TRIBUNJAKARTA.COM - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mewanti-wanti potensi eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-ISrael dengan Iran menjadi perang yang lebih luas.
Bahkan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menilai, kemungkinan perang dunia III bisa terjadi.
Hal itu disampaikan SBY dalam podcast perdananya, SBY Standpoint yang tayang di Youtube @SBYudhoyono perdana pada Selasa (3/3/2026).
“Kalau peperangan di Timur Tengah ini meluas dan membesar, implikasinya bukan hanya di kawasan itu, tapi di banyak tempat di dunia,” kata SBY.
Menurutnya, situasi tiga hari terakhir menunjukkan konflik tidak lagi sekadar benturan Iran dan Israel, tetapi sudah menyeret negara-negara Teluk.
Seperti diketahui, perang di Timur Tengah itu disulut serangan AS-Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026).
Kemudian diketahui, serangan udara dari dua negara itu mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran tak tinggal diam, dan melwan balik dengan membombardir pangkalan militer AS di sejumlah negara: Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.
SBY juga menyinggung kemungkinan implikasi terhadap NATO jika fasilitas Inggris ikut terseret konflik.
Pada Senin (2/3/2026), drone Iran menghantam pangkalan militer Inggris di Siprus. Hal itu dikonfirmasi sendiri oleh Presiden Siprus, Nikos Christodoulides.
“Kalau anggota NATO terlibat, bagaimana Rusia? Bagaimana Tiongkok? Ini bisa menjadi sangat berbahaya,” ujarnya.
SBY menyebut Timur Tengah berpotensi menjadi “flash point” yang memicu konflik global lebih besar jika para pemimpin dunia gagal menahan diri.
“Mudah-mudahan tidak sampai ke situ. Tapi risiko itu ada,” tegasnya.