WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Berdasarkan data WHO tahun 2022 penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab kematian di dunia, yaitu dengan estimasi sebesar 19,8 juta kematian.
Salah satu penyakit jantung adalah gangguan irama jantung (aritmia) dimana Atrial Fibrilation (AF) merupakan aritmia yang paling umum.
Secara global, kasus Atrial Fibrilation (AF) merupakan aritmia yang paling umum, mencapai 59-60 juta di tahun 2019 dan terus meningkat secara signifikan.
Atrial Fibrilasi yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko stroke hingga 5 kali, risiko gagal jantung hingga 5 kali, risiko serangan jantung hingga 2 kali, risiko kematian jantung mendadak hingga 2,5 kali.
Baca juga: Gandeng dibimbing.id, Siloam Hospital Tingkatkan Skill Olah Data Para Staf Hingga Dokter
Pada 2024 – 2025, Siloam Hospitals TB Simatupang menemukan fakta bahwa 33 persen dari pasien stroke yang dilakukan deteksi dengan monitor ambulatori(holter) terbukti memiliki aritmia.
37 persen dari pasien stroke di SHTB merupakan usia produktif. Selain itu, dalam periode 2024 – 2025 ada sekitar 1723 pasien aritmia yang berhasil dideteksi dan ditangani dengan baik
AF yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti stroke atau gagal jantung dan meningkatkan risiko suddent cardiac death.
Oleh karena itu, sejalan dengan Pulse Day Campaign yang diselenggarakan oleh Asia-Pacific Heart Rhytm Society (APHRS) dan Indonesian Heart Rythm Society (InaHRS), Siloam Hospitals TB Simatupang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, meluncurkan kampanye edukatif Lets Check The Beat untuk mengajak masyarakat mengenal aritmia, faktor risikonya dan melakukan deteksi dini dengan EKG Screening.
Risiko Stroke 5 Kali
Atrial Fibrilasi yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko stroke hingga 5 kali, risiko gagal jantung hingga 5 kali, risiko serangan jantung hingga 2 kali, risiko kematian jantung mendadak hingga 2,5 kali.
Di Asia sendiri diprediksi akan ada 75 juta kasus pada tahun 2050. Pada 2024 – 2025, Siloam Hospitals TB Simatupang menemukan fakta bahwa 33 persen dari pasien stroke yang dilakukan deteksi dengan monitor ambulatori (holter) terbukti memiliki aritmia.
37 persen dari pasien stroke di Siloam Hospitals TB Simatupang merupakan usia produktif. Selain itu, saat ini sudah ada sekitar 1723 pasien aritmia yang berhasil dideteksi dan ditangani dengan baik.
Pemantauan kondisi jantung secara berkelanjutan sangat penting karena atrial fibrilasi (AF) terdeteksi pada lebih dari 20 persen penyintas stroke dalam tiga tahun dibandingkan sekitar 2,5 persen melalui pelayanan reguler.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyakit jantung sudah menjadi tantangan besar kesehatan global dan nasional.
Seperti diketahui, penyakit jantung merupakan salah satu penyakit pembunuh nomor satu di dunia dan di Indonesia. Karena itu, pengendaliannya menjadi prioritas dalam kebijakan transformasi kesehatan, khususnya pada penguatan upaya promotif, dan preventif.
Baca juga: Pusat Rujukan Berstandar Internasional, Siloam Hospitals Asri Capai 500 Transplantasi Ginjal
Salah satu bentuk gangguan jantung yang perlu mendapat perhatian serius adalah Atrial Fibrilasi (AF). Sekitar sepertiga pasien AF tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sampai terjadi komplikasi seperti stroke atau gagal jantung.
Padahal, AF yang tidak tertangani dapat meningkatkan risiko stroke secara signifikan. Inilah mengapa skrining dan deteksi dini menjadi sangat penting.
Pemerintah telah melakukan berbagai langkah konkret, antara lain penguatan edukasi masyarakat melalui kampanye gaya hidup sehat dengan pesan CERDIK, pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk meningkatkan skrining dan deteksi dini faktor risiko dan penyakit jantung serta penyediaan alat EKG di Puskesmas guna mendukung diagnosis penyakit jantung di layanan primer.
Upaya ini diperkuat dengan peningkatan kapasitas dokter agar mampu melakukan interpretasi awal dan tata laksana sesuai kewenangan.
Berdasarkan data ASIK CKG sejak Februari s/d Desember 2025 tercatat sudah 2.415.198 peserta usia ≥ 40 tahun dengan hipertensi dan/atau DM dari 11.033.438 peserta atau sudah melampaui target program sebesar 20 persen atau 2.206.687 orang yang dilakukan pemeriksaan EKG.
"Kami memandang kampanye Lets Check The Beat yang akan dilakukan oleh Siloam Hospitals TB Simatupang sebagai inisiatif yang sejalan dengan arah kebijakan nasional, karena menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk mengenali irama jantungnya dan melakukan pemeriksaan sejak dini. Harapannya, program ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat terus berlanjut serta berkontribusi nyata dalam menurunkan angka prevalensi kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung dan stroke, termasuk mencegah terjadinya stroke pada usia yang semakin muda," ujarnya.
dr. Erika Maharani, Sp.JP(K) - Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) mengatakan, data menunjukkan bahwa jumlah pasien aritmia terus meningkat, sementara sistem pelayanan masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur, distribusi tenaga subspesialis aritmia yang belum merata, akses terhadap terapi definitif seperti ablasi jantung dan perangkat implan yang masih terbatas, serta dukungan pembiayaan yang belum sepenuhnya optimal.
Baca juga: Penyakit Jantung Ancam Remaja, Young Health Summit 2025 Dorong Gaya Hidup Sehat
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI/InaHRS) menyusun Cetak Biru Rencana Pengembangan Aritmia Nasional yang selaras dengan enam pilar Transformasi Kesehatan, dengan fokus pada penguatan deteksi dini, perluasan akses layanan, pembentukan registri nasional berbasis data, penguatan pembiayaan berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi digital.
Inisiatif ini diharapkan dapat menghadirkan layanan aritmia yang lebih merata, mudah diakses, dan berbasis bukti di seluruh Indonesia, sehingga berkontribusi pada penurunan angka stroke dan kematian jantung mendadak sekaligus memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional.
Sejalan dengan semangat Pulse Day 2026, kami juga menyampaikan apresiasi kepada Siloam Hospitals atas inisiatif kampanye kesadaran aritmia “Let’s Check The Beat”, yang menunjukkan pentingnya kolaborasi antara organisasi profesi dan penyedia layanan kesehatan dalam meningkatkan deteksi dini serta edukasi masyarakat.”
dr Grace Frelita, MM, Chief of Medical Officer Siloam International Hospitals, menyampaikan komitmen Siloam International Hospitals terhadap penyakit jantung,
“Kami berkomitmen memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakat melalui ketersediaan layanan komprehensif kelas dunia, teknologi canggih dan terkini, serta tim multidisipliner untuk layanan jantung. Kami memiliki 14 pusat pelayanan jantung terpadu, lebih dari 250 dokter spesialis dan subspesialis jantung, dan telah melakukan lebih dari 2.100 operasi jantung dan lebih dari 15.800 prosedur Cath Lab setiap tahunnya. Komitmen ini terus kami jaga sebagai upaya mendukung masyarakat Indonesia lebih sehat. Kami bangga, salah satu pusat pelayanan jantung ada di Siloam Hospitals TB Simatupang yang fokus pada artimia," paparnya.
Penderita AF Lebih Muda
Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dan Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang serta ahli aritmia di Indonesia, menjelaskan, secara global data menunjukkan hingga 40 persen pasien stroke iskemik berhubungan dengan AF.
Khususnya stroke pada orang muda, umumnya berkaitan dengan AF. Data studi Optima yang dilakukan di 25 senter di seluruh Indonesia, menemukan bahwa penderita AF di Indonesia lebih muda dibanding negara maju, dan cakupan pencegahan stroke bagi mereka masih sangat rendah.
Terapi AF meliputi tata laksana faktor risiko dan komorbid, pencegahan stroke, kendali laju atau irama jantung, dan evaluasi berkala karena dinamisitas AF.
Kendali irama yaitu mengembalikan irama AF ke irama normal (irama sinus) merupakan upaya ideal yang menjadi pilihan para ahli aritmia. Ablasi kateter pada AF terbukti lebih efektif dan aman dari pada obat-obatan.
Baca juga: Pertama di Indonesia, Heartology Lakukan Operasi Jantung Minimal Invasif Tiga Prosedur Sekaligus
Melakukan ablasi pada AF dini yaitu kurang dari 1 tahun terbukti bukan hanya memperbaiki kualitas hidup tetapi juga dapat mencegah stroke dan memperpanjang harapan hidup.
Di Siloam Hospitals TB Simatupang, prosedur ablasi dengan teknologi terkini seperti RFA (Radio Frequency Ablation), CBA (Cryo Ballon Ablation) dan PFA (Pulse Field Ablation) telah menjadi prosedur standar dalam tata laksana aritmia.
"Sebaliknya, ablasi juga kini bermanfaat untuk pasien dengan laju jantung yang terlalu rendah yang sering menyebabkan sinkop/pingsan karena aktivitas saraf vagus yang berlebihan. Dulu pasien seperti ini memerlukan pemasangan alat pacu jantung," ujarnya.
Ablasi Tanpa Pemakaian X-ray
Siloam Hospitals TB Simatupang telah melakukan penanganan berbagai prosedur diagnosis dan intervensi pada jantung dan pembuluh darah. Meskipun belum lama berdiri, pusat aritmia SHTB telah berhasil melakukan tindakan ablasi pada 110 kasus aritmia kompleks.
Terobosan terkini pada tata laksana aritmia SHTB adalah ablasi tanpa pemakaian X-ray yaitu non fluoroscopic ablation.
Prosedur ini mengeliminasi paparan radiasi sehingga lebih aman bagi pasien.
Aritmia bisa dideteksi dan dapat ditangani sejak dini. Untuk itu, edukasi menjadi sangat penting. Hal ini yang menjadi latar belakang kampanye edukatif Let’s Check The Beat.
Kampanye Lets Check The Beat
Mada Shinta Dewi- CEO Siloam Hospitals TB Simatupang, menjelaskan, tujuan kampanye Let’s Check The Beat adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus membantu pemerintah dalam menurunkan beban yang ditimbulkan akibat aritmia.
Pada 2024 – 2025, Siloam Hospitals TB Simatupang menemukan fakta bahwa 33 persen dari pasien stroke yang dilakukan deteksi dengan monitor ambulatori(holter) terbukti memiliki aritmia.
Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk lebih paham mengenai aritmia supaya tidak memandang remeh kondisi ini karena mempunyai risiko yang tinggi terhadap stroke bahkan dapat menyebabkan kematian mendadak.
Kampanye Lets Check The Beat menyediakan deteksi dini risiko aritmia melalui EKG Screening setiap hari Kamis dan Jumat jam 10.00 – 12.0 WIB dan Sabtu di jam 09.00 – 11.00 WIB di Siloam Hospitals TB Simatupang.
Baca juga: Siloam Hospitals TB Simatupang RS Swasta Pertama Sediakan Alat Laboratorium Thromboelastography
Selain itu, juga akan ada edukasi ke masyarakat dan dokter-dokter spesialis mengenai terobosan terkini penanganan aritmia.
Kampanye ini dimulai sejalan dengan Global Arrhythmia Awareness Week pada Maret hingga berakhir di September 2026, bertepatan dengan World Heart Day.
Siloam Hospitals TB Simatupang sebagai Pusat Artimia didukung oleh berbagai layanan seperti CT Scan 512 Slice generasi terbaru, Cath Lab yang dilengkapi dengan intracardiac echocardiography (ICE) yang mendukung tindakan non-fluoroscopic cardiac ablation dan dokter ahli aritmia terbaik di Indonesia serta perawat-perawat yang tersertifikasi.
"Dengan unggulan tersebut, kami berharap bisa menjadi mitra kesehatan bagi masyarakat serta rujukan bagi rumah sakit sekitar dalam penanganan artimia yang tepat dan cepat," tandasnya.
Testimoni Penyintas Stroke
Iwet Ramadan, Penyintas Stroke dan Campaign Ambassador mengatakan, sebagai penyintas stroke, ia sangat berhati-hati dalam menjaga kesehatan.
Mengetahui fakta bahwa stroke bisa berulang dan aritmia bisa menyebabkan stroke berulang, maka ia berinisiatif melakukan deteksi dini aritmia.
"Saya mengajak semua yang berisiko maupun yang tidak berisiko stroke untuk mencari informasi mengenai artimia, lakukan deteksi dini artimia terutama di RS yang memberikan layanan komprehensif untuk artimia, seperti manfaatkan EKG Screening gratis yang ada di Siloam Hospitals TB Simatupang," paparnya.