'Syahid Karbala' Menyusup ke dalam Nadi dan Saraf Dunia Islam
Ansar March 05, 2026 03:20 AM

“Syahid Karbala” Menyusup ke dalam Nadi dan Saraf Dunia Islam

Oleh M. Qasim Mathar

Dalam tradisi Syiah, konsep syahid (martir) tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Karbala.

Karbala adalah sebuah kota di Irak, sekitar 100 kilometer di selatan Baghdad.

Nama tempat ini menjadi sangat monumental dalam sejarah Islam. 

Di sanalah Husain bin Ali cucu Nabi Muhammad SAW gugur pada 10 Muharram 61 Hijriah (10 Oktober 680 M).

Peristiwa itu bermula setelah wafatnya Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.

Kekuasaan kemudian berpindah kepada putranya, Yazid bin Muawiyah, dari Dinasti Umayyah.

Sebagian umat Islam menolak kepemimpinan Yazid karena dianggap tidak memenuhi prinsip keadilan dan moralitas kepemimpinan.

Penduduk Kufah, Irak, mengirim banyak surat kepada Husain bin Ali, memintanya datang dan memimpin perlawanan terhadap kekuasaan Yazid.

Husain pun berangkat dari Mekkah menuju Kufah bersama keluarga dan sejumlah kecil pengikutnya.

Namun di tengah perjalanan, rombongan itu dihadang pasukan Umayyah dan dikepung di Karbala.

Jumlah pengikut Husain diperkirakan hanya sekitar 70 hingga 100 orang.

Sementara pasukan pemerintah mencapai ribuan.

Rombongan Husain bahkan diputus akses airnya dari Sungai Efrat.

Pada 10 Muharram yang kemudian dikenal sebagai Hari Asyura terjadi pertempuran singkat namun tragis.

Satu per satu pengikut Husain gugur.

Anggota keluarga, sahabat dekat, hingga para pemuda Bani Hasyim syahid di medan itu.

Husain bin Ali sendiri akhirnya terbunuh.

Kepalanya kemudian dibawa ke pusat pemerintahan Umayyah di Damaskus.

Tragedi Karbala terus hidup dalam ingatan kolektif umat, khususnya dalam tradisi Syiah.

Setiap tahun ia diperingati dengan ratapan dan refleksi.

Sebuah slogan pun menggema: “Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala.”

Ungkapan itu bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan di setiap zaman.

Bagaimana rasanya berjuang di bawah naungan ruh Husain Sang Syahid Karbala di masa klasik dan dalam imajinasi ideologis modern, di bawah semangat revolusioner yang diasosiasikan dengan figur-figur seperti Ayatollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei?

Ada kisah yang kerap beredar: ketika diminta pindah demi alasan keamanan, seorang pemimpin menjawab, ia baru akan pindah jika puluhan juta rakyatnya telah lebih dulu aman.

 Sebuah jawaban yang sarat simbolik tentang keberanian, tentang kesiapsiagaan menghadapi risiko, bahkan tentang kesiapan menyambut syahid.

Apa pun akhir dari konflik dan pergolakan zaman ini, narasi “Syahid Karbala” telah menyusup ke dalam nadi dan saraf sebagian dunia Islam.

Ia hidup sebagai simbol perlawanan, keteguhan iman, dan keberpihakan pada keadilan.

Kecuali bagi mereka yang memilih tenggelam dalam hedonisme dan lupa pada denyut sejarahnya sendiri. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.