Kisah Sedih Esih di Pasar Kalipucang Pangandaran: 20 Tahun Jualan Baju, Kini Nangis Sepi Pembeli
Ravianto March 07, 2026 08:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Deretan pakaian anak-anak hingga baju dewasa tergantung rapi di lapak kecil milik Esih (53) di Pasar Tradisional Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. 

Warna-warni pakaian yang tertata itu seolah mengundang perhatian, namun tak banyak orang yang singgah untuk melihat, apalagi membeli.

Perempuan paruh baya itu hampir dua dekade menghabiskan waktunya di pasar Kalipucang.

Sejak sekitar 20 tahun lalu, Esih menggantungkan penghasilan keluarganya dari berjualan pakaian.

Di lapaknya, ia menjajakan beragam jenis pakaian, mulai dari busana anak-anak hingga pakaian untuk orang dewasa. 

Barang dagangannya ia peroleh dari sejumlah grosir. Sesekali ia pun harus pergi hingga ke Cirebon untuk berbelanja stok.

Baca juga: Ratusan Brand Hadir, Pengunjung Berburu Baju Lebaran Lokal di Trademark Market Bandung

"Sudah hampir 20 tahun saya jualan di sini. Barang biasanya saya ambil dari grosir, kadang belanja ke Cirebon."

"Saya jual macam-macam, dari pakaian anak sampai pakaian orang dewasa," ujar Esih di Pasar Kalipucang, Sabtu (7/3/2026) siang.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, suasana pasar mulai berubah. Jumlah pembeli yang datang ke lapaknya menurun drastis. 

Kondisi itu bahkan terasa menjelang momen yang biasanya ramai, seperti menjelang Hari Raya Idulfitri sekarang.

Menurut Esih, keadaan tersebut sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Pada masa itu, menjelang Lebaran lapaknya hampir tak pernah sepi dari pengunjung.

"Biasanya kalau mau Lebaran seperti ini toko ramai, tapi sekarang sepi sekali," katanya.

Esih menilai perubahan pola belanja masyarakat menjadi satu penyebab utama turunnya jumlah pembeli.

Kehadiran pasar online membuat banyak orang beralih berbelanja melalui ponsel.

Tak jarang, pengunjung datang hanya untuk melihat model pakaian di lapaknya, lalu memutuskan membeli melalui toko online karena harga yang dianggap lebih murah.

"Sekarang banyak yang beli online. Bahkan ada yang lihat modelnya di sini, tapi belinya di online karena katanya lebih murah, banyak diskon," ucap Esih.

Esih pun sempat mencoba mengikuti tren dengan berjualan secara online. Namun upaya tersebut tidak berjalan mulus. 

Esih mengaku kesulitan memahami sistem penjualan digital yang menurutnya cukup rumit.

Selain itu, ada pula biaya tambahan yang harus dikeluarkan agar produk yang dijual dapat menjangkau lebih banyak calon pembeli.

"Saya pernah mau coba online, tapi susah. Banyak aturannya, harus bayar iklan juga supaya jangkauannya luas. Saya juga sudah tidak muda lagi, jadi agak susah mengerti," ujarnya.

Di tengah perubahan zaman dan persaingan dengan pasar digital, Esih memilih tetap bertahan menjaga lapaknya. 

Ia berharap pasar tradisional seperti Pasar Kalipucang dapat ditata dan dikelola lebih baik agar kembali menarik minat pengunjung.

Menurutnya, penataan pasar yang rapi dan pengelolaan yang baik bisa menjadi satu cara untuk menghidupkan kembali aktivitas jual beli di pasar tradisional.

"Harapannya sih pasar bisa ditata dan dikelola lebih rapi. Kalau pasar rapi mungkin pengunjung juga lebih banyak datang," ucap Esih. *

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.