TRIBUNNEWS.COM - Kecelakaan laut berupa tugboat atau kapal tunda yang terbalik di perairan galangan kapal PT ASL Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau, masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.
Insiden terbaliknya tugboat tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026) sore itu menewaskan tiga orang kru kapal, satu orang selamat, dan satu orang masih dalam pencarian.
Tugboat atau kapal tunda merupakan jenis kapal yang memiliki tenaga besar.
Kapal ini memiliki tenaga besar untuk menarik kapal yang berukuran besar.
Tugboat biasanya ditemukan di pelabuhan maupun di kanal sungai.
Biasanya, kapal ini digunakan untuk menarik kapal pesiar atau kapal besar lainnya menuju dermaga pelabuhan.
Dari keterangan saksi, peristiwa bermula terjadi sekitar pukul 14.30 WIB saat sebuah kapal karbo dengan lumbung Kyparissia berbendera Malta siap untuk sandar di area galangan kapal.
Kapal besar tersebut pun dibantu oleh tugboat bernama Mega untuk melakukan pemanduan dan mengendalikan manuver kapal menuju dermaga.
Mengutip TribunBatam.com, setengah jam kemudian, kondisi lokasi dilaporkan hujan dan angin kencang.
Tiba-tiba, tugboat Mega tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terbalik.
Sekitar pukul 15.15 WIB atau 15 menit setelah kapal terbalik, tim penyelam dari PT Global Marine Engineer langsung melakukan pencarian di lokasi kapal terbalik.
Baca juga: Tugboat Terbalik Saat Pandu Kapal Tanker Bersandar di Batam: 3 Orang Tewas
Tiga kru kapal ditemukan dalam kondisi meninggal saat itu.
Korban bernama Abdul Rahman, Guntur Pardede, dan Johnson Bertuahman Damanik.
Satu kru bernama Habib Ansyari yang berstatus anak buah kapal (ABK) berhasil selamat dari insiden tersebut.
Adapun satu kru lainnya bernama Yusuf Tankin hingga kini masih dalam pencarian dan diduga masih berada di dalam badan kapal yang terbalik.
Keponakan Yusuf Tankin, Roy, saat ini masih berada di lokasi terbaliknya kapal dan ingin menyaksikan langsung proses pencarian yang dilakukan oleh tim SAR.
"Tadi malam juga saya sudah ke perusahaan, kata pihak perusahaan agar menunggu di Rumah Sakit Aini, karena semua korban akan dibawa ke rumah sakit."
"Tapi sampai seluruh jenazah dibawah keluarganya pulang, Om saya tidak ada," kata Roy, sambil menunggu proses penyelamatan pamannya, Sabtu (7/3/2026).
Kepada TribunBatam.com, ia menuturkan akan membawa pamannya ke Samarinda setelah ditemukan.
"Saya juga di Batam ini tinggal di mes, kebetulan kapal saya lagi berlayar. Sementara saya tinggal di Kalimantan,"
"Keluarga semuanya sudah berkumpul di Samarinda," kata Roy.
Ia menuturkan, kampung halaman pamannya berada di Samarinda, Kalimantan Timur.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunBatam.id, Beres Lumbantobing/Pertanian Sitanggang)