Konflik Timur Tengah Bayangi Ekonomi Jabar, 4 Sektor Industri Utama Ini Paling Rentan Terdampak
Seli Andina Miranti March 05, 2026 05:30 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran mulai memantik kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. 

Meski dampaknya belum terasa secara langsung di Indonesia, provinsi dengan basis industri besar seperti Jawa Barat dinilai menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terdampak.

Pengamat Perdagangan Internasional dari  Universitas Widyatama, Dwi Fauziansyah Moenardy, menilai, dampak awal yang paling mungkin terjadi adalah kenaikan harga energi, khususnya minyak dunia.

Baca juga: Pasar Tradisional Jabar Terancam Gejolak Global, Pengamat Desak Diversifikasi ke Indo-Pasifik

“Kalau kita fokusnya ke ekonomi Jawa Barat, memang belum ada dampak secara langsung, karena eskalasinya baru beberapa hari terakhir. Tapi secara tidak langsung, dampaknya pasti ada, terutama dari kenaikan harga minyak dunia,” ujar Dwi saat dihubungi, Kamis (5/3/2026).

Ia menjelaskan, jalur eskalasi konflik berada di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia yang mengalirkan sekitar 60–70 persen distribusi minyak dari Timur Tengah ke Asia Timur dan Asia Tenggara.

“Kalau sampai Selat Hormuz ditutup, harga minyak saya pastikan otomatis pasti naik. Karena ini jalur paling vital perdagangan minyak dunia,” kata dia.

Kenaikan harga minyak, menurut Dwi, akan berdampak berantai. Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan industri terbesar di Indonesia memiliki kebutuhan energi yang sangat tinggi. 

Ia menyebutkan sektor manufaktur, logistik, hingga transportasi akan langsung merasakan tekanan biaya.

“Biaya transportasi naik, biaya logistik naik, biaya produksi pasti naik. Kalau biaya produksi naik, harga barang otomatis ikut naik. Ini sederhana saja,” katanya.

Empat sektor industri utama Jawa Barat yaitu tekstil, alas kaki, elektronik, dan otomotif dinilai paling rentan terdampak. 

Selama ini, sektor-sektor tersebut menjadi tulang punggung ekspor provinsi ini.

“Tekstil Jawa Barat itu sangat terkenal dalam perdagangan internasional, alas kaki, elektronik, dan otomotif juga permintaannya tinggi. Jepang dan Amerika masuk top five tujuan ekspor Jawa Barat,” jelasnya.

Amerika Serikat sendiri merupakan salah satu mitra dagang utama Jawa Barat. Jika konflik terus meluas dan memicu perlambatan ekonomi global, permintaan dari negara-negara tujuan ekspor bisa menurun.

Baca juga: Konflik Geopolitik Diprediksi Picu Kenaikan Harga Emas, Jadi Target Investor Pindahkan Dana

“Perlambatan ekonomi dunia itu pasti akan berpengaruh ke Jawa Barat sampai ke level masyarakatnya. Ini juga akan mengganggu rantai pasok dunia, khususnya empat produk utama Jawa Barat tadi,” ujar Dwi.

Dampak berikutnya adalah potensi kenaikan inflasi di tingkat daerah. Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat, harga kebutuhan masyarakat ikut terdorong naik.

“Kalau harga energi naik, otomatis ini akan mempengaruhi tingkat inflasi. Daya beli masyarakat bisa terdampak. Tapi untuk persentasenya kita belum bisa hitung karena ini masih fase awal,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam beberapa minggu ke depan, jika eskalasi terus meningkat, perlambatan ekonomi sangat mungkin terjadi, terutama di provinsi dengan struktur industri besar seperti Jawa Barat.

“Wilayah dengan tingkat industri terbesar seperti Jawa Barat menurut saya akan paling terasa dampaknya,” pungkasnya.

Konflik AS-Israel Vs Iran

Perang di Timur Tengah yang terjadi saat ini melibatkan tiga negara yaitu Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah kota di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini menyebakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa petinggi militer Iran tewas.

Atas serangan tersebut, Iran melakukan serangan balasan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer dan asset AS yang berada di sejumlah negara Teluk, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Setelah menyerang pangkalan militer AS di Arab Saudi, Iran memperluas serangan balasan dengan menargetkan fasilitas AS yang berada di Timur Tengah. Pemerintah Arab Saudi menyatakan pada Selasa (3/3/2026) pagi Kedutaan Besar AS di Riyadh diserang dua drone, sehingga menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan kecil. 

Sejumlah negara meminta warganya keluar dari Arab Saudi. Namun, hal itu tidak mudah dilakukan karena sebagian besar wilayah udara ditutup dan banyak terjebak. (*) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.