TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Momen Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Fahri Hamzah, saat meninjau RTH Papalimba Puday di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (5/3/2026).
RTH Papalimba Puday merupakan salah satu objek wisata terletak di Kecamatan Abeli yang menyuguhkan pemandangan teluk serta ikon daerah, yakni Jembatan Bahteramas.
Namun demikian, lokasi tersebut juga masuk dalam daftar kawasan kumuh yang akan ditangani oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari.
Dalam kunjungan kerjanya, Fahri Hamzah menilai panorama di Kawasan Papalimba Puday memiliki kemiripan dengan Selat Bosphorus di Turki.
"Saya berdiri di sini melihat ke arah sana, rasanya seperti melihat Selat Bosphorus di Turki. Jadi ini bisa kita sebut The Bosphorus of Indonesia," ujarnya.
Baca juga: 556 Hektare Kawasan Kumuh di Kendari, Wamen PKP RI Sarankan Penggunaan AI untuk Desain Kawasan
Menurut Fahri, sejumlah hal yang perlu dibenahi di kawasan tersebut antara lain pemeliharaan lingkungan, sanitasi, serta pengelolaan sampah.
Dia menilai salah satu tantangan yang kerap dihadapi adalah keterbatasan tenaga kebersihan, sehingga diperlukan keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan.
Fahri menambahkan, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sekitar 12.781 wilayah pesisir yang dihuni masyarakat.
Oleh karena itu, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 1.100 Kampung Nelayan Merah Putih secara bertahap hingga 2027.
Sementara itu, secara keseluruhan diperkirakan terdapat sekitar 11.000 kampung nelayan dan pesisir di seluruh Indonesia.
Baca juga: Wamen PKP Minta Gubernur Sulawesi Tenggara Arahkan Perusahaan Tambang Hilirisasi ke Sektor Wisata
"Kalau kita tata seperti ini, kita bisa bilang setahun seribu Maldives. Artinya, semua kawasan pesisir itu bukan lagi tempat kumuh," jelasnya.
Dengan penataan tersebut, kawasan yang sebelumnya tergolong kumuh diharapkan dapat berubah menjadi destinasi wisata yang menarik bagi masyarakat.
Selain mengunjungi RTH Papalimba Puday, Fahri bersama Pemkot Kendari juga meninjau sejumlah rumah tidak layak huni di Kelurahan Poasia tepatnya di bawah Jembatan Bahteramas.
Dalam kunjungan tersebut, dia didampingi Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Rombongan berjalan menyusuri jalan setapak di permukiman warga yang jarak antar rumahnya sangat berdekatan.
Baca juga: Momen Wamen Viva Yoga, Bupati dan Wabup Konawe Utara Tanam Padi Gogo di Kawasan Transmigrasi Hialu
Fahri dan Siska melewati deretan rumah permanen sebelum memasuki bagian dalam kawasan.
Semakin jauh ke dalam, kondisi hunian warga terlihat semakin sederhana.
Beberapa rumah berdinding papan, sementara sebagian lainnya berbentuk rumah panggung yang dibangun di atas permukaan laut.
Saat melintasi kawasan tersebut, tampak dua orang anak bermain menggunakan matras yang mengapung di atas air.
Berdasarkan data Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kendari, Kelurahan Poasia memiliki luas permukiman sekitar 5,51 hektare.
Baca juga: Wamen Transmigrasi Viva Yoga Pertama Kali ke Konawe Utara, Disambut Tari Umoara dan Mondotambe
Jumlah penduduknya 390 jiwa dengan total 213 unit bangunan, kawasan tersebut saat ini masuk dalam kategori kumuh ringan. (*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)