Kasus penyakit campak di Indonesia belakangan ini menunjukkan tren kenaikan yang mengkhawatirkan. Kondisi ini memicu kewaspadaan tinggi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Di balik lonjakan kasus ini, IDAI menyoroti adanya pengaruh nyata dari golongan 'antivax' atau gerakan antivaksin.
Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena ini. Ia menyebut ada kelompok aktivis antivaksin yang secara terang-terangan menolak imunisasi, bahkan menganggap remeh risiko penyakitnya.
"Sampai bahkan mengatakan aktivis-aktivis antivaksin mendingan anaknya kena campak, bahkan nggak papa kena Polio (poliomyelitis)," kata Prof Anggi, Sabtu (28/2/2026).
Ia menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit sepele. Komplikasinya bisa berdampak sangat serius, mulai dari kehilangan pendengaran (tuli), dehidrasi berat yang dapat menyebabkan kematian, mata kering (xerophthalmia) karena virus campak yang menggerus cadangan vitamin A tubuh, hingga masalah berat pada paru-paru seperti pneumonia.
Sikap skeptis terhadap vaksin yang kini dirasakan dampaknya di Indonesia sering dianggap sebagai fenomena baru atau tren modern yang tumbuh seiring populernya media sosial. Namun, jika menilik sejarah medis, skeptisisme dan perlawanan terhadap vaksin ternyata berusia jauh lebih tua dari yang dibayangkan banyak orang.
Edward Jenner dan Kelahiran Vaksin Pertama
Dalam artikel yang ditulis oleh David Robert Grimes, pakar kesehatan masyarakat di Trinity College Dublin, skeptisisme vaksin bukanlah fenomena baru. Sejarah mencatat perlawanan ini muncul sesaat setelah Edward Jenner menemukan vaksin cacar (smallpox) pada 1796. Dia memperkenalkan prosedur vaksinasi menggunakan virus cacar sapi (cowpox) yang berhasil menurunkan tingkat penularan.
Cacar yang kala itu membunuh 400 ribu orang per tahun berhasil diberantas (eradikasi) pada 1980 berkat vaksinasi global.
Namun, ketika pemerintah Inggris mulai mewajibkan vaksinasi pada pertengahan 1800-an, muncul liga-liga antivaksinasi. Mereka memproduksi pamflet dengan judul-judul yang provokatif, seperti (Vaksinasi, Sebuah Kutukan) dan (Kengerian Vaksinasi), serta menerbitkan buku dan majalah berkala seperti (1869).
Evolusi Argumen Antivax: Dari Agama hingga Otonomi Tubuh
Diberitakan BBC, argumen yang digunakan oleh gerakan antivaksin telah berevolusi, namun intinya seringkali serupa selama berabad-abad. Menariknya, penolakan terhadap ide vaksinasi bahkan sudah ada sebelum vaksin itu sendiri ditemukan.
Pada tahun 1722, Pendeta Edmund Massey menyebut penyakit sebagai hukuman Tuhan. Baginya, mencegah penyakit dengan vaksin adalah "tindakan iblis" dan bentuk penistaan.
Selain itu, vaksin dianggap sebagai sesuatu yang tidak alami. Mereka percaya bahwa membiarkan tubuh melawan penyakit secara alami lebih baik, meski risikonya adalah kematian atau cacat permanen.
Argumen gerakan antivaksin juga sering kali menggemakan pola lama era Victoria: dari anggapan bahwa pendukung vaksin dibayar oleh industri farmasi, hingga klaim bahwa kebersihan (sanitasi) saja sudah cukup.
Mengapa 'Herd Immunity' Begitu Penting?
Campak adalah salah satu virus paling menular di dunia. Dibutuhkan setidaknya 95 persen populasi yang divaksinasi untuk membentuk "benteng" atau herd immunity guna melindungi mereka yang rentan.
Disinformasi oleh kelompok antivaksin membuat cakupan imunisasi di beberapa daerah di Indonesia merosot di bawah ambang batas tersebut. Ketika benteng ini runtuh, virus campak kembali menemukan jalan untuk menjangkiti anak-anak.
"Masalahnya adalah musuh dalam permainan ini tidak bermain menurut aturan sains," tulis laporan WHO yang dikutip BBC.







