Cerita Ibu Orangutan di Kutai Timur, Bertahan Hidup dengan Bayi Kembar di Hutan Rusak
Samir Paturusi March 05, 2026 08:08 AM

TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA – Sebuah cerita fenomena alam yang langka sekaligus menyayat hati terjadi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), lokasi tepatnya penemuan orang utan dan translokasinya yang masih di satu landscape tepatnya di Perdau Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Di mana, seekor induk Orangutan ditemukan tengah berjuang membesarkan dua bayi kembarnya di tengah habitat yang telah hancur dan ter-fragmentasi.

Informasi ini didapat Tribun Kaltim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan Conservation Action Network (CAN).

Kejadian ini terungkap setelah video viral di media sosial memperlihatkan sang induk bersama kedua anaknya berjalan di atas tanah, di area terbuka tanpa pepohonan yang memadai. 

Menindaklanjuti hal tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim bersama Conservation Action Network (CAN) bergerak cepat melakukan aksi penyelamatan.

Baca juga: Sempat Mengais Sampah di Jalan Poros Kutim, Orangutan Jantan Dewasa Dievakuasi BKSDA Kaltim

Proses evakuasi yang dilakukan pada 15 Februari 2026 lalu menyisakan cerita haru. 

Direktur dan Founder CAN, Paulinus Kristanto, mengungkapkan bahwa induk orangutan tersebut seolah–olah menyerahkan diri demi keselamatan buah hatinya.

Persoalan ini, sebenarnya orang utan yang memang masih mencoba bertahan di kawasan-kawasan hutan yang ter-fragmentasi. 

Dalam video awal yang viral menunjukkan bayi ibu dan bayi kembar ini berada di area yang tidak ada hutan sama sekali. 

Mereka berjalan di tanah, bagi pihaknya, ini menunjukkan indikator kalau orang utan sampai turun ke lokasi yang tidak ada hutan sama sekali, yang mengindikasikan bahwa berusaha menyeberang ke hutan lainnya untuk mencari sumber makanan.

Tim monitoring begitu sudah sampai di lokasi, kondisi, mencoba memastikan dengan menerbangkan drone. 

Hingga akhirnya memastikan orang utan ini yang ditemukan memang tidak bisa hidup di hutan yang ter-fragmentasi tersebut.

Fragmentasi hutan sendiri, ialah proses terpecahnya ekosistem hutan yang luas dan terhubung menjadi bagian-bagian kecil (fragmen) yang terisolasi, terutama akibat aktivitas manusia seperti pembangunan jalan, pertanian, dan pemukiman.

"Jadi, bagi kita ini menunjukkan salah satu indikasi orang utan ini membutuhkan pertolongan. Biasanya orangutan kalau di pohon yang tinggi itu jarang banget mau turun. Nah ini, ibu dan anak ini seperti menyerahkan diri. Turun ke tempat yang nggak ada pohon. Sampai ke tanah loh, bayangin coba. Pasrah kan berarti," ujar Paulinus mengenang momen tersebut, Rabu (4/3/2026) kepada Tribun Kaltim.

Paulinus menggambarkan bahwa kondisi sang induk saat ditemukan seperti seorang ibu yang menjadi gelandangan dengan anak kembar. 

Beban sang induk pun ganda, karena harus memproduksi susu untuk dua bayi sekaligus di tengah kelangkaan sumber pangan, di mana kawasan landscape Hutan di Perdau terhimpit oleh pertambangan dan perkebunan sawit. 

"Yang biasanya dia harus makan satu kilo satu hari, sekarang jadi dua kilo, double, untuk menyesuaikan kebutuhan susu anaknya. Sementara kondisi habitatnya di kawasan temuan tidak memungkinkan," sambungnya.

Fenomena bayi kembar ini disebut Paulinus sangat langka.

Temuan bayi kembar pada orangutan liar merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi. 

Paulinus mencatat ini adalah satu dari sekian ratus kasus yang pernah terdengar.

Awalnya, tim sempat ragu apakah kedua bayi tersebut berasal dari induk yang sama. 

Namun, setelah melihat ukuran tubuh yang identik, tim menyimpulkan bahwa keduanya adalah kembar dengan usia diperkirakan sekitar satu tahun lebih.

“Jadi memang, ini keajaiban lah ya kasus penyelamatan ini menurut saya, begitu sudah berhasil diambil induknya atau ibunya, anaknya juga kita pisahin dulu. Kita cek induknya, kita lock on body scoring juga gak ada masalah ternyata. Ya secara fisik masih bagus ibunya. Kita masih memungkinkan untuk hidup liar cuma daya dukung habitat yang butuh perhatian untuk di masa depan, karena bayinya ini masih kecil, masih satu tahun lebih lah,” terangnya.

Habitat Terfragmentasi: Terjepit Sawit dan Tambang

Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa lokasi penemuan orangutan tersebut berada di wilayah yang sangat riskan. 

Habitatnya terfragmentasi, artinya kantong-kantong hutan yang tersisa sangat kecil dan tidak lagi saling terhubung.

"Kiri kanan sudah ada kegiatan-kegiatan pembangunan lainnya. Terfragmentasi itu tidak tersambung dengan hutan yang lain. Sehingga kemungkinan untuk bertahan hidup layak itu mungkin perlu diragukan," jelas Ari.

Kawasan tersebut diketahui berada di areal konsesi yang berbatasan langsung dengan perkebunan sawit dan pertambangan batu bara di wilayah Bengalon, Kutai Timur.

Akhirnya, orangutan tersebut di translokasi ke area HCV (high conservation value), semacam kawasan hutan di konsesi perkebunan milik perusahaan yang tidak dirambah karena punya nilai konservasi tinggi.

Mengingat kondisi induk yang sudah cukup lelah dan keselamatan bayi yang menjadi prioritas utama.

BKSDA Kaltim memutuskan untuk melakukan translokasi ke area yang lebih aman namun tetap dalam satu lanskap, agar keluarga kecil tersebut bisa hidup layak di ‘rumah baru’ mereka. 

Baca juga: 5 Fakta Bayi Orangutan Ditemukan di Kebun Sawit di Kutim, Kondisi Stres, Demam dan Luka

Lokasi pelepasliaran di aea High Conservation Value (HCV) milik salah satu perusahaan di dekat lokasi penemuan ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit perjalanan darat.

Pihak BKSDA dan perusahaan pemilik areal HCV berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan intensif guna memastikan sang induk orangutan mampu memberikan suplai makanan yang cukup bagi kedua bayi kembarnya di masa depan.

"Kami tidak bisa melakukan pelepasliaran pada lokasi yang jauh karena sangat memperhatikan keselamatan satwa tersebut. Lokasi HCV ini dipilih berdasarkan kajian layak secara fisik, biologi, maupun sosial," ungkap Ari Wibawanto. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.