TRIBUNTRENDS.COM - Sarifah Suraidah istri Gubernur Kaltim Rudy Masud akhirnya tanggapi cibiran soal gaya busananya yang disebut mirip Noni Belanda dan berlebihan.
Melalui unggahan di Instagram Story seperti dikutip Tribun Trends pada Rabu (4/3/3036), Sarifah menjawab cibiran-cibiran yang dialamatkan kepadanya.
"Baju dan gayanya kok berlebihan??" tulis Sarifah mewakili komentar netizen.
Tak mau ambil pusing, istri Gubernur Kaltim ini pilih melakukan apa yang dia inginkan.
"Hidup cuma sekali, hidup gak bisa diputar lagi. Lakukan apa yang mau dilakukan,” tulis Sarifah.
Terlebih ia hidup bukan untuk menyenangkan banyak orang.
Baca juga: Gaya Busana Sarifah Suraidah Jadi Sorotan, Respons Santai hingga Penjelasan Tim Ahli
Ia pun memilih untuk menjadi diri sendiri.
“Kita gak hidup buat untuk menyenangkan, jadilah diri sendiri,” lanjutnya.
Sarifah juga mengunggah cuplikan ceramah soal membalas perlakuan orang.
Ia pun memilih memaafkan orang-orang yang sudah mengejeknya.
“Maafkan semua orang, insya Allah,” tulisnya.
Tak hanya itu, ia juga mengunggah sebuah quote yang tampaknya menjadi motto hidupnya.
"Tetap mandi, rapi pake lipstik meskipun rute jalanmu hanya dari kamar ke dapur," bunyi quote tersebut.
Belakangan ini sorotan tajam mengarah pada Gubernur Kaltim Rudy Masud, termasuk soal gaya busana istrinya, Sarifah Suraidah, yang dinilai terlalu glamor.
Menanggapi hal ini, Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Bidang Komunikasi Politik dan Komunikasi Publik, Sudarno, memberikan jawaban.
Sudarno meminta agar kritik dari masyarakat tidak menyeret ke wilayah personal.
Baca juga: Gaya Sarifah Suraidah Selalu Glamor, Harta Istri Gubernur Kaltim Rudy Masud Tembus Ratusan Miliar!
Sebab menurutnya, gaya busana Sarifah memang sudah seperti itu sejak sebelum suaminya menjadi gubernur.
“Itu sudah puluhan tahun seperti itu. Bukan pada saat jadi gubernur ini,” ujarnya.
Sudarno menambahkan bahwa latar belakang keluarga tersebut memang sudah mapan sejak lama.
Ia berharap kritik publik lebih diarahkan pada kebijakan dan kinerja pemerintah.
“Beliau sudah lama berkecukupan untuk membuat istrinya seperti ratu. Jadi bukan hal yang tiba-tiba karena jabatan,” katanya.
Menyangkut tudingan dinasti politik, Sudarno menyatakan bahwa dalam sistem demokrasi, setiap warga negara memiliki hak politik yang sama selama tidak melanggar aturan hukum.
“Kalau tidak dibolehkan, ya buat aturan yang melarang. Tapi kalau secara demokrasi dibolehkan, itu hak,” katanya.
Ia berpendapat bahwa persoalan ini lebih kepada wilayah etik dan keputusan akhir tetap berada di tangan masyarakat sebagai pemilih dalam pemilu langsung.
“Kalau masyarakat tidak setuju, jangan dipilih. Tapi kalau dipilih dan menang, berarti itu pilihan rakyat,” ujarnya.
Pemerintah daerah menyatakan terbuka terhadap kritik dari masyarakat.
Sudarno menyebut masukan publik sebagai bentuk kepedulian terhadap jalannya pemerintahan di Kalimantan Timur.
“Kami berterima kasih atas kritik. Itu vitamin bagi pemerintah,” ujarnya. (Tribun Trends/Tribun Sumsel)