TRIBUNJATIM.COM - Semarak Ramadan terasa di lapangan Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Jawa Timur.
Ratusan lapak pedagang berdiri memadati lapangan Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Jawa Timur.
Saat hari biasa lokasi itu digunakan sebagai pasar malam, namun pada Ramadhan kali ini beralih menjadi bursa “war” takjil terbesar di Surabaya selatan.
Dari kejauhan pengunjung sudah dapat melihat warna-warni ratusan stan yang menawarkan berbagai makanan, minuman, pakaian, hingga pernak-pernik.
Kala matahari mulai bergerak ke ufuk barat, sekitar pukul 16.00 WIB, terpantau para pedagang mulai membuka dan mempersiapkan lapaknya.
Mulai dari camilan hingga makanan berat, hidangan Korea hingga tradisional Jawa, semuanya tersedia.
Dari jarak beberapa meter saja, aroma beragam hidangan yang baru dimasak tercium menyambut setiap pengunjung yang datang.
Detak riuh pedagang yang berteriak saling menawarkan dagangannya, serta ribuan pembeli yang menyerbu tiap hidangan yang ingin dibeli.
“Ayo kak dibeli kak mulai Rp 10.000-an saja. Ayo kak esnya paling seger, ada cokelat, vanila, matcha. Ayo kak sate seafood-nya dipilih dulu,” ucap para pedagang bersahutan.
Baca juga: Emak-emak Ponorogo War Takjil Nasi Ayam Krispy sampai Tergencet, Panitia Kewalahan
Sementara di pinggir ujung kanan dan kiri bazar takjil diapit puluhan pedagang pakaian dan aksesoris.
Di sudut lokasi dalam Kodam Brawijaya terdapat sebuah lapak yang diisi oleh Alda, penjual sempol dan telur gulung.
Penjual sempol dan telur gulung, Alda (32) mengaku beberapa hari terakhir ia harus menutup lebih awal dagangannya karena hujan deras.
“Sebenarnya tutupnya jam 10.00 WIB kalau weekend sampai jam 11.00 WIB, tapi kita juga ngelihat mood alam, bisa jadi tutupnya lebih awal,” ungkap Alda, dikutip TribunJatim.com via Kompas.com, Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Lansia Tewas Dianiaya setelah Dituduh Curi Labu Siam, Akui Perbuatan saat Tubuh Sudah Sempoyongan
Hal itu menyebabkan beberapa kali ia mengalami kerugian.
“Kalau kita belum bayar listrik, enggak rugi. Tapi kalau sudah bayar listrik. Kadang kan kita sudah bayar full, ternyata jam 21.30 WIB sudah tutup,” jelasnya.
Alda menerangkan, puncak keramaian pengunjung biasanya akan terjadi pada dua minggu terakhir Ramadhan.
Meskipun begitu, jumlah tersebut terus mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Jalur Nasional Trenggalek-Ponorogo Tertutup Batu Raksasa, Pengendara Diimbau Lewati Jalur Alternatif
“Tiap tahun makin turun (pengunjung) enggak kayak sewaktu sebelum pendemi Covid-19. Pas Covid-19 itu masih ramai, tapi tahun 2023 itu sudah menurun terus sampai sekarang,” terangnya.
Baca juga: Dodi Nyaris Kehilangan Rp 50 Juta setelah Dihubungi Orang Ngaku Asisten Bupati, Sadar Logat Berbeda
Sebab, semakin meningkatnya jumlah pedagang sehingga memperketat persaingan antar-penjual.
“Kalau sekarang dapat Rp 200.000 itu saja susah banget. Kalau sebelum Covid-19 bisa dua, tiga kali lipatnya. Jadi sekarang memang harus lebih kreatif,” tuturnya.
Namun, tidak ada banyak pilihan yang bisa dilakukannya. Ibu dari satu anak itu harus tetap bertahan demi menghidupi keluarga kecilnya.
“Mau gimana lagi juga, walaupun tiap bulannya rugi selalu hampir Rp 2 juta, tapi ya saya hanya bisa hidup bantu-bantu keluarga dari ini,” pungkasnya.
Telur gulung adalah jajanan kaki lima khas Indonesia yang dibuat dari campuran telur dan sedikit bumbu seperti garam serta penyedap, lalu dikocok dan dituangkan ke dalam minyak panas dalam jumlah banyak.
Saat telur mulai matang, penjual akan menggulungnya menggunakan tusuk sate sehingga membentuk gulungan memanjang yang padat di bagian dalam dan sedikit renyah di luar.
Teksturnya lembut namun sedikit crispy, dengan rasa gurih sederhana yang biasanya semakin nikmat setelah diberi saus sambal atau saus manis pedas.
Di pasar Ramadan atau war takjil, telur gulung sering menjadi favorit karena harganya terjangkau, dibuat langsung di tempat, dan aromanya yang harum menggoda saat menjelang waktu berbuka puasa.
Sementara itu, sempol adalah jajanan berbahan dasar daging ayam yang dihaluskan dan dicampur tepung tapioka serta bumbu, kemudian dibentuk memanjang pada tusuk sate.
Sempol direbus hingga matang, lalu dicelupkan ke dalam kocokan telur dan digoreng sampai bagian luarnya berwarna keemasan.
Hasilnya adalah camilan dengan tekstur kenyal di dalam dan sedikit renyah di luar, serta cita rasa gurih yang lebih kuat dibanding telur gulung.
Di pasar Ramadan, sempol kerap disajikan dengan taburan bubuk cabai atau saus pedas manis, menjadikannya camilan praktis dan mengenyangkan yang banyak diburu pembeli sebagai teman berbuka.