Renungan Hari Ini Sabtu 7 Maret 2026, Menjadi Misionaris Belas Kasih
Gordy Donovan March 07, 2026 10:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan hari ini Sabtu 7 Maret 2026.

Tema renungan hari ini "menjadi misionaris belas kasih".

Renungan hari ini untuk hari Sabtu pekan II Prapaskah hari Sabtu Imam, Perayaan fakultatif, Santa Perpetua dan Filisitas, Martir, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Sabtu 7 Maret 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Teks Misa Hari Minggu 8 Maret 2026 Pekan III Prapaskah Tahun A

Bacaan Pertama Mikha 7:14-15.18-20

"Semoga Tuhan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut."

Nabi berkata, “Ya Tuhan, dengan tongkat-Mu gembalakanlah umat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri. Mereka terpencil, mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka merumput di Basyan dan Gilead seperti pada zaman dahulu kala.

Perlihatkanlah kepada kami tindakan-tindakan ajaib seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir. Adakah Allah lain seperti Engkau, yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan pelanggaran yang dilakukan oleh sisa-sisa milik-Nya sendiri, yang tidak murka untuk selama-lamanya, melainkan berkenan pada kasih setia?

Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham sebagaimana telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm. 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.

Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!

Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!

Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.

Setinggi langit dari bumi, demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya! Sejauh timur dari barat, demikianlah pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya.

Bait Pengantar Injil Lukas 15:18
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya, "Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa".

Bacaan Injil Lukas 15:1-3.11-32

"Saudaramu telah mati dan kini hidup kembali."

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka. “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya, ‘Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.’

Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu, lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Setelah dihabiskan harta miliknya, timbullah bencana kelaparan di negeri itu, dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi.

Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: ‘Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa; aku tidak layak lagi disebut anak Bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan Bapa.’

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, dan pakaikanlah kepadanya; kenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya.

Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.’

Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang. Ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruing dan nyanyian tari-tarian.

Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semua itu. Jawab hamba itu, ‘Adikmu telah kembali, dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatkan kembali anak itu dengan selamat’.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya,

‘Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Tetapi baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.’

Kata ayahnya kepadanya, ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali’.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

"Menjadi Misionaris Belas Kasih"

Kutipan Injil hari ini dalam Alkitab diberi judul “Perumpamaan tentang anak 
yang hilang” (Luk. 15:11-32). Setelah membaca dan merenungkannya, ada 
orang yang merasa lebih tepat memberinya judul “Perumpamaan tentang Bapa 
yang murah hati atau Bapa yang berbelas kasih.” Atau, bisa juga orang 
memberinya judul, “Perumpamaan tentang anak sulung yang baper.” Dalam 
bahasa Inggris, kisah perumpamaan tentang anak yang hilang tersebut dikenal 
dengan “the prodigal son.” 

Kata “prodigal” berarti boros atau royal. Sekarang pertanyaannya adalah siapa 
yang royal, yang boros? Apakah anak bungsu yang dikenal sebagai anak yang 
hilang? Bukan! Ternyata yang royal, boros itu semuanya: anak bungsu, anak 
sulung, dan bahkan sang bapa sendiri juga boros. Koq bisa semuanya?!  
Pertama, anak bungsu. Si bungsu ini royal boros dalam hal dosa. Apa saja 
dosanya? Dia minta warisan atau lebih tepatnya menuntut harta warisan, 
padahal bapanya masih hidup, “Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik 
kita yang menjadi hakku.” Selama orang tua atau bapanya masih hidup, harta 
tersebut tidak bisa disebut warisan atau bagian harta milik sang anak. Semua 
harta sepenuhnya milik sang bapa.

Semua harta itu adalah hak milik bapanya, bukan milik anak-anak. Terserah bapanya mau memberi atau tidak, mau mewariskan atau tidak. Tetapi, si anak bungsu mengklaim harta tersebut dan 
menuntutnya. Berikutnya, si bungsu memboroskan harta tersebut dan berfoya
foya. Dalam kehidupan real sehari-hari masyarakat kita pun tidak jarang 
dijumpai peristiwa serupa. Ada anak yang tidak tahu diri dengan menuntut harta 
warisan bahkan tega memenjarakan orang tuanya hanya demi harta warisan. 
Ada juga yang saling melukai atau membunuh antar saudara sendiri gara-gara 
warisan. 

Kedua, anak sulung. Si sulung itu royal boros dalam hal kerja dan baper (bawa 
perasaan). Ia gila kerja, tapi egois tanpa memedulikan hati keluarganya. 
Seolah-olah dengan bekerja keras, ia melayani keluarganya. Ia merasa diri 
sebagai anak yang taat, alim, saleh, pekerja keras. Ia mengklaim diri bahwa 
dirinya lebih baik dari adiknya dan telah melayani bapanya dengan taat dan 
bekerja keras.

Ia katakan, “Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa.” Si anak sulung merasa sudah sepantasnya dan seharusnya, kalau telah bekerja dan taat melayani bapanya, ia 
mendapatkan bagian yang terbaik dan lebih disayang bapanya. Oleh karena itu, 
ia baper, emosi dan marah-marah ketika tahu adiknya yang telah memboroskan 
harta itu dipestakan. Dalam kehidupan sehari-hari baik yang rohani maupun 
profan pun, sering kita jumpai sikap anak sulung itu.

Ada orang yang merasa telah rajin berdoa, ke gereja, dan berbuat baik, menganggap diri paling hebat. 
Tanpa sadar kemudian timbul sikap menganggap rendah yang lain. Mudah 
mencap negatif mereka yang tidak rajin doa, tidak rajin beribadah, tidak suka 
berbuat baik, dsb. Mereka ini merasa diri paling layak masuk surga dan terdepan 
dalam hal kebaikan. Sikap yang tumbuh adalah sombong rohani. 

Ketiga adalah sang bapa. Bapa itu boros dalam hal kemurahan hati dan belas 
kasih. Sang Bapa jor-joran dalam hal kerahiman dan belas kasih. Ia sungguh 
murah hati dan berlimpah kerahiman. Ketika anak bungsunya meminta harta 
warisan, ia memberikannya. Ketika ia pulang dengan keadaan yang 
mengenaskan, sang bapa pun cepat-cepat menyambut dan memeluknya.

Tiada kemarahan dan umpatan mengusir pergi pada si bungsu karena telah 
memboroskan harta dan mengecewakannya. Sebaliknya, sang bapa 
memestakan kepulangan si bungsu dan mendadaninya bak pangeran. Ia 
perintahkan, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, dan pakaikanlah 
kepadanya, kenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya. Dan 
ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan 
bersukacita.” 

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga hidup boros? Boros yang mana, boros 
dosa, boros baper, atau boros belas kasih? Masa Prapaskah ini, saatnya kita 
berbenah untuk menjadi berkat. Kita berbenah dan berubah dari boros dosa dan 
baper menuju royal belas kasih dan kemurahan hati. Kita menempa diri menjadi 
misionaris belas kasih supaya semakin banyak orang merasakan cinta Allah(NW, 
Dirnas Karya Kepausan Indonesia). 

Doa:  

Bapa yang Maharahim, kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang selalu 
menanti kepulangan kami dengan tangan terbuka. Ampunilah kami saat kami 
menjauh dari-Mu demi mengejar kesenangan duniawi, dan ampunilah pula kami 
saat kami menjadi sombong dan menutup hati bagi sesama kami yang bersalah. 
Berilah kami kerendahan hati seperti si bungsu untuk berani mengakui dosa
dosa kami, serta berilah kami kelembutan hati seperti-Mu agar kami mampu 
bersukacita atas pertobatan orang lain. Semoga rumah-Mu selalu menjadi 
tempat kami bernaung dan kasih-Mu menjadi satu-satunya kekuatan hidup 
kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami...Amin. 

Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Sabtu, hari ke 16 Masa Prapaskah. 
Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam 
nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Sumber the katolik.com/adiutami.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.