Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Muhammad Nurkholis
TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - Guna menstabilkan harga kebutuhan pokok saat bulan suci Ramadan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar pasar murah di Kelurahan Doromukti, Kecamatan/Kabupaten Tuban, Kamis (5/2/2025).
Dalam pelaksanaan pasar murah tersebut, ratusan warga tampak berjubel mengantri untuk menebus berbagai kebutuhan rumah tangga.
Mulai dari ibu-ibu muda hingga lansia rela mengantri sejak siang hari demi mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Selain antrian bahan pokok, warga juga tampak menyerbu produk UMKM yang diborong dan dibagikan secara gratis oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky.
Dalam kegiatan tersebut, Khofifah menyebut sejumlah bahan pokok dijual di bawah harga pasaran. Telur yang di pasar dijual sekitar Rp30.000 per kilogram, bisa ditebus warga hanya Rp22.000 per kilogram.
Baca juga: Alasan Bupati Tuban dan Wakilnya Ganti Mobil Dinas Rp 1,8 M di Tengah Efisiensi APBD Kini Disoroti
Sedangkan daging ayam yang di pasaran rata-rata Rp42.000, dijual Rp30.000, minyak goreng yang biasanya Rp16.000 per liter dijual Rp13.000 per liter.
“Telur kita jual Rp22.000, daging ayam Rp30.000, minyak goreng Rp13.000,” ujarnya.
Selain itu, harga cabai rawit yang di pasaran mencapai sekitar Rp80.000 per kilogram dijual cuma Rp40.000 per kilogram.
Kemudian khusus bagi lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun, disediakan paket beras kemasan dengan harga Rp52.000 sebagai bentuk bantuan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan.
“Ada beras khusus lansia kita jual Rp52.000,” imbuhnya.
Baca juga: Sempat Jadi Sorotan KPK, 2.000 Lampu Jalan di Tuban Tuntas Terpasang
Saat Ramadan terlebih menjelang Idul Fitri menurut Khofifah biasanya terjadi peningkatan kebutuhan rumah tangga yang berdampak pada kenaikan harga. Karena itu, pasar murah dihadirkan sebagai bentuk hadirnya pemerintah kepada masyarakat.
“Mendekati Idul Fitri biasanya ada kenaikan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Maka kita hadir. Saya selalu berpesan, pertama digelar di pemukiman. Kedua, dijauhkan dari pasar tradisional, karena pasar murah ini bukan kompetitor pasar tradisional,” bebernya.
Menurutnya, pengendalian inflasi dan stabilisasi harga perlu dilakukan dengan memberikan keterjangkauan harga serta mendekatkan akses bahan pokok kepada konsumen.
Sementara itu, warga Kelurahan Doromukti, Siti Aminah (49), mengaku rela mengantri sejak pukul 12.00 WIB demi mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih murah.
“Dapat beras, bawang, tepung. Memang harganya lebih murah dari pasar,” ujaranya.