Ibu dan Peperangan
Ansar March 04, 2026 04:22 AM

Oleh: Tutik Sutiawati
Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo”

SAYA ini seorang Ibu.

Sekolah pun tak tinggi.

Bukan ahli politik, bukan pengamat militer.

Karena ternyata, perang yang terjadi jauh di sana aromanya bisa terasa sampai ke dapur rumah kita.

Dunia sedang tidak baik baik saja

Di beberapa belahan bumi, suara ledakan bukan lagi cerita film.

Di Asia Selatan, Afganistan harus bersiap menghadapi ancaman dari Pakistan.

Di Eropa Timur, Ukraina masih bertahan menghadapi serangan dari Rusia.

Dan yang paling memuat saya merinding adalah kabar dari Timur Tengah.

Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat semakin terbuka.

Sabtu kemarin, 28 Februari, eskalasi terjadi.

Serangan dilaporkan menghantam wilayah Ibu Kota Teheran dan beberapa kota lain.

Infrastruktur rusak. Korban berjatuhan.

Bandara ditutup. Penerbangan dibatalkan.

Jamaah Umroh dari Indonesiapun ikut berdampak, tertahan karena jalur penerbangan terganggu.

Perang memang selalu begitu.

Selalu menimbulkan kecemasan.

Tidak pernah hanya soal tentara dan senjata.

Selalu ada rakyat kecil yang ikut menanggung akibatnya.

Baru belakangan ini belajar tentang geopolitik.

Awalnya cuma karena penasaran.

Tapi makin dibaca makin terasa dekat.

Pernyataan Yusuf Kalla bahwa perang Iran-Israel berpotensi membuat harga BBM di Indonesia sulit dan mahal bukanlah alarm kosong.

Dalam perspektif ekonomi politik global, konflik di kawasan penghasil energi memang hampir selalu berdampak volatilitas harga minyak mentah.

Kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan ongkos distribusi, yang pada akhirnya mendorong harga beras, sembako, dan kebutuhan pokok lainnya.

Beban terbesar hampir selalu jatuh pada kelompok rentan.

Sebagai ibu, saya tidak bisa mengontrol konflik antara Iran dan Israel.

Kita memang tidak memiliki kendali atas keputusan perang dan damai para pemimpin dunia.

Kita tidak berada di ruang negosiasi internasional.

Namun kita memiliki kendali atas ruang yng lebih kecil, tapi tidak kalah strategis, yaitu keluarga.

Pertanyaannya, apakah kita sudah siap menghadapi ketidakpastian global?

Takut itu manusiawi.

Sayapun takut. 

Takut harga kebutuhan melonjak.

Takut ekonomi goyah.

Takut masa depan anak- anak jadi lebih berat dari hari ini.

Tapi kemudian sadar akan satu hal, panik tidak menyelesaikan apa- apa.

Daripada sibuk menebak-nebak arah politik dunia, mungkin lebih baik kita sibuk memperkuat isi rumah.

Rumah bukan sekedar bangunan.

Rumah adalah tempat anak-anak merasa aman baik secara fisik maupun emosionl.

Kalau sistem keluarga runtuh, ibaratnya jantung yang kehilangan aliran darah.

Teringat pesan Buya Hamka, bahwa kekuatan ummat dimulai dari rumah.

Jika perempuan runtuh secara iman dan akhlak maka generasi runtuh bahkan sebelum medan perang dimulai.

Kalimatnya sederhana tapi dalam sekali.

Di negara manapun, tidak ada ibu yang ingin perang.

Kami para ibu hanya bisa cemas dalam diam. Berdoa lebih lama.

Memeluk anak-anak lebih erat.

Karena dibalik semua perbedaan agama, bangsa, dan bahasa, ibu di Iran, Ibu di Palestina, Ibu di Ukraina, Ibu di Indonesia semuannya sama.

Kami hanya ingin anak-anak tumbuh tanpa rasa takut.

Pendidikan anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke sekolah.

Ibu harus cukup ilmu untuk mendampingi.

Minimal mengerti apa yang mereka pelajari, tahu bagaimana membimbing mereka berpikir kritis, dan bisa mengajarkan nilai-nilai dasar tentang kemanusiaan.

Anak-anak kita tumbuh dengan gawai di tangan.

Informasi datang tanpa saringan.

Kalau ibu tidak belajar, siapa yang akan membantu mereka memilah mana yang benar, mana yang propaganda.

Kita tidak tahu apakah perang akan membesar atau mereda atau peta politik dunia akan berubah. Kita belum tahu.

Yang sebaiknya yang dilakukan sekarang adalah membangun optimisme sebagai strategi untuk bertahan.

Bukan berarti menutup mata dari bahaya.

Di zaman penuh kepastian, yang bertahan bukan selalu yang paling kuat secara fisik.

Tapi yang paling kuat menjaga iman, akal sehat, dan solidaritas.

Kalau perang benar-benar datang, entah dalam bentuk krisis ekonomi atau kekacauan sosial, kita ingin anak-anak tetap punya satu tempat yang tidak runtuh yaitu rumahnya.

Perempuan bukan penonton sejarah. Ibu adalah arsitek generasi.

Ia mungkin tidak tercatat dalam dokumen perjanjian damai, tapi kontribusinya menentukan arah masa depan.

Peperangan mungkin mengguncang dunia.

Namun selama rumah-rumah tetap dijaga dengan ilmu, iman, dan kasih sayang, harapan akan selalu memiliki tempat untuk tumbuh.

Kita hanya bisa menanti dalam ketidakpastian yang mencekam.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.