Meraih Prestasi I’tikaf Sejati
Fitriadi March 06, 2026 08:03 AM

Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar

Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan i’tikaf di masjid.

I’tikaf ialah berdiam diri di masjid untuk melakukan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Swt.

Orang yang melakukan i’tikaf disebut mu’takif, jamaknya muktakifin.

I’tikaf ada syarat dan ketentuannya.

Baca juga: Hidup Bahagia dengan Qana’ah

Selama menjalankan i’tikaf tidak dibenarkan berhubungan suami-isteri, keluar masuk masjid tanpa keperluan, dan dianjurkan menutup aurat serta memperbanyak amalan ibadah seperti zikir, wirid, tafakkur, tazakkur, di samping shalat dan membaca ayat suci Alquran.

Rangkaian i’tikaf harus diawali dengan niat.

I’tikaf bisa beberapa hari, khususnya pada 10 hari terakhir bulan Ramadan dan bisa juga beberapa saat.

Inti i’tikaf sesungguhnya ialah ibadah rohani, yaitu dengan melakukan muhasabah atau mujahadah.

Sebagian ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan baik, maka sesungguhnya lebih baik baginya dari pada shalat sunnah.

Muhasabah bisa diisi dengan zikir dan wirid atau tafakkur dan tazakkur.

Zikir dan wirid sesungguhnya sama, hanya bedanya zikir menyebut dan mengingat nama-nama Allah secara umum tanpa ketentuan; sedangkan wirid ialah zikir yang sudah diatur jumlah dan ketentuannya secara rutin.

Tafakkur sudah tidak ada lagi bacaan dan hitungan. Yang ada ialah mengingat dan merenung masa lampau kita yang kelam lalu memohonkan ampun kepada Allah SWT.

Sedangkan tazakkur sudah tidak ada lagi ingatan yang aktif. Yang ada hanyalah ketenangan, kebisuan, dan kepasrahan.

Tazakkur ketika orang sedang berada pada puncak kekhusyukan, sehingga ia seolah-olah tidak menyadari diri kalau ia sesungguhnya berada pada tingkat kesadaran paling tinggi, tingkatan kesadaran para auliya dan para Nabi.

I’tikaf mempunyai beberapa tingkatan. I’tikafnya orang awam ialah datang ke masjid melakukan rangkaian ibadah formal seperti shalat lail, tahajjud, witir, mengaji atau tadarrusan, sesekali diisi oleh pengajian.

I’tikaf orang khawas lebih dari sekedar itu; bukan mengejar target-target kuantitas misalnya banyaknya rakaat shalat yang harus dilakukan, banyaknya juz Alquran yang dibaca, dan hebatnya penceramah yang ia dengar.

Yang penting bagi khawashul Mu’takifin ialah kualitas mujahadah yang dapat diraih.

Kalau perlu yang bersangkutan menembus tingkatan mukasyafah yaitu membuka hijab atau tabir yang selama ini menghalangi.

I’tikaf bisa mengantarkan seseorang kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi sehingga kemabruran Ramadhan terpancar selalu di wajah orang ini seusai bulan suci berlalu.

I’tikaf betul-betul menjadi momentum untuk menggunting dosa-dosa langganannya sehingga ia tampil beda seusai kembali ke hari Idul Fitri.

Beruntunglah orang-orang yang berhasil meraih prestasi i’tikaf sejati seperti ini.

Kita berharap dan sekaligus bermohon agar i’tikaf kita kali ini lebih intensif dan efektif.

Kualitas i’tikaf dapat diukur seberapa tenang dan pasrah pikiran dan hati di dalam menjalankannya.

Terkadang tidak terasa kita berada pada ujung malam tanpa sedikitpun merasakan rasa ngantuk dan kelelahan.

I’tikaf dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan samasekali tidak dirasakan lagi sebagai suatu beban.

Berbagai ibadah yang dilakukan di dalamnya menyenangkan, seperti tadarrus Alquran dan berbagai shalat sunnah.

Jiwa lembut, hati putih, pikiran lurus, dan akhlak karimah betul-betul terasa di dalam diri yang bersangkutan. Semoga kita bisa meraih indahnya i’tikaf.

Di dalam masyarakat modern, terutama yang tinggal di perkotaan, sudah selayaknya memprogram diri untuk mengikuti i’tikaf, baik i’tikaf mandiri, secara perorangan maupun berjamaah.

Ini penting untuk memberikan ruang istirahat kepada rohani atau batin seseorang guna meraih kesegaran kembali setelah dilelahkan oleh berbagai urusan dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.