KDM MURKA! Kasus Pencurian Labu Siam Berujung Maut di Cianjur Disebut Dosa Besar, Aparat Disentil
Lulu Adzizah F March 06, 2026 05:42 PM

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bereaksi setelah mengetahui kronologi lengkap dari kasus pencurian berujung maut di Cianjur.

Sebelumnya, kasus tersebut jadi sorotan karena sampai menimbulkan kematian.

Pria yang meninggal itu adalah Minta (56) seorang warga Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Karena ketahuan mencuri, Minta dianiaya penjaga kebun berinisial UA (41) hingga terluka parah.

Dua hari setelah penganiayaan, nyawa Minta tak tertolong hingga meninggal dunia pada Senin (2/3/2026).
 
Menurut kesaksian sang adik, Cucum Suhendar, Minta diduga terpaksa mencuri labu siam untuk dimasak dan jadi makanan berbuka puasa bersama ibunya yang sudah tua.

Atas kejadian tersebut, Dedi Mulyadi langsung mengundang keluarga dan aparat desa tempat Minta tinggal.

Dalam pertemuan itu, Dedi Mulyadi mencoba menelaah kronologi dari kasus pencurian hingga berujung kematian tersebut.

Dari cerita sang adik dan apara desa, Dedi Mulyadi mendapati adanya kelalaian dan ketidakpekaan sosial dari kejadian tersebut.

Setelah dianiaya, Minta terluka parah hingga sempat tak sadarkan diri.

Ironinya, sang adik yang juga sebagai saksi kejadian tak langsung membawa Minta ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.

Sontak hal itu membuat Dedi Mulyadi tampak kesal, dan menanyakan alasannya.

Cucum Suhendar beralasan tidak segera dibawa ke rumah sakit karena keluarga bingung mencari kartu BPJS dan terkendala tidak punya uang.

“Kan dia (Minta) pingsan gak sadar-sadarkan diri, jadi cari-cari BPJSnya gak ada,” ujar Cucum Suhendar.

Tak hanya itu, pasca kejadian Cucum Suhendar sebagai keluarga tak melaporkan kejadian dan kondisi Minta kepada aparat desa setempat.

Hal itu membuat apara desa mengetahui kejadian itu pun terlambat.

“Kan kalau ada orang yang digebukin nih, waktu itu RT, RW, kepala dusun harusnya tahu untuk dibawa ke rumah sakit,” ujar Dedi Mulyadi.

Cucum akhirnya mengakui kesalahannya tersebut karena tak membawa Minta ke rumah sakit dan tak melaporkan kejadian kepada aparat setempat.

Diketahui aparat RT baru mengetahui kejadian pada hari Minggu dari seorang ustaz.

RT tersebut mengaku dirinya hanya menindaklanjuti masalah tersebut dengan RW kepada pelaku agar diselesaikan secara kekeluargaan.

Ironinya, RT tersebut pun tak langsung melihat kondisi Minta sebagai korban penganiayaan.

RT itu juga berdalih sebelum dapat kabar dari ustaz, ia tak mendapat laporan baik dari korban maupun pelaku.

Sontak hal itu membuat Dedi Mulyadi kembali emosi dan kecewa.

“Nah ini problemnya, kenapa korbannya gak ditengok, korban dalam keadaan luka parah, kemudian kan harusnya di bawah ke rumah sakit, ujar Dedi kesal.

Menurut Dedi, dengan penanganan medis yang cepat mungkin nyawa korban bisa tertolong.

Adapun Kepala Dusun (Kadus) dan aparat desa juga baru mengetahui kejadian setelah korban meninggal dunia.

“Ributnya sudah meninggal, harusnya kan hidup pas masih hidup,” sindir Dedi Mulyadi.

Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengaku sangat menyesalkan kejadian tersebut bisa terjadi.

Dedi menilai Minta meninggal dunia juga karena akibat kelalaian dan keterlambatan penanganan medis.

“Yang paling saya sesali, fungsi aparat itu, pak RT/RW sudah tahu tapi tidak ada tindakan untuk menyelamatkan dibawa ke rumah sakit, menurut saya ini dosa besar,” sindir Dedi Mulyadi.

Menurut Dedi Mulyadi sikap lalai dan respons aparat itu bisa dikatakan dosa besar karena tidak ada inisiatif untuk membawa ke rumah sakit.

Dedi juga kembali menyoroti sikap adik korban yang tak peka dan tak dewasa saat menghadapi kejadian tersebut.

“Saya jujur aja sebagai Gubernur, marah,” ucapnya.

Dedi menilai sikap lalai dari aparat RT/RW hingga aparat desa itu karena ketidakpekaan sosial.

Dedi juga kesal, merasa masalah warga miskin sering dianggap sepele hingga akhirnya viral atau berakibat fatal.

(*)

# Gubernur Jawa Barat # Dedi Mulyadi # kasus pencurian # berujung maut # Cianjur # kematian # Desa Talaga # Cugenang #

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.