak sesuai dengan harga," tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.