TRIBUNWOW.COM - Udara sejuk khas pedesaan menyelimuti suasana di pagi hari Muhammad Nuruddin (31).
Hamparan sawah membentang mengelilingi rumah impian Muhammad Nuruddin yang belum genap satu tahun dihuninya.
Kicauan burung yang hinggapi pepohonan rindang di sekitar rumahnya jadi teman setia kala matahari hendak menyapa.
Seraya mengeluarkan motor, pria yang akrab disapa Dindun itu nampak terlihat menikmati hidup slow living di desa, tepatnya di Perumahan Duta Bangsa Residence, Desa Ngaglik, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.
Sementara itu, di ruang tamu, sang istri, Widi Astuti, 27 tahun, terlihat dengan cekatan menyiapkan perlengkapan sang suami.
Begitu rutinitas hidup slow living kesehariannya sebagai ibu rumah tangga.
Selain menjadi ibu rumah tangga, Widi juga turut aktif menjadi satu di antara pegiat Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Di mana, Widi turut membantu sang suami memproduksi cover Al-Quran berbahan dasar kain.
"Berangkat kerja itu sekitar jam setengah 8. Saya itu kerja sampai jam 5 sore, dan istri itu di rumah dan istri itu sebenarnya full ibu rumah tangga. Hanya saja, kita berdua itu punya sampingan, sampingan usaha di offline juga ada, di online juga ada."
"Di offlinenya, kan punya bisnis sampingan, usaha sendiri sampingan itu kayak cover Al-Quran gitu. Saya kerja, istri di rumah, urus rumah dan anak, tapi juga kadang juga aktif membantu pemasaran via online. Seperti itu, jadi saling support satu sama lain." kata Muhammad Nuruddin kepada TribunWow.com, Senin (3/3/2026).
Dindun yang dalam kesehariannya bekerja sebagai desain grafis di salah satu perusahaan cetak tak sekadar mengandalkan pekerjaan pokoknya itu saja.
Ia juga turut buka jasa freelance gambar desain sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
"Kalau saya pulang kerja, balik ke rumah, ya ngerjain yang, ya apa namanya, kayak orderanku sendiri, freelananku sendiri termasuk yang usaha sampinganku itu. Bisa, dan itu bisa sampai kadang jam 9, 10, 11, 12, sampai pernah 1 malam," jelasnya.
Seraya menikmati suasana khas pedesaan, Dindun juga turut menceritakan bagaimana perjuangannya hingga bisa memiliki rumah impian untuk keluarga kecilnya.
Bukan tanpa keringat, jatuh bangun dirasakan Dindun mewujudkan mimpinya itu.
Perlahan tapi pasti, Dindun dan Widi bersama-sama mewujudkan rumah impian yang dimulai sejak 2025 dan mulai dihuni pada awal tahun 2026.
"Dikit demi sedikit saya sisihkan melalui tabungan emas. Awal aku ngekos itu sudah mulai nabung emas. Sudah mulai nabung emas itu dari awal kerja antara tahun 2022 atau 2023, ," ceritanya sembari mengenang masa perjuangannya itu.
Hingga akhirnya, emas hasil jerih payah yang ditabungkannya dijual ditambah dengan tambahan pemasukkan melalui jasa desainnya yang diperuntukkan untuk tambah Down Payment (DP) rumah.
"Pas aku ngekos yang akhir-akhir itu udah sekitar empat gram pokoknya, dan dulu itu harganya masih sekitar sembilan ratus lima puluhan ribu rupiah per gram. Dan waktu mau ngontrak alhamdulilah juga dapat freelance gambar dengan total pemasukkan sampai empat juta rupiah saat itu."
"Lalu cari kontrakan, cari yang harganya cocok, tempatnya cocok, itu ada di kisaran harga enam juta, ya sudah dapat tapi uangnya kurang dua juta. Masih ada sisa sekitar dua gram kalau enggak tiga gram, itu akhirnya dijual waktu mau dp rumah," ungkapnya.
Dindun menambahkan bagaimana awal mulanya memutuskan untuk menggunakan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dari Bank Tabungan Negara (BTN) untuk wujudkan rumah impiannya.
Berawal dari ketidaksengajaan, saat itu Dindun diarahkan developer untuk bertransaksi menggunakan Bank BTN.
Karena, rumah yang diminatinya merupakan kerjasama developer dengan Bank BTN.
Lamban laun, Dindun merasakan manfaat dan merasa sangat terbantu saat menggunakan Bank BTN Syariah untuk cicilan rumah.
"Awalnya kan dari developer, akhirnya condong pakai Bank BTN Syariah, alhamdulilah merasa sangat terbantu bisa merealisasikan mimpi untuk mempunyai rumah sendiri di usia yang masih 30 tahunan ini," ujarnya.
Untuk kondisi awal rumahnya saat itu, Dindun menilai sudah jadi progres berjalan mencapai 60 sampai 70 persen.
Sehingga, ia mengetahui secara langsung bentuk bangunan hingga kualitas bahan material yang digunakan.
"Ya kalau untuk rumahnya itu sesuai ekspetasi sekitar 60 sampai 70 persen sudah sesuai, soalnya dari bangunannya sendiri itu udah menggunakan bata merah terus untuk antar rumah per rumah itu sudah sesuai," ungkap Dindun.
Lebih lanjut, ia juga merinci proses awal mendapatkan rumah impiannya hingga saat ini sudah ditempatinya.
"Kalau untuk awal menempati, dulu itu pertamanya pada bulan Februari booking tempatnya, booking tempat untuk yang ambil bloknya itu. Maret sampai April mengajukan berkas-berkas mulai dari BI checking dan lain sebagainya. Terus ada pengecekan dan sidak ke rumah yang dilakukan pihak Bank BTN, lalu di bulan Mei akad perumahan. Setelah akad perumahan masih nunggu untuk bisa ditempati. Di bulan Juni sudah mulai nyicil sampai Desember, dan di akhir Desember baru bisa ditempati," kisahnya.
Menurut pria berusia 31 tahun itu, tinggal di perumahannya yang notabene berada di pedesaan sangat nyaman.
Air jernih dengan banyak pepohonan serta dikelilingi area persawahan membuatnya betah pindah dari yang awalnya tinggal di area perkotaan kini beranjak menetap di desa.
"Di dekat sini itu samping perumahan masih ada bersawahan terus sebelah utara, di timur perumahan itu ada sawah, terus sampingnya lagi masih ada pepohonan dan airnya juga jernih," lanjutnya.
Meski lokasinya berada di desa, secara letak geografis, Bank BTN juga memperhatikan jarak tempuh lokasi perumahan dengan titik keramaian dan juga area strategis transportasi dan fasilitas umum lainnya.
"Kalau dari perumahan sini sampai ke pusat keramaian itu sekitar mungkin bisa 5 menit sampai 10 menit sudah sampai, hitungan aksesnya juga strategis, contoh dari perumahanku sampai exit tol Gondangrejo itu cuma paling 5 menit, terus dari perumahanku sampai ke Joglo sebelah kanan kampus UNISRI itu paling 10 menit, untuk ke Kota Solo sekitar 15 menit," ungkapnya.
Tak cuma itu, menurut Dindun, Bank BTN juga memperhatikan lokasi perumahan yang terbilang aman dari bencana baik banjir maupun tanah longsor.
"Kalau menurut saya sebelum saya ambil di sini, sebenarnya samping ini ada sungai tapi sungai mati dan tempat rumahku itu termasuk yang lumayan tinggi daripada desa sebelah jadi kalau menurut saya perumahanku ini insya Allah tidak akan banjir," jelasnya.
Selain itu, harga-harga kebutuhan pokok yang terjangkau di daerah perumahaan jadi pertimbangan utama lainnya.
"Nilai plusnya lagi, untuk harga-harga pokok terlampau murah bisa lebih hemat, selain itu ada juga satu penjaga yang selalu stand by berjaga di setiap malamnya, itu ditugaskan dari pihak developernya," ucapnya.
Cicilannya Ringan
Lebih lanjut, Dindun mengaku jika cicilan tenor selama 20 tahun perumahannya itu tak membebaninya.
Bahkan, Dindun masih bisa menyisihkan uang penghasilannya untuk ditabungkan.
"Kalau untuk cicilan per bulannya Rp1.069.000 tidak sampai Rp.1.100.000, jadi untuk saya yang mungkin masih umur segini dan pendapatannya UMR masih ada yang bisa disisihkan dari bisnis sampingan yang sangat worth it (layak-red)," jelas Dindun.
Pernah jadi Nomaden sebelum Dapatkan Rumah Impian
Sebelum mendapatkan rumah impian, Dindun dan Widi sempat mengalami lika-liku layaknya pasangan nomaden.
Pernah tinggal di rumah nenek istrinya, hidup bersama orang tua (mertua) hingga pernah terpisahkan oleh jarak dengan Widi jadi penggalan kisah perjuangan Didun untuk mendapatkan rumah impian.
"Kalau dulu setelah nikah itu pernah rumah nenek istri, pernah juga tinggal bersama orang tua istri (mertua) di Sukoharjo berjalan sekitar 2 kalau tidak 3 tahun, 1 tahun setelah itu memutuskan untuk ngekos sendiri, istri ada di rumah mertua di Sukoharjo, saya ngekos di dekat tempat kerja," ungkapnya.
Keputusan ngekos itu dilakukan Didun demi meminimalisir pengeluaran bensin dan transport perjalanan yang terbilang jauh.
"Untuk meminimalisir pengeluaran transport biar tabungannya lebih banyak. Soalnya kalau setiap hari bolak-balik ke Sukoharjo mungkin dari segi transportnya dan tenaganya bakal terkuras di situ," imbuhnya.
Senada dengan Didun, kisah pejuang nafkah lainnya demi wujudkan rumah impian datang dari pegawai buruh pabrik, Nanang Yulianto.
Nanang Yulianto tak bisa menyembunyikan rasa bangganya setelah rumah impian untuk investasi dan masa depan sudah berada di genggamannya yang berada di daerah Waduk Cengklik, Boyolali, Jawa Tengah.
Guratan raut wajah bahagia dan semangatnya terasa ketika ia menceritakan bagaimana perjuangannya hingga bisa mendapatkan rumah impian untuk keluarga kecilnya.
Deras keringat perjuangan yang sebelumnya dikeluarkan untuk membayar kontrak selama 4 tahun lamanya kini terbayarkan.
"Ngontrak kurang lebih 3-4 tahun, setelah menikah ngontrak dan nabung, ngontrak di daerah Cemani," ujar Nanang kepada TribunWow.com, Senin (2/3/2026).
Berawal dari sebuah selebaran, check and recheck tanya teman hingga pencarian di media sosial menjadi jerih payahnya untuk memastikan rumah impian tujuan dapat dipertanggungjawabkan.
Tujuannya tak muluk-muluk, hanya ingin hidup mandiri dan investasi dengan sisihkan hasil jerih payah keringatnya demi rumah impian.
Meski sederhana dengan ukuran 32/60 meter dan terdiri dari dua kamar, sudah cukup membuatnya bahagia karena telah realisasikan rumah impian untuk keluarganya.
"Sangat bahagia bisa punya rumah sendiri, bisa mandiri dan investasi, sedikit-sedikit ada tabungan namun untuk DP rumah masih dibantu pinjaman dari koperasi tempat kerja," ujarnya.
Saat Mau KPR Langsung Ingat BTN: Murah dan Mudah
Nanang melabuhkan pilihannya kepada si Raja KPR Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah untuk merealisasikan rumah impian keluarga kecilnya karena banyak kemudahan fasilitas yang ditawarkan.
"Pengambilan perumahan di Bank BTN Syariah prosesnya mudah. Dalam arti, pas kita akad pelayanan juga bagus dan pertanyaan juga memudahkan kepada pembeli serta tidak menyulitkan dan di permudah semuanya enak-enak saja, seumpama cocok langsung di acc. Untuk berkas-berkas tidak menyulitkan KK, KTP, surat nikah dan NPWP," ungkapnya.
Pria yang saat ini berusia 39 tahun itu telah bekerja selama 3 tahun di sebuah pabrik di Manang, Sukoharjo itu mengaku langsung jatuh hati karena kompensasi harga yang ditawarkan oleh Bank BTN Syariah lebih murah dibandingkan dengan lainnya.
"Proses awal nya kenapa memilih BTN Syariah karena kita diberi harga lebih murah. Ambilnya Rp 123 juta dan Bank BTN Syariah bisa memberikan kompensasi hampir Rp110 atau Rp 108 juta, lebih murah daripada bank-bank lain," imbuhnya.
Selain mendapatkan kompensasi harga, Nanang juga turut mendapatkan uang cashback yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau membangun komponen rumah lainnya.
"Sama developer ditawari diminta dikasih uang cashback atau dibangunkan kayak belakang, teras atau tembok sendiri," jelas Nanang.
Dalam proses angsuran, Nanang juga merasa sangat terbantu dengan adanya proses reminder dari pihak Bank BTN Syariah yang biasa dilakukan via telepon.
Proses reminder dilakukan dengan menanyakan kepada nasabah terkait apakah ada kendala dalam pembayaran angsuran di bulan tersebut atau tidak.
Apabila ada, pihak Bank BTN Syariah memberikan penawaran dispensasi kepada nasabah untuk memundurkan waktu deadline pembayaran dari yang sebelumnya disepakati.
"Dua hari sebelum jatuh tempo Bank BTN Syariah reminder atau mengingatkan via telfon. Ternyata, apabila saat jatuh tempo ada keperluan lain yang mendesak, Bank BTN Syariah langsung memberikan bantuan dengan menawarkan waktu tenggat angsuran yang bisa dibuat mundur selama satu minggu atau satu bulan tergantung keinginan nasabah," terangnya.
Lebih lanjut, pria yang sudah melakukan angsurannya hampir 6 tahun itu benar-benar terbantu dengan adanya program Bank BTN Syariah.
Terlebih ketika saat mengalami masa pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada tahun 2020 silam.
Nanang mengaku, ia turut merasakan banyak bantuan dari Bank BTN Syariah ketika masa pandemi.
Paling dirasakan tentu saja bantuan pembebasan pembayaran angsuran selama tiga bulan awal ketika terjadinya pandemi Covid-19.
Tak hanya itu, masih ada juga bantuan dari pemerintah yang saat itu diberikan melalui Bank BTN Syariah.
"Untuk proses angsurannya sudah hampir 6 tahun. Ketika pandemi Covid-19, ada beberapa bantuan-bantuan yang ikut cair terkhusus untuk bantuan kredit perumahan. Contohnya, Bank BTN Syariah menawarkan keringanan untuk tidak membayar angsuran selama tiga bulan awal."
"Kalau dari pemerintah dikasih ke Bank BTN Syariah sebanyak 4 kali, 1-2 hari proses pencairannya, bisa dipakai untuk nyicil angsuran rumah atau kebutuhan sehari-hari dalam kurun waktu 3-4 bulan setelah merebaknya pandemi Covid-19," ungkap Nanang.
Nanang berharap, untuk ke depannya, Bank BTN Syariah dapat lebih meningkatkan pelayanan yang saat ini ia nilai sudah sangat baik kepada para nasabah.
"Harapan ke depan untuk Bank BTN Syariah terutama untuk kaitannya KPR lebih ditingkatkan saja pelayanan yang sudah baik ini, jika saya beri presentase sudah sebesar 80 persen karena saya juga sejauh ini sudah merasa nyaman," jelas Nanang.
Kisah lain pejuang nafkah untuk wujudkan mimpi rumah idaman datang dari pemuda asal Klodran, Anggit Widhi Waskhito.
Pria yang saat ini berusia 27 tahun itu tak bisa sembunyikan guratan bahagianya setelah rumah impiannya saat itu sudah berada digengamannya.
Saat itu, Anggit sudah mendapatkan rumah impiannya tak selang lama sebelum mengikat janji suci dengan sang pujaan hati.
Senyumnya terus mengembang tatkala ia menceritakan bagaimana proses perjuangannya menggapai rumah impian.
Anggit merasa, dahulu miliki rumah tak ubahnya hanya sebatas mimpi.
Namun kini, Anggit berhasil mewujudkan hal itu berkat keputusannya ambil cicilan KPR melalui Bank BTN Syariah.
"Pertama kali pakai BTN 2022 hampir 2 tahun, ambil perumahan BTN," ungkap pria berkacamata itu kepada TribunWow.com, Selasa (3/3/2026).
Pria yang dalam kesehariannya bekerja sebagai IT di sebuah perusahaan media di Kota Solo, Jawa Tengah itu pun mengaku jatuh hati untuk ambil di Bank BTN Syariah karena ramah, fleksibel dan cicilannya sesuai dengan pendapatannya.
"Dibandingkan bank lain paling banyak belum tentu se-fleksibel BTN dengan UMR solo yang tidak terlalu tinggi jangka bisa tergantung penghasilan dan disesuaikan dengan UMR di Kota Solo," lanjut Anggit.
Terlebih, Bank BTN Syariah juga rutin mengingatkan nasabah dalam proses pembayaran cicilan di setiap bulan sebelum jatuh tempo waktu yang disepakati.
Bahkan, customer service (CS) Bank BTN Syariah juga turut mengkroscek kepada nasabah apakah ada kesulitan dalam melakukan cicilan atau tidak.
"Ada reminder sebelum pemotongan biaya KPR via telfon, tidak bertele-tele dan tidak buang-buang waktu. Penagihan bulanan sangat sopan dengan menyakan terlebih dahulu apabila ada kendala bisa dibantu di hubungkan dengan CS," jelas pria berpostur tinggi tersebut.
Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya pelayanan dari Bank BTN Syariah ketika proses debet pertama.
Kala itu, pembayaran debet pertamanya jatuh pada tanggal sebelum gajian.
"Pernah mengalami kendala debet pertama sebelum tanggal gajian, tanggal nya bisa di undur bersifat permanen asal konfirmasi terlebih dahulu dan sangat fleksibel," ungkapnya seraya memantau operasional komputer di kantor.
Tak hanya ramah dan fleksibel dalam pelayanan, Anggit menjelaskan, KPR di Bank BTN Syariah juga dijamin secara kualitas bangunannya.
"BTN kalau milih bahan bangunan sangat bagus memiliki standarisasi yang sangat tinggi bangunan nya bagus dari batu bata, produknya tidak recehan," ujarnya.
Bahkan, berdasarkan pengalaman Anggit, ia pernah diminta menempati rumah impiannya itu selama tiga bulan untuk kroscek kondisi selama pemakaian tersebut.
Apabila ada kerusakan, Bank BTN Syariah siap memberikan garansi dengan catatan belum ada perubahan apapun terkait rumah yang ditempati.
"Ada sekitar beberapa bulan periodenya, dengan catatan tidak mengubah apa pun, misal ada yang roboh atau bocor bisa diubah oleh BTN atau developer. Nasabah diarahkan untuk menempati terlebih dahulu periode 3 bulan serta garansinya berlaku setelah akad," bebernya.
Lebih lanjut, Anggit juga mengaku sempat dibuat keheranan dengan sistem di Bank BTN Syariah yang ternyata menerapkan suku bunga rendah.
Bahkan, para nasabah diperkenankan untuk melakukan pelunasan cicilan jika tengah memiliki pendapatan lebiih tanpa adanya penalti.
Dengan catatan, nasabah harus melakukan cicilan terlebih dahulu selama 5 tahun.
"Cicilannya bunganya rendah dan bersifat flat dibandingkan dengan bank-bank yang lain. Tidak harus menunggu 15 tahun bisa langsung di lunasi, di atas 5 tahun terlebih dahulu bisa langsung di lunasi, nantinya dikasih rekapan seperti jurnal angsuran," ungkap pria yang tinggal di daerah Colomadu tersebut.
Bukan hanya berkaitan dengan pelayanan, garansi dan skema cicilan, Anggit mengaku juga turut mendapatkan cashback sebesar Rp4 juta bagi nasabah terpilih.
Uang sebesar itu bisa diperuntukkan guna membayar cicilan rumah atau juga bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Mendapatkan cashback 4 juta rupiah dengan ketentuan dari pihak Bank BTN Syariah, bersifat tidak semua dapat, di masukkan ke rekening dan bisa langsung di ambil tunai. Biasanya cashback didapatkan seusai selesai dalam proses akad kesepakatan," terangnya.
Ikut Tabungan Umrah dan Haji
Saking kesengsemnya dengan program Bank BTN Syariah, Anggit tak hanya menggunakannya untuk KPR saja.
Ia turut menggunakan program Bank BTN Syariah untuk tabungan umrah dan haji.
"Bukan hanya bikin rekening untuk KPR, melainkan juga buat rekening untuk tabungan Haji dan umrah BTN memfasilitasi tabungan," lanjutnya.
Segudang manfaat dan banyak fasilitas yang diberikan kepada kaum milenial membuat Anggit tak ragu merekomendasikan para perintis rumah impian lainnya untuk ikut serta ambil KPR melalui Bank BTN Syariah.
"Opsi paling pertama untuk para kaum milenial mencari KPR yaitu bank BTN, karena pelayanannya sangat mudah serta langsung terarah. Dan di setiap bulan dikroscek oleh CS-nya dan juga fleksibel," ungkap Anggit.
Anggit juga berharap, Bank BTN Syariah dapat terus mengembangkan program di sektor perumahan untuk membantu realisasikan angan-angan para kaum milenial di Indonesia lainnya.
"Untuk Bank BTN Syariah teruslah seperti ini dan teruslah berkembang di sektor perumahan dengan tagline rajanya KPR sangat setuju dan tidak ada lawanan, rekomendasi pertama kepada para kaum milenial yakni Bank BTN Syariah," tegasnya.
Bank BTN yang sudah berpengalaman dalam pembiayaan KPR selama kurang lebih 48 tahun mendukung penuh program 3 juta rumah per tahun yang dicanangkan oleh pemerintah di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam rilis yang diterima, BTN membeberkan keberhasilannya selama ini yang sudah membiayai lebih dari 5 juta unit rumah.
Di mana, lebih dari 4 juta di antaranya berhasil dinikmati oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui KPR bersubsidi.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebut jika kurang dari dua bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo, perseroan telah berhasil mendistribusikan KPR untuk hampir 30 ribu unit rumah.
“Dukungan BTN terhadap Program 3 Juta Rumah terangkum dalam salah satu misi BTN pada 2025, yakni menjadi mitra utama Pemerintah dalam inklusi perumahan dan keuangan,” kata Nixon dalam Rapat Terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di Istana Merdeka, Selasa (7/1/2025).
Nixon sepakat, pihaknya sudah berkomitmen dengan pemerintah terkait program perumahan mesti berdampak dan berkontribusi langsung terhadap pengentasan kemiskinan serta dapat menumbuhkan perekenomian nasional.
Dalam usulannya, Nixon menjelaskan mengenai beberapa terobosan yang dilakukan demi mewujudkan target 3 juta rumah.
Ketiga usulan itu meliputi perubahan skema subsidi, perpanjangan jangka waktu pembiayaan supaya angka angsuran semakin murah dan permintaan dukungan alternatif dana selain dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
(TribunWow.com/Adi Manggala S)