TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Senja yang biasanya menjadi momen hangat berbuka puasa berubah menjadi ujian kesabaran bagi ratusan pengendara di Jalur Pantura wilayah Desa Adinuso, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Rabu (4/3/2026).
Hujan yang mengguyur kawasan tersebut menyebabkan sedikitnya empat hingga lima pohon tumbang.
Dampaknya, arus lalu lintas lumpuh total sejak pukul 16.00 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
Baca juga: Puting Beliung Terjang 10 Kecamatan di Batang: Jalur Pantura Subah Lumpuh 4 Jam
Pantauan di lokasi, antrean kendaraan mengular dari Desa Clapar hingga Desa Adinuso dengan panjang mencapai sekitar 7 hingga 10 kilometer.
Titik terparah berada di Desa Adinuso hingga Desa Subah.
Sementara area terdampak pohon tumbang membentang sekitar 3 kilometer, mulai Desa Adinuso hingga Desa Jatisari.
Di balik deretan kendaraan yang terjebak, terselip kisah-kisah kecil tentang perjuangan para pengendara yang terpaksa berbuka puasa di jalan.
Huda (30), warga Pekalongan, menjadi salah satu yang merasakan langsung situasi tersebut.
Dia berangkat untuk mengirim pintu ke Limpung, namun justru tertahan berjam-jam.
“Macet sudah dari pukul 16.00 WIB sampai malam, sekitar pukul 21.00 WIB belum bisa jalan,” kata Huda kepada Tribunjateng, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, informasi yang ia terima menyebutkan ada empat sampai lima titik pohon tumbang yang menghalangi badan jalan.
Saat azan Magrib berkumandang, Huda tak punya banyak pilihan.
“Tadi terpaksa berbuka seadanya di kendaraan, cuma minum air putih. Alhamdulillah tadi ada pedagang keliling,” ucapnya.
Ia memilih mematikan mesin mobil untuk menghemat bahan bakar dan menunggu dengan sabar di dalam kendaraan.
Hal yang sama dialami Wahyudi (53), warga Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.
Dia hendak mengirim sepeda motor ke Kecamatan Subah, namun terjebak kemacetan sejak pukul 17.00 WIB.
“Sampai sekitar pukul 21.00 WIB belum bisa jalan,” tuturnya.
Di tengah kekhawatiran keterlambatan pengiriman, Wahyudi mengaku bersyukur karena konsumennya memahami situasi.
“Alhamdulillah orang yang memesan motor tidak komplain dan pengertian,” ucap Wahyudi.
Seperti Huda, Wahyudi pun berbuka puasa dengan sederhana.
“Ya berbuka di jalan seadanya pakai air putih,” ujarnya.
Kemacetan mulai terlihat sejak sore hari dan mencapai puncaknya menjelang waktu berbuka.
Banyak pengendara memilih mematikan mesin dan bertahan di dalam mobil.
Sebagian lainnya turun untuk menepi dan mencari udara segar di pinggir jalan.
Arus lalu lintas dari arah Batang menuju Kendal mulai bergerak perlahan sekitar pukul 21.30 WIB.
Pada pukul 22.00 WIB, jalur akhirnya bisa digunakan meski hanya satu lajur dengan sistem kontraflow.
Sekiranya pukul 22.10 WIB, antrean kendaraan mulai terurai meski belum sepenuhnya normal.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem di jalur vital seperti Pantura tak hanya berdampak pada arus logistik, tetapi juga pada cerita-cerita kecil di balik kemudi, tentang kesabaran, tentang berbuka dengan seteguk air putih, dan tentang perjalanan yang tertunda oleh alam. (Ito)
Baca juga: Update Kondisi Pasca Angin Puting Beliung di Batang: 3 Korban Meninggal