TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Inilah dampak dua kapal Pertamina terjebak di Selat Hormuz.
Kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping yang masih terjebak di selat Hormuz akibat adanya perang di kawasan tersebut.
Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah ini membuat seluruh aspek terdampak.
Bahkan Selat Hormuz ditutup demi keamanan.
Selat Hormuz merupakan salah satu rute pelayaran terpenting di dunia dan titik krusial untuk transit minyak.
Lokasinya berada di antara Iran dan Oman serta Uni Emirat Arab.
Baca juga: Momen Gubernur Sultra Berkali-kali Bertemu Menteri Bahlil Lahadalia Demi PAD Tambang, Listrik Desa
Jalur ini semacam sebuah koridor sempit di perairan yang lebarnya hanya sekitar 50 kilometer di pintu masuk.
Namun akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran memanas, jalur tersebut ditutup.
Sebelumnya, seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengatakan Senin bahwa Selat Hormuz telah ditutup.
Sosok itu mengabarkan terkait ancaman serangan yang akan terjadi jika ada kapal yang berani melintasi jalur tersebut.
Lantas seperti apa dampaknya di Indonesia?
Apalagi dua kapal terjebak di kawasan tersebut.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia enggan mengomentari lebih jauh terkait dua kapal Pertamina itu.
Saat ini dua kapal tersebut sedang bersandar menunggu situasi membaik.
"Terima kasih, terima kasih," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) dikutip dari Tribunnews.com.
Ia sempat mengatakan bahwa perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran belum mengganggu pasokan energi nasional, setidaknya hingga dua bulan ke depan.
Menurutnya, kondisi perang yang berlangsung lama akan berdampak pada pasokan energi.
Namun jika tak lama, hal tersebut menurutnya tak akan mengganggu begitu signifikan.
"Kalau sampai dengan sekarang pas belum terganggu, belum terganggu. Tapi ke depan kan pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu udah pasti. Sampai dengan satu-dua bulan ke depan insyaallah kita masih clear, insyaallah nggak ada masalah," katanya di Istana kemarin.
Menurut Bahlil dari total impor minyak mentah, sebanyak 25 persen bersumber dari Timur Tengah.
Distribusi minyak mentah tersebut melalui selat Hormuz yang kini ditutup Iran imbas perang dengan AS-Israel.
Menurut Bahlil akibat dari penutupan selat tersebut, Indonesia mengalihkan impor minyak mentah itu dari Amerika Serikat.
"Dan dari 25 persen itu kita sudah mengalihkan antisipasinya ke Amerika atau ke daerah negara-negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz. Itu aja. Jadi kalau menyangkut LPG nggak ada masalah. Jadi relatif clear-lah," katanya.
Baca juga: Anggota DPR Ingatkan Pemerintah akan Risiko Ekonomi Bagi Indonesia Pasca Penutupan Selat Hormuz
Selain itu, Bahlil memastikan stok BBM nasional aman menjelang idul fitri sekalipun ada perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
"Kemarin kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional, dan di situ kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, insya Allah semua aman, termasuk dengan LPG. Jadi nggak perlu ada keraguan, sekalipun memang ada terjadi dinamika global di Iran dan Israel," kata Bahlil.
Bahlil juga menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan setidaknya sampai hari raya Idul fitri.
Meskipun harga harga minyak mentah dunia naik, Bahlil mengatakan pemerintahtidak akan menaikkan harga BBM subsidi seperti Solar (Biosolar) dan Pertalite (RON 90).
"Saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa. Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran," katanya.
Sementara itu untuk harga BBM Non subsidi seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95, Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) menurut Bahlil akan mengikuti harga pasar sebagaimana yang diatur Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2022.
"BBM non subsidi itu memang mekanisme pasar," pungkasnya.
Dua kapal milik PT Pertamina terjebak di Selat Hormuz imbas konflik AS-Israel dan Iran.
Terkait hal itu, pemerintah Indonesia memiliki skenario.
Termasuk upaya diplomasi agar 2 kapal tersebut bisa dibebaskan.
Hal itu disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat konferensi pers pada Selasa (3/3).
Ia membenarkan dua kapal PT Pertamina terjebak di Selat Hormuz.
Bahlil mengatakan sedang dilakukan upaya diplomasi.
Dengan begitu diharapkan, kapal yang mengangkut minyak mentah bisa keluar dari wilayah konflik.
"Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan," ujar Bahlil.
Namun Bahlil juga mengungkapkan skenario terburuk jika kedua kapal itu tidak bisa keluar.
Nantinya Indonesia akan membeli minyak mentah dari wilayah yang pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz.
Selain itu pemerintah juga bersiap mengimpor minyak dan LPG dari AS. (*)
(Tribunnews.com)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)