Donlad Trump Akui Dendam Pribadi Jadi Alasan Dirinya Perintakan Militer AS dan Israel Serang Iran
SERAMBINEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui bahwa faktor dendam pribadi turut memengaruhi keputusannya melancarkan serangan terhadap Iran.
Dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat, Trump menyatakan bahwa upaya pembunuhan terhadap dirinya menjadi alasan utama memerintahkan operasi militer terkoordinasi dengan Israel, sehingga mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
“Saya menjatuhkannya sebelum dia menjatuhkan saya. Saya menyerang duluan,” ujar Trump.
Sebelumnya, Trump tidak pernah secara terbuka menjelaskan bagaimana ancaman dari Iran memengaruhi kebijakan militernya di Timur Tengah.
Namun selama kampanye Pemilihan Presiden AS 2024, isu ancaman keamanan terhadap dirinya menjadi perhatian serius tim suksesnya, terutama setelah dua insiden percobaan pembunuhan pada Juli dan September 2024.
Iran telah lama dituduh Washington berupaya menargetkan pembunuhan Trump sejak serangan udara AS pada Januari 2020 yang menewaskan Jenderal Qasem Soleimani.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti publik yang menunjukkan keterlibatan langsung Teheran dalam dua upaya pembunuhan terhadap Trump pada 2024.
Trump menyadari keterkaitannya, dan mengatakan kepada ABC, "Mereka mencoba dua kali."
Gedung Putih belum memberikan bukti untuk membuktikan hubungan ini.
Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada 28 Februari 2026, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa ancaman Iran terhadap Trump menjadi bagian dari pembenaran tindakan militer AS.
“Iran bertanggung jawab atas serangkaian serangan bersenjata tanpa provokasi terhadap Amerika Serikat dan Israel. Mereka bahkan mencoba membunuh Presiden Trump,” kata Waltz.
Selama kampanye Trump, para pejabat keamanan nasional AS memperingatkan bahwa Iran ingin membunuhnya dan menjadi dalam dibalik serangan upaya pembunuhan Trump.
Salah satu insiden terjadi pada 13 Juli 2024 di Butler, Pennsylvania, ketika seorang pria bersenjata, Thomas Matthew Crooks, menembak ke arah Trump saat kampanye.
Pelaku tewas di tempat kejadian, dan penyelidik hingga kini belum memastikan motifnya.
Trump berulang kali mempertanyakan apakah Iran berada di balik penembakan Butler, dan para penyelidik mengatakan mereka “tidak dapat mengesampingkan kemungkinan itu”, menurut orang-orang yang mengetahui pertemuan tersebut.
Insiden lain melibatkan Ryan Wesley Routh, yang mencoba melakukan serangan di lapangan golf Trump di Florida.
Ia telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Selain itu, seorang pria Pakistan bernama Asif Merchant sedang menjalani persidangan atas dugaan upaya menyewa pembunuh bayaran untuk menargetkan politisi AS.
Bulan lalu, seorang pria dari Brooklyn dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena merencanakan pembunuhan terhadap seorang pembangkang Iran.
Jaksa penuntut menduga dia berkonspirasi untuk membunuh Presiden Trump.
Sejumlah pejabat Iran sebelumnya juga secara terbuka menyuarakan ancaman balasan terhadap para pemimpin Amerika, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton.
Pemerintah AS sempat mempertahankan pengawalan keamanan bagi keduanya setelah meninggalkan jabatan.
Pada 2 Maret 2026, Trump menyebut empat tujuan utama operasi AS terhadap Iran, yakni menghancurkan kemampuan rudal, kekuatan angkatan laut, ambisi nuklir, serta kemampuan Iran dalam “mendanai terorisme”.
Dalam pernyataan sebelumnya, ia juga berbicara lebih luas tentang kemungkinan menggulingkan rezim dan “membebaskan” rakyat Iran.
Hingga kini, Gedung Putih belum merilis bukti publik yang secara langsung mengaitkan Iran dengan upaya pembunuhan terhadap Trump.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun terus meningkat seiring eskalasi konflik antara kedua negara.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)