Cerita Ridwan, Puasa di Negara Seribu Gurun, Menikmati Syahdu Lantunan Alquran 1 Juz Tiap Malam
Ayu Prasandi March 06, 2026 03:09 PM

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Menjalankan ibadah puasa di negara yang terkenal dengan sebutan negara seribu gurun, membuat mahasiswa asal Indonesia cukup semangat dan terkagum-kagum.

Meski jauh dari keriuhan takbir keliling dan aroma takjil khas tanah air, Muhammad Ridwan Yusuf Alhamzy, justru menemukan makna puasa yang lebih mendalam.

Selama Menjalankan ibadah puasa di Negara Libya, ia merasakan oase spritual yang membuatnya lebih khusyuk beribadah tanpa distraksi.

Bagi Mahasiswa Semester 7 di Universitas Al-Asmaryah Al-Islamiyah, Libya ini bukan kali pertama ia menjalankan ibadah puasa di negeri orang.

Diceritakannya, ini kali keempat melaksanakan ibadah puasa di Libya. Dan tahun ini pelaksanaan ibadah puasa berbarengan dengan musim dingin.

"Saya sudah melaksanakan ibadah puasa keempat di Libya. Saat ini memasuki musim dingin dengan cuaca 18 derajat celcius. Karena musim dingin, durasi puasanya sama seperti di Indonesia 12 jam. Sahur pukul 06.17 waktu Libya. Dan berbuka pukul. 18.54 waktu Libya,"jelasnya saat diwawancarai Tribun Medan, Jumat (6/3/2026). 

Bagi mahasiswa yang tinggal di Kota Zliten, Libya ini, puasa di negara seribu gurun selalu dirindukannya. Pasalnya ibadah puasa yang dijalankan jauh lebih khusyuk.

"Yang selalu membuat saya senang menjalankan ibadah puasa di sini saat pelaksanaan tarawih. Di sini tarawihnya 10 rakaat dan dilanjutkan 3 rakaat witir. Tapi menariknya, setiap satu kali tarawih itu bacaan salatnya satu Juz,"ucapnya.

Menurutnya, setiap Ramadan,nikmat terindah yang diberikan Tuhan kepadanya. Sebab, jika Tarawih tidak putus, maka akhir Ramadan, ia bisa mengkhatamkan Al-Quran.

"Jadi nanti di hari terakhir puasa dan tarawih secara tidak langsung kita sudah khatam Al-Quran. Itu nikmat yang luar biasa dari ALLAH," ucapnya. 

Bukan hanya itu, saat memasuki waktu Salat Ashar di bulan Ramadan di Libya, itu banyak ummat muslim yang berlama-lama di Masjid.

"Apalagi kalau salat ashar di sini selama Ramadan. Itu biasanya kalau bukan bulan puasa gak Full, shaff salatnya. Tapi kalau Ramadan Shaffnya Full," jelasnya.

Diterangkannya, setelah Salat Ashar, banyak warga yang tidak buru-buru pulang. Mereka tetap di Masjid sambil menunggu buka puasa.

"Dan mereka itu rata-rata sambil menunggu buka puasa, habis salat Ashar mengaji. Ada banyak juga orang yang bersedekah kasih makanan bukaan di masjid dan bahkan anak-anak Indonesia kebanyakan juga ikut kegiatan ini," ucapnya.

Baginya, selama Ramadan di Libya, suara lantunan Al-Quran mulai bergema setelah selesai Ashar hingga Tarawih. Bukan hanya itu, banyak juga warga yang berbagi makanan. 

Meski begitu, diakuinya ada rasa rindu dengan keluarga dan suasana Ramadan di Indonesia.

Baginya, berkumpul dengan keluarga adalah momen yang paling dirindukan.

"Pastinya rindu kumpul keluarga, buka dan sahur sama keluarga. Apalagi berburu takjil buka puasa terutama beragam makanan gorengan,"kenangnya.

Menurutnya, jika di Libya pelaksanaan ibadah puasa tak ada festival berburu takjil. Tetapi adanya berbagi makanan.

"Jadi kalau mau makan gorengan masak sendiri. Kalau di Indonesia bisa langsung beli sepuasnya," ucapnya. 

Walaupun jauh dari keluarga, Ridwan mengaku senang menjalankan ibadah puasa di Libya. 

"Enggak ada kesulitan selama Ramadan di sini kecuali ketika sahur yang kadang suka kesiangan. Tapi itu bukan jadi masalah besar. Sejauh ini, bisa dekat dengan Al-Quran sudah jauh lebih menenangkan hati," ucapnya. 

(Cr5/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.