TRIBUN-TIMUR.COM - PSM Makassar menghadapi situasi kian berat pada pekan ke-24 Super League 2025/2026.
Tim Juku Eja kalah 2-4 dari Persita Tangerang di Stadion BJ Habibie, Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (23/2/2026) malam.
Kekalahan tersebut membuat Juku Eja semakin dekat dengan zona degradasi. PSM kini berada di peringkat 13 dengan 23 poin, terpaut lima poin dari PSBS Biak sebagai penghuni teratas zona merah.
Masalah PSM belum usai. Sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI membayangi.
Usai peluit panjang dibunyikan, sejumlah suporter masuk ke lapangan. Mereka meminta penjelasan kepada manajemen, tim pelatih, dan pemain atas rentetan hasil negatif.
Selain itu, suporter juga menyalakan flare dan petasan di dalam stadion.
Aksi masuk lapangan serta penyalaan flare dan petasan termasuk pelanggaran.
Ketentuan ini diatur dalam Pasal 53 Ayat 1 Regulasi Super League 2025/2026.
Dalam aturan tersebut disebutkan penggunaan flare, kembang api, bom asap, peluit, laser, mercon, dan alat yang menimbulkan kebisingan dapat dikenakan sanksi sesuai Kode Disiplin PSSI.
Ketentuan ini diperkuat dalam Pasal 70 Ayat 1 dan Ayat 2 Kode Disiplin PSSI 2025.
Disebutkan, tingkah laku buruk penonton merupakan pelanggaran disiplin dan klub tuan rumah bertanggung jawab atas tindakan tersebut.
Berdasarkan regulasi, PSM Makassar menjadi penanggung jawab atas tindakan suporter.
Sanksi denda minimal Rp120 juta berpotensi dijatuhkan.
Hal ini merujuk pada Lampiran 1 Poin 5 Kode Disiplin PSSI 2025.
Penggunaan flare dan petasan dikenakan sanksi minimal Rp60 juta.
Sementara masuk lapangan tanpa izin perangkat pertandingan juga dikenakan Rp60 juta.
Sanksi bisa bertambah karena dua pelanggaran berbeda terjadi dalam satu pertandingan.
Aksi serupa juga tercatat sudah tiga kali terjadi di stadion berkapasitas 8.547 penonton itu, yakni saat melawan Madura United, Semen Padang, dan Persita Tangerang.
PSM juga berpotensi mendapat hukuman larangan bermain satu laga kandang tanpa penonton atau penutupan sebagian stadion disertai denda Rp30 juta.
Jika sanksi itu dijatuhkan, PSM tentu dirugikan.
PSM membutuhkan dukungan penuh untuk keluar dari tekanan degradasi.
Pengamat sepak bola Imran Amirullah menilai PSM saat ini membutuhkan dukungan, bukan tambahan masalah.
“Bukan saya menyalahkan, tapi paling tidak akan menjadi kerugian kan akhirnya. Tadinya kita butuh supportnya mereka, tapi akhirnya menjadi bumerang buat tim kita sendiri. Kenapa? Akhirnya kena denda,” katanya kepada Tribun-Timur.com, Selasa (3/3/2026).
Imran meminta suporter lebih bijak. Ia menegaskan tidak ada pemain yang ingin kalah.
“Bagaimana caranya mendewasakan semua juga suporter untuk menerima ketika kalah, ketika menang harus mereka tetap didukung,” ujar mantan pemain Timnas Indonesia itu.
Ia menyarankan manajemen, pelatih, pemain, dan suporter duduk bersama untuk berdialog secara terbuka.
Hal serupa pernah dilakukan saat ia menjadi asisten pelatih PSM Makassar di era Robert Rene Alberts.
“Jadi itulah yang mesti kita komunikasikan lebih bagus. Diundang suporter, pemain, pelatih minta penjelasan kenapa bisa seperti ini,” ucapnya. (*)