Camat Bergerak usai Instruksi Wali Kota, Perang Tembak Jelly di Makassar Jadi Sorotan
Ansar March 04, 2026 04:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Instruksi tegas Wali Kota Makassar terkait maraknya aksi perang-perangan menggunakan senjata mainan berpeluru jeli langsung ditindaklanjuti jajaran kecamatan.

Aktivitas anak-anak dan remaja yang bermain tembak jeli di jalanan dinilai sudah melewati batas.

Selain meresahkan, aksi tersebut juga berpotensi memicu kecelakaan dan gangguan kamtibmas.

Bontoala Siapkan Tiga Langkah

Camat Bontoala, Patahulla, menyebutkan ada tiga langkah konkret yang akan ditempuh di wilayahnya.

Pertama, mengintensifkan patroli rutin bersama unsur Tripika (kecamatan, Polsek, Koramil), lurah, serta Satpol PP.

Patroli difokuskan pada titik-titik yang kerap dijadikan lokasi berkumpulnya remaja pada malam hari.

Langkah ini untuk mengantisipasi penggunaan senjata mainan yang bisa memicu keresahan warga.

Kedua, mengaktifkan kembali posko keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tingkat RT/RW.

Ketua RT dan RW diminta meningkatkan patroli lingkungan, khususnya selepas salat tarawih hingga larut malam.

Jika ditemukan aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan, diminta segera berkoordinasi dengan Polsek, Koramil, maupun Satpol PP untuk pembinaan atau penindakan.

“Jika ditemukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan, segera koordinasikan dengan pihak terkait agar bisa ditindaklanjuti,” ujar Patahulla, Selasa (3/3/2026).

Ketiga, lurah bersama RT/RW akan menyampaikan imbauan persuasif kepada masyarakat, termasuk melalui Safari Ramadan dan penyampaian pesan kamtibmas di masjid-masjid.

Orang tua diminta lebih ketat mengawasi anak-anaknya dan tidak membiarkan mereka bermain tembak jeli hingga larut malam.

Mamajang Kumpulkan Lurah

Hal serupa dilakukan Camat Mamajang, M Rizal.

Ia telah mengumpulkan seluruh lurah untuk membahas fenomena tembak jeli yang belakangan viral di media sosial.

Penekanan diberikan kepada RT dan RW agar aktif melakukan patroli wilayah.

“Ketika didapati anak-anak berkumpul, segera dibubarkan agar mereka tidak melakukan aksi-aksi yang membuat warga merasa terganggu,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan persuasif tetap diutamakan, namun pembubaran akan dilakukan jika aktivitas dinilai berpotensi memicu konflik atau membahayakan pengguna jalan.

Wali Kota: Jangan Dianggap Main-Main

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan persoalan ini tidak bisa dianggap sekadar permainan anak-anak.

Ia menyoroti penggunaan senjata mainan tersebut yang kerap dilakukan sambil berkendara motor di jalan raya.

“Saya minta persoalan ini jangan dianggap main-main. Kadang-kadang sudah berlebihan, dipakai di atas motor tembak-tembak dari atas motor,” ujarnya di Balaikota Makassar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Senin (2/3).

Menurutnya, aksi tersebut berisiko tinggi dan bisa mencelakakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Munafri juga mengaku telah berkoordinasi dengan Polrestabes Makassar untuk mencari solusi dan langkah tegas.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Bapak Kapolrestabes untuk menyelesaikan persoalan ini,” tegasnya.

Potensi Pelanggaran dan Risiko

Sebagai informasi, penggunaan senjata mainan berpeluru jeli di ruang publik dapat dijerat dengan aturan ketertiban umum apabila menimbulkan keresahan atau membahayakan orang lain.

Selain risiko luka pada mata dan wajah, aksi konvoi sambil menembak juga berpotensi melanggar aturan lalu lintas.

Pemerintah kecamatan berharap keterlibatan orang tua dan masyarakat menjadi kunci utama pencegahan.

Upaya ini diharapkan mampu menekan aksi perang tembak jeli yang belakangan makin marak, terutama pada malam hari selama Ramadan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.