Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran berlanjut. Kini, mulai mengguncang sektor pariwisata global.
Operator wisata besar berbasis di AS, Collette, membatalkan semua perjalanan ke Timur Tengah hingga 21 Maret. Ribuan wisatawan menunda atau merombak rencana liburan mereka.
"Kami akan terus memantau situasi dan jika perubahan atau pembatalan diperlukan, kami akan melakukannya," kata juru bicara perusahaan seperti dikutip dari Rabu (4/3/2026)
Agen tur Tauck mengunggah pembaruan perjalanan di situs resmi bahwa keberangkatan pada 2 Maret untuk rencana perjalanan Yordania dan Mesir dengan destinasi Petra dan Piramida pada dibatalkan. Mereka menilai tidak ada kepastian di wilayah tersebut dan ada gangguan penerbangan saat ini.
Selain itu, Globus, sebuah perusahaan tur lain yang memiliki empat tamu dalam perjalanan wisata di Amman, Yordania, ketika pertempuran pecah, juga membatalkan tur. Operator itu mengupayakan jalan keluar alternatif untuk keluar dari Yordania karena wilayah udara yang ditutup.
"Beberapa tamu sedang melakukan perjalanan melalui Dubai dan dialihkan melalui maskapai penerbangan mereka," kata juru bicara operator tersebut.
Pembatalan termasuk perjalanan pelayaran ke Sungai Nil. Turis-turis akan diberi kesempatan untuk melakukan pemesanan ulang di masa depan atau menerima pengembalian dana secara penuh.
Meskipun tim lokal di Yordania melaporkan tidak ada masalah dengan operasional, namun gangguan penerbangan dan peringatan perjalanan telah secara signifikan memengaruhi cakupan asuransi perjalanan.
Sementara itu, operator Intrepid Travel masih terus mengoperasikan tur di Mesir, Yordania, Oman, dan Arab Saudi sesuai jadwal. Perusahaan tersebut mengatakan sedang mendukung wisatawan di lapangan yang terkena dampak pembatalan dan penundaan penerbangan.
Saat ini, status penerbangan di Timur Tengah mulai kembali beroperasi pelan-pelan. Beberapa maskapai yang berbasis di UEA telah mengumumkan operasional penerbangan terbatas. Yakni Etihad Airways, Emirates, dan FlyDubai.







