Model Kebaya Milik Pratiwi Collection Jadi Tren Lebaran 2026 di Tasikmalaya
Dedy Herdiana March 07, 2026 11:03 PM

 

Laporan wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin 

TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Jelang Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026, tren baru kebaya bordir Encim Tasikmalaya tengah populer dengan sentuhan desain modern.

Kebaya bordir Encim Tasikmalaya bukan sekadar tren musiman, tapi merupakan simbol pertemuan antara tradisi, kreativitas, teknologi, budaya dan ekonomi.

Bahkan, Kebaya Encim menjadi simbol keharmonisan keluarga saat lebaran dengan model yang bervariatif.

Saat ini produksinya meningkat drastis, bahkan permintaan tidak hanya datang dari wilayah Priangan Timur, tetapi juga dari berbagai kota di Indonesia hingga pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam

Harga yang dipasarkan terbilang terjangkau dan tak menguras kantong berkisar Rp50 ribu sampai Rp150 ribu dengan sasaran kelas ekonomis hingga menengah.

Usaha ini dimiliki H Eva Pratiwi (40) dan suaminya Angga (40) dengan mengusung nama Pratiwi Collection yang beralamat di Perum Sambong permai blok A, Kota Tasikmalaya.

"Kebaya bordir Encim hadir sebagai alternatif busana lebaran yang elegan dengan harga terjangkau makanya tidak heran jika tren ini menjadi pilihan utama masyarakat pada Lebaran 1447 H," ucap Angga yang juga pemilik Pratiwi Collection dikonfirmasi TribunPriangan.com, Minggu (7/3/2026).

Baca juga: Meski Terdampak Perang Iran vs AS-Israel, Produksi Tas Brand Hirakiya Asal Tasik Tetap Berjalan

Ia menjelaskan, produksi kebaya ini sangat menjanjikan tidak hanya hari raya saja, tapi hari besar lain pun sangat dibutuhkan dan dicari konsumen.

Bahkan, awalnya mereka hanya memproduksi mukena dan baju koko. Namun melihat peluang pasar yang menginginkan busana tradisional dengan tampilan modern, mereka melakukan eksperimen desain kebaya Encim.

Tak disangka, desain tersebut justru mendapat respons luar biasa menjelang Lebaran 1447 H.

“Kebaya bordir Encim mempertahankan model klasik, tapi dengan inovasi warna dan desain sehingga terlihat lebih segar dan menawan. Detail bordir memberikan kesan berkelas,” ungkap pria yang disapa Abem ini.

Angga menuturkan, produksi mukena dan baju koko sudah dirintis belasan tahun yang lalu.

Namun untuk produksi kebaya Encim di tempatnya telah berjalan sekitar enam bulan terakhir dan langsung menjadi tren pasar.

"Alasannya beralih ini karena sekarang anjuran pemerintah Kamis nyunda dan ini menjadi potensi menyuplai kebutuhan anak sekolah dan ibu yang kerja dan seragam hajatan," jelasnya.

Beberapa model kebaya yang diproduksi seperti kebaya kartini, kebaya encim, kebaya renda dengan motif bordir warna yang berbeda.

Dirinya mengaku, untuk permintaan membuat rumah produksi kecil ini bekerja ekstra keras dengan dibantu sembilan orang pekerja yang menangani proses dari pemotongan kain, bordir, jahit, hingga packing, produksi mencapai ribuan potong.

"Kita memang berjualan lewat marketplace dan lonjakannya sangat drastis. Dalam sehari saja rata-rata ada 100 resi. Padahal kita baru berjalan 6 bulan jualan di marketplace, tapi grafiknya lumayan membantu," tuturnya.

Ketika ditanyai konflik Timur Tengah, ia mengaku sampai sekarang belum terdampak, karena pembelian bahan belum terhambat.

"Saat ini aman, karena kebutuhan kita sudah penuh dan punya stok, masih aman. Tapi kalau berkepanjangan konflik ini pasti ada dampaknya," jelas Angga.

Dirinya juga harus memberi bahan baku seperti aksesoris dari China yang lebih murah dan banyak model.

"Hanya kurs rupiah akan berpengaruh, kita belum beli bahan banyak, paling sesudah lebaran, biasanya distributor akan menaikan harga bahan baku," kata Angga.

Dirinya juga berharap konflik Timur Tengah dapat segera selesai, karena dampaknya meluas hingga sektor usaha di Tasik dan daerah lain.

"Tentunya kita berharap konflik Timur Tengah dapat segera usai," tuturnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.