Ancaman Campak Bayangi Yogyakarta Meski Imunisasi Tinggi
Iwan Al Khasni March 07, 2026 06:14 PM

 

Tribunjogja.com -- Capaian imunisasi yang tinggi ternyata belum sepenuhnya mampu membebaskan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari ancaman campak. 

Meski cakupan vaksinasi tahun 2025 telah melampaui 98 persen, Dinas Kesehatan DIY mencatat 57 kasus positif campak hingga awal Maret 2026. 

Kasus ini dipicu oleh adanya kelompok kecil masyarakat yang masih menolak imunisasi.

Data surveilans Dinas Kesehatan DIY menunjukkan bahwa dalam dua bulan pertama tahun ini, hingga 3 Maret 2026, ditemukan 349 kasus suspek campak. 

Dari jumlah tersebut, 57 kasus telah terkonfirmasi positif melalui uji laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, menegaskan bahwa temuan ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Meskipun angka penularan signifikan di awal tahun, penanganan medis berhasil mencegah fatalitas. Hingga kini tidak ada kasus campak yang berujung kematian di DIY,” jelasnya.

Secara statistik, DIY sebenarnya telah mencapai syarat minimal terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) melalui program imunisasi nasional. 

Cakupan imunisasi campak tahun 2025 mencapai 98,2 persen untuk dosis pertama dan 96,1 persen untuk dosis kedua. Namun, resistensi sebagian kecil masyarakat terhadap vaksin menciptakan celah bagi virus untuk tetap menyebar.

“Masih terdapat kelompok kecil yang menolak imunisasi di beberapa wilayah. Kami melakukan pendekatan lintas sektor, termasuk pendidikan dan keagamaan, untuk membantu sesuai kewenangannya. Namun, sebagian tetap menolak karena faktor keyakinan,” ungkap Anung.

Dinas Kesehatan DIY kini memperkuat advokasi dengan menggandeng tokoh agama dan pemangku kebijakan pendidikan guna memberikan edukasi persuasif. 

Anung mengingatkan bahwa campak bukan penyakit ringan, melainkan sangat menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada balita.

“Pencegahan paling efektif tetap melalui imunisasi dan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” tegasnya.

Selain mengejar cakupan imunisasi pada kelompok rentan, masyarakat juga diimbau untuk kembali mendisiplinkan PHBS sebagai benteng tambahan menghadapi ancaman penyakit menular di awal tahun 2026.

Campak Terdeteksi di Kota Yogyakarta

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat enam kasus positif campak sepanjang Januari hingga Februari 2026. Meski situasi relatif terkendali dibandingkan tren nasional, Pemkot menyoroti fenomena masih adanya orang tua yang enggan memberikan vaksin kepada anaknya.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menjelaskan bahwa dari 45 kasus suspek campak yang diperiksa melalui laboratorium, enam di antaranya dinyatakan positif.

“Kalau dibandingkan nasional, di sini relatif aman terkendali, tidak masuk kategori KLB (Kejadian Luar Biasa),” ujarnya, Kamis (5/3/2026).

Yang mengkhawatirkan, seluruh pasien positif campak tersebut tidak memiliki riwayat vaksinasi. 

Lana menegaskan, kendala bukan karena stok atau akses vaksin, melainkan adanya penolakan dari sebagian orang tua. Fenomena anti-vaksin ini masih ditemukan meski layanan imunisasi tersedia gratis di Puskesmas dan sosialisasi sudah digencarkan.

“Pendekatannya sudah lintas sektor, dengan wilayah Kemantren, Kelurahan, hingga tokoh agama. Tapi kalau sudah beranggapan vaksin tidak perlu, ya agak sulit,” jelasnya.

Enam pasien campak terdiri atas satu bayi di bawah satu tahun, satu anak usia 5 tahun, satu anak usia 6 tahun, dua anak usia 8 tahun, serta satu orang dewasa berusia 28 tahun. Seluruh pasien kini telah sembuh, tanpa laporan kematian akibat komplikasi.

Lana menekankan bahwa capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Kota Yogyakarta sebenarnya sangat tinggi, mencapai 95–97 persen. Namun, sisa kecil warga yang menolak vaksin menjadi celah bagi virus untuk tetap menyebar.

“Tidak ada kata terlambat untuk vaksinasi susulan, khususnya bagi anak-anak yang terlewat jadwal imunisasinya. Vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan, booster di usia 18 bulan, dan kembali diperkuat saat BIAS kelas 1 SD,” pungkasnya. (Tribunjogja.com/Han/Aka)

• Bertambah 2, Total Pasien Campak di Sumenep yang Meninggal jadi 22 Orang

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.