Perang Laut Meletus: Iran Serang Tanker Minyak AS di Teluk Persia, Harga Minyak Dunia Melonjak
Budi Sam Law Malau March 06, 2026 03:32 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Angkatan Laut Iran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengaku bertanggung jawab telah menyerang sebuah kapal tanker minyak milik Amerika Serikat di wilayah utara Teluk Persia pada Kamis (5/3/2026).

Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut serangan dilakukan menggunakan rudal oleh unit angkatan lautnya.

Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan kapal tanker tersebut masih terbakar setelah dihantam serangan.

Baca juga: Trump Sebut Spanyol Pecundang dan Inggris Mengecewakan, Karena Tolak Bantu Serang Iran

Serangan terhadap tanker ini diduga menjadi aksi balasan Iran setelah kapal perusak modern Iran IRIS Dena tenggelam di perairan dekat Sri Lanka sehari sebelumnya.

Kapal perang tersebut dilaporkan dihantam torpedo dari kapal selam Angkatan Laut Amerika pada 4 Maret 2026 ketika sedang berada di perairan internasional dan dalam perjalanan pulang dari latihan angkatan laut di India.

Sedikitnya 87 awak kapal tewas dan puluhan lainnya hilang, sementara 32 orang berhasil diselamatkan oleh tim penyelamat Sri Lanka.

Insiden ini disebut sebagai salah satu konfrontasi laut paling mematikan antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir dan memperluas wilayah konflik hingga Samudra Hindia.

Iran ancam tutup Selat Hormuz

IRGC juga menegaskan bahwa selama masa perang, hak navigasi di Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran sesuai dengan interpretasi mereka terhadap hukum internasional.

Korps elit tersebut memperingatkan bahwa:

  • kapal militer atau komersial milik Amerika Serikat, kapal Israel,
  • kapal negara-negara Eropa yang mendukung operasi militer Barat

Tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz.

IRGC bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal dari negara-negara tersebut yang terdeteksi di selat strategis itu akan menjadi target serangan.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati perairan tersebut.

Harga minyak dunia melonjak

Ketegangan di kawasan Teluk langsung mengguncang pasar energi global.

Harga minyak mentah Amerika (WTI) pada Kamis pagi melonjak sekitar 5,6 persen menjadi 78,80 dolar AS per barel, level tertinggi sejak awal 2025.

Kenaikan harga ini juga terjadi pada minyak Brent yang menembus sekitar 84 dolar per barel, seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap tanker dan ancaman penutupan Selat Hormuz.

Baca juga: Perang Total: Rudal 1 Ton Iran Hantam Bandara Ben Gurion, AS-Israel Gempur Teheran dan Kota Suci Qom

Lonjakan harga minyak tersebut berdampak langsung pada: kenaikan harga bensin di Amerika Serikat yang mencapai level tertinggi dalam 11 bulan terakhir, tekanan terhadap pasar saham global, indeks Dow Jones yang sempat turun sekitar 650 poin pada perdagangan pagi.

Risiko eskalasi konflik global

Para analis menilai serangan terhadap kapal tanker merupakan strategi Iran untuk menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) meskipun menghadapi serangan udara intens dari Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa hari terakhir.

Selain itu, langkah tersebut juga dipandang sebagai sinyal geopolitik bahwa jalur energi internasional tidak lagi aman selama konflik berlangsung.

Jika ketegangan terus meningkat dan Selat Hormuz benar-benar ditutup, pasar energi global diperkirakan akan menghadapi guncangan harga yang jauh lebih besar, dengan dampak langsung terhadap inflasi dan ekonomi dunia.

Kilang Minyak Bahrain Dirudal Iran

Pemerintah Bahrain secara resmi mengonfirmasi bahwa salah satu kilang minyak strategis milik BAPCO Energies menjadi sasaran serangan rudal yang diluncurkan dari arah Iran pada Kamis (5/3/2026).

Serangan ini menandai eskalasi drastis dalam perang yang telah berlangsung selama enam hari, sekaligus mengirimkan sinyal tajam bahwa infrastruktur energi vital di negara-negara Teluk kini berada dalam jangkauan langsung militer Teheran.

Ledakan di Jantung Energi Teluk

Berdasarkan siaran pers resmi pemerintah Bahrain, serangan rudal tersebut memicu kebakaran hebat di fasilitas BAPCO Energies.

Rekaman video yang diverifikasi secara geolokasi oleh CNN memperlihatkan detik-detik saat proyektil menghantam kompleks kilang, diikuti oleh kepulan asap hitam pekat yang membubung ke langit.

Meskipun otoritas Bahrain bergerak cepat untuk memadamkan api dan memastikan tidak ada korban jiwa, insiden ini tetap memicu kepanikan di pasar energi global.

Operasi kilang dilaporkan masih berjalan, namun tim teknis saat ini tengah melakukan penilaian kerusakan menyeluruh untuk memastikan keamanan struktural fasilitas tersebut.

Serangan terhadap Bahrain—yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat dan tuan rumah bagi Armada Kelima Angkatan Laut AS—dianggap sebagai langkah balasan Iran atas kampanye militer yang dipimpin Washington dan Israel.

Langkah ini menunjukkan perubahan taktik Iran.

Dengan menyerang kilang minyak secara langsung, Teheran tampaknya ingin membuktikan bahwa mereka mampu melumpuhkan urat nadi ekonomi negara-negara Teluk yang dianggap memberi ruang bagi operasi militer Barat.

Bahrain, yang sebelumnya lebih banyak berada di balik layar dalam konflik ini, kini secara tragis terseret ke garis depan pertempuran.

Pasar Energi di Titik Nadir

Insiden di Manama ini terjadi hanya beberapa jam setelah klaim IRGC mengenai penyerangan kapal tanker Amerika di Teluk Persia.

Kombinasi serangan terhadap aset minyak lepas pantai dan fasilitas pengolahan di darat telah menyebabkan harga minyak mentah global melonjak tajam ke level tertinggi dalam 14 bulan terakhir.

Para pengamat geopolitik memperingatkan bahwa jika serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut, stabilitas pasokan minyak dunia akan berada dalam ancaman serius.

"Ini bukan lagi sekadar adu kekuatan militer; ini adalah perang atrisi (war of attrition) yang menargetkan ketahanan ekonomi kawasan," ujar seorang analis energi di Timur Tengah.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pentagon mengenai bagaimana Washington akan merespons serangan terhadap wilayah kedaulatan sekutunya ini.

Namun, dengan semakin menyempitnya ruang diplomasi, dunia kini menunggu langkah balasan berikutnya yang berpotensi membawa kawasan ini ke dalam krisis keamanan yang lebih mendalam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.