Arnendo, Anak Penjual Nasi Goreng Diduga Dianiaya 30 Mahasiswa Undip hingga Alami Gegar Otak
Weni Wahyuny March 05, 2026 02:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM, SEMARANG – Arnendo (20), anak penjual nasi goreng diduga jadi korban pengeroyokan 30 mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip).

Dari peristiwa itu, Arnendo yang merupakan mahasiswa Undip jurusan Antropologi itu mengalami patah tulang pada hidungnya hingga gegar otak.

"Korban anak penjual nasi goreng dihajar 30 mahasiswa Undip. Anaknya diharapkan jadi sarjana, nampaknya gagal di tengah jalan," kata Kuasa hukum korban, Zaenal Petir kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026). 

Kondisi Arnendo viral di media sosial.

Dari video yang beredar, kondisi wajah dan tubuh mahasiswa jurusan Antropologi Sosial itu terlihat penuh luka. 

Peristiwa itu bermula pada 15 November 2025 lalu sekitar pukul 10.57 WIB. 

Saat itu, korban mendapat ajakan dari seorang mahasiswa Antropologi Sosial semester 4, untuk berdiskusi di kos yang terletak di Jalan Bulusan Utara Raya, Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. 

"Dengan tujuan membicarakan event collective (acara musik kampus)," ungkapnya. 

Pada pukul 22.03 WIB, korban berangkat menuju lokasi yang telah disepakati. 

Baca juga: Inilah Peran 3 Dokter Tersangka Pemerasan Almarhumah Aulia Risma PPDS Undip, Keluarga:Segera Ditahan

Sesampainya di lokasi, korban melihat banyak orang di halaman kos tersebut. 

Menurut Zaenal, korban dipaksa mengaku melakukan pelecehan terhadap seorang mahasiswi Undip. 

Namun korban membantah tuduhan yang dimaksud dan telah menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya. 

"Saat itu korban bercanda dengan menarik tangan (mahasiswi) dengan tujuan mengajak dia menuju warung makan," ucapnya. 

Zaenal menambahkan, korban menarik tangan mahasiswi tersebut dalam rangka mengumpulkan tim sukses pemilihan ketua himpunan program studi Antropologi Sosial. 

"Jadi tidak ada pelecehan. Menggandeng tangan di kampus dalam kondisi cukup ramai. Korban tidak sendirian," katanya. 

Namun, para pelaku disebut tidak percaya dan terus memojokkan korban. 

Perdebatan berlangsung sekitar satu jam. 

Sekitar pukul 23.00 WIB, salah satu mahasiswa Antropologi Sosial semester 6, diduga mulai melakukan kekerasan dengan memukul korban beberapa kali. 

"Setelah itu, mahasiswa yang ada di sana yang jumlahnya sekitar 30 orang mulai mengelilingi korban. Mereka menendang dan memukul secara bergantian. Baju, jaket, celana jeans, dan sabuk dilepas," kata Zaenal. 

Zaenal menambahkan, ada juga seorang mahasiswa yang sempat berusaha melindungi korban, namun didorong oleh para pelaku agar tidak ikut campur. 

Penganiayaan disebut terus berlanjut. 

Zaenal juga mengatakan, bahwa korban juga diperlakukan tidak manusiawi. 

Penganiayaan berhenti setelah terdengar azan subuh sekitar pukul 04.15 WIB. 

Korban kemudian diantar kembali ke kos. 

Korban Dilarikan ke RS 

Keesokan harinya, korban selanjutnya dibawa ke RS Banyumanik 2. 

Korban dirawat pada 16 November 2025 mulai pukul 08.15 WIB hingga 17.00 WIB. 

Selanjutnya, korban dipindahkan ke RS Bina Kasih Ambarawa agar lebih dekat dengan rumahnya dan dirawat hingga 21 November 2025. 

"Diagnosa dari dokter adalah korban mengalami patah tulang hidung dan gegar otak, serta gangguan saraf mata. Arnendo semester 4 berstatus cuti karena trauma, apalagi pelaku satu jurusan di Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya Undip, belum ditangkap," kata Zaenal. 

Lapor Polisi

Dikonfirmasi terkait peristiwa tersebut, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Andika Dharma Sena membenarkan adanya laporan. 

"Iya betul (ada laporan tersebut)," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.