Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Puji Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Langit Kalibening mulai temaram ketika satu per satu santri bergegas menuju serambi masjid Pondok Pesantren Babussalam, Dusun Kalibening, Desa Tanggalrejo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.
Di antara mereka, sosok yang siangnya berkemeja rapi di kantor pemerintahan, malam itu duduk bersila dengan kitab kuning di tangan.
Dialah Wakil Bupati Jombang, KH. Salmanudin Yazid, yang akrab disapa Gus Salman.
Ramadan bagi Gus Salman bukan sekadar penanda bulan suci dalam kalender hijriah. Ia menjadikannya ruang untuk menata ulang keseimbangan hidup, antara tanggung jawab sebagai pejabat publik dan amanah sebagai pengasuh pesantren.
Baca juga: Tak Bisa Menahan Amarah di Bulan Ramadan? Ini Dampaknya pada Puasa
Setiap pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, ia sudah bertolak ke kantor wakil bupati untuk menjalani agenda pemerintahan dan melayani warga Kabupaten Jombang.
Rapat, audiensi, hingga kunjungan kerja mengisi hari-harinya. Namun ketika jarum jam mengarah ke malam, perannya bergeser.
"Kalau malam tidak ada agenda dinas, jadi tetap dimanfaatkan untuk wiridan yang selama ini saya pegang," ucap Gus Salman kepada Tribunjatim.com pada Rabu (4/3/2026).
Dengan seizin Bupati Jombang, Warsubi, ia mengkhususkan malam-malam Ramadan untuk kembali ke pesantren yang diasuhnya.
Di hadapan ratusan santri, Gus Salman memimpin pengajian kitab kuning, tradisi yang telah ia rawat selama 16 tahun terakhir.
Kitab yang dibaca hampir tak pernah berubah setiap Ramadan, yakni Jawahirul Bukhari, yang berisi kumpulan hadis. Pengajian digelar sebanyak 17 kali pertemuan hingga khatam.
"Tiap Ramadan selalu baca Jawahirul Bukhari. Dulu pagi juga ada Al-Hikam dan Bulughul Maram. Setelah jadi pejabat, kita ambil malam saja," tuturnya.
Bagi Gus Salman, mengajar di pesantren bukan aktivitas tambahan, melainkan bagian dari identitas yang tak terpisahkan. Ia menyebut, menjaga tradisi mengaji adalah cara merawat niat awal pengabdian.
"Keinginan pesantren tetap jalan, keinginan pribadi jalan. Khidmat di Kabupaten Jombang juga tetap jalan," katanya.
Pondok Pesantren Babussalam yang ia asuh kini menampung sekitar 1.460 santri mukim dari berbagai daerah di Indonesia. Secara keseluruhan, jumlah peserta didik di lembaga tersebut mencapai sekitar 2.700 orang.
Di bulan Ramadan, suasana pesantren berubah lebih hidup. Jadwal belajar menjadi lebih padat dengan sistem kilatan metode pembelajaran cepat untuk menuntaskan sejumlah kitab dalam waktu singkat.
Revalina Silviyanto (18), santri asal Surabaya yang telah lima tahun menimba ilmu di Babussalam, merasakan perbedaan itu.
"Kalau Ramadan ada sistem kilatan, kitab yang dipelajari lebih banyak," ujarnya saat dikonfirmasi.
Selama 15 hari pertama Ramadan, ia bersama santri lain mempelajari sedikitnya empat kitab berbeda. Aktivitas dimulai sejak pagi, berlanjut siang dan sore, lalu ditutup dengan pengajian malam bersama Gus Salman.
Di ruang sederhana itu, jabatan seolah luruh. Yang tersisa hanyalah seorang kiai dan para santri yang tekun menyimak setiap baris hadis.