TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Suasana duka mendalam menyelimuti kediaman Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Jalan Madiun Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).
Sejak sore hari, rumah tersebut dibanjiri lalu lalang warga yang datang silih berganti mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol belasungkawa.
Acara doa bersama ini digelar untuk melepas kepergian Pimpinan Tertinggi (Rahbar) Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu, bersama sejumlah pejabat tinggi dan warga sipil.
Pantauan di lapangan menunjukkan warga terus berdatangan dari berbagai arah, baik melalui pintu masuk depan di kawasan Masjid Agung Sunda Kelapa, maupun pintu samping kediaman dari arah Jalan Ki Mangunsarkoro.
Di area masuk, nampak deretan karangan bunga dari berbagai kalangan, mulai dari politisi hingga akademisi, memenuhi halaman sebagai tanda penghormatan.
Gema lantunan Quran Surat Yasin dan tahlil terdengar khidmat dari dalam kediaman.
Tangis pecah di antara para pengunjung saat doa-doa dipanjatkan.
Isak sesegukan terdengar memilukan di sela-sela zikir, sementara beberapa warga tampak saling berpelukan erat guna menguatkan satu sama lain.
Baca juga: Tokoh NU, Muhammadiyah, MUI Merapat ke Istana, KH Anwar Iskandar soal BoP: Waktunya Mepet
Selain mendoakan, warga juga membubuhkan tanda tangan di papan petisi.
Agenda ini merupakan simbol solidaritas dan kepedulian kemanusiaan bagi rakyat Iran yang menjadi korban serangan.
Selain itu, aksi ini menjadi wujud komitmen terhadap nilai-nilai keadilan internasional atas tewasnya warga sipil dan anak-anak tak berdosa.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir memberikan dukungan moril, di antaranya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Ketua KPK Abraham Samad, hingga aktivis Wanda Hamidah.
Dalam sambutannya, Dubes Boroujerdi mengecam keras serangan militer tersebut.
"Beliau (Khamenei) telah menyumbangkan seluruh hidupnya untuk kemuliaan umat Muslim. Ia percaya bahwa untuk menjadi umat yang agung, kita harus mengambil sikap tegas terhadap Zionis," tegasnya.
Dukungan tulus juga datang dari warga Bekasi, Nando Bahar dan Anya Silvia, yang datang membawa rombongan.
Mereka menuliskan isi hati pada secarik kertas dan memasukkannya ke kotak pesan yang disediakan.
"Situasi di sana sangat memprihatinkan. Semoga doa kita semua di Indonesia agar keluarga besar Iran tetap tabah," ujar Nando.
Sementara Anya terkesan dengan keteguhan sang Rahbar.
"Ibarat kata kalau orang Indonesia, mati satu tumbuh seribu. Harapannya akan ada generasi baru yang akan membela Iran," pungkasnya.