Masyarakat Mulai Panic Buying, Pemerintah Diminta Segera Jelaskan Posisi Stok BBM
Choirul Arifin March 06, 2026 05:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah didesak segera memberikan penjelasan yang komprehensif kepada masyarakat terkait dengan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Desakan itu digaungkan lantaran beberapa hari belakangan ini, masyarakat di sejumlah daerah sudah mulai ramai-ramai antre membeli BBM karena mendengar isu stok BBM di Indonesia hanya tersisa untuk 21 hari.

"Seharusnya itu otomatis ya Pertamina dan KESDM melakukan komunikasi dengan stakeholder termasuk dengan masyarakat supaya enggak panik," kata pengamat energi Hadi Ismoyo kepada Tribunnewscom, Jumat (5/3/2026).

Menurut Hadi, pemerintah juga masih memiliki banyak waktu untuk menambah stok BBM yang ada saat ini.

Selain melakukan impor dari Amerika Serikat seperti yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI (ESDM) Bahlil Lahadalia, tetapi juga bisa dari negara lain termasuk Venezuela.

Dia menegaskan, stok atau cadangan minyak dunia masih melimpah, sehingga pemerintah harusnya bisa memberikan penjelasan lebih detail yang menenangkan masyarakat.

"Kalau satu hilang masih ada dua lagi yg menggantikannya. Belum masuknya Minyak Venezuela. Artinya stock cukup hanya masalah harga dan spec saja. Tinggal bagaimana memanage alokasi anggaran," kata Hadi.

Hal senada juga disampaikan, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi yang meminta pemerintah untuk bisa memperbaiki cara komunikasi agar tidak menimbulkan panik yang meluas di masyarakat.

Baca juga: Panic Buying Muncul di Tengah Konflik Geopolitik, Pertamina Patra Niaga: Pasokan BBM Aman

Kata dia, pemerintah sudah seharusnya bisa mencari opsi untuk mengimpor BBM dari negara lain selain Amerika Serikat guna menginisiasi cadangan yang habis.

"Jadi pemerintah melalui Bahlil dalam komunikasi publik itu harus benar-benar bisa dipahami oleh rakyat gitu ya. Jadi misalnya kalau 21 hari enggak cukup, apa yang akan dilakukan? Beli Singapura misalnya, beli dari Malaysia sehingga ada satu jaminan itu ya," ucap dia.

Langkah menjadikan Amerika Serikat sebagai importir BBM pengalihan dari Timur Tengah menurut Fahmy, merupakan suatu hal yang kurang efisien.

Pasalnya, masih ada distribusi minyak dari Amerika Serikat terganggu karena ketegangan dengan Iran. Maka dirinya meminta kepada pemerintah untuk mengambil opsi dengan impor dari negara tetangga.

"Kalau hanya apa 21 hari cukup, dari mana dia akan beli atau bahkan mengatakan blunder beli dari Amerika," kata dia.

Baca juga: Kekhawatiran Perang Timur Tengah Picu Antrean BBM di Daerah, Ini Respons Pemerintah-Pertamina

"Nah, dalam kondisi sekarang ini yang paling tepat itu ya dari negara tetangga yang jaraknya itu dekat sehingga risikonya itu juga dapat ditekan. Ya Malaysia, Singapura gitu ya. Singapura memang tidak- bukan negara penghasil minyak itu ya, tapi selama ini dengan berbagai fasilitas yang dimiliki itu menjadi bursa minyak dunia itu ya. Jadi sewaktu-waktu Indonesia bisa beli dari situ meskipun harganya bisa lebih mahal gitu ya," tukas Fahmy.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia hanya berkisar 21-25 hari.

Bahlil menjelaskan, rata-rata stok BBM nasional hanya 22-23 hari bukan karena keterbatasan pasokan energi, tetapi keterbatasan fasilitas penyimpanan.  

"Kapasitas tangki yang ada belum memungkinkan penambahan cadangan dalam jumlah lebih besar. Kalau kita mau tambah, kita simpan di mana? Storage-nya memang belum cukup,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah untuk meningkatkan kapasitas storage guna memperkuat ketahanan energi nasional.  

Upaya tersebut dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage supaya ketahanan energi kita ada. Storage-nya berapa lama? Insya Allah rencana sampai dengan tiga bulan," katanya.

Pernyataan Bahlil soal stok BBM tersisa 21 hari itu langsung viral dan menuai beragam reaksi dari masyarakat. 

Di beberapa wilayah bahkan telah terjadi antre BBM yang mengular akibat masyarakat yang panic buying. 

Setelah kejadian ini viral, kini Bahlil pun menyampaikan klarifikasi soal ucapannya tersebut. 

Bahlil menjelaskan, stok BBM yang ia maksud bukanlah cadangan untuk kondisi darurat, melainkan kemampuan daya tampung atau storage yang sudah dimiliki oleh Indonesia. 

Eks Menteri Investasi itu menerangkan, minimal standar nasional stok BBM berada di kisaran 20-21 hari, sementara cadangan maksimalnya 25 hari. 

"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Dimana rerata ketahanan cadangan BBM secara nasional kata Bahlil, berada di level 22-23 hari.

Hal itu karena memang, Indonesia tidak memiliki storage atau tangki yang bisa menyimpan minyak untuk jangka waktu lebih panjang, atau dalam artian Indonesia memiliki keterbatasan storage.

Bahlil meminta agar informasi mengenai ketahanan stok BBM tidak disalahartikan sebagai sinyal darurat.  

Ia memastikan persoalan yang dihadapi berkaitan dengan infrastruktur penyimpanan, bukan ketersediaan energi di dalam negeri.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.