Pembawa Lentera di Tengah Kegelapan
Edi Sumardi March 07, 2026 11:04 PM

Aqila Dary Arrifda 

Siswi Kelas XI SMAN Model Terpadu Madani Palu/Juara I Lomba Esai Persahabatan Jepang-Indonesia

SUSU selalu menjadi teman setia saat saya menunggu tayangan Doraemon, anime Jepang favoritku sejak kecil hingga sekarang.

Sore itu, 28 September 2018, pukul 17.02 WITA, saya tengah asyik menonton televisi sambil menikmati segelas susu seperti biasa.

Tidak ada firasat apa pun.

Tiba-tiba, suasana rumah berubah panik ketika, ibu saya, atau panggilan kesayangan, Mami menerima informasi dari media sosial bahwa telah terjadi gempa bumi berkekuatan 7,5 SR di Kota Palu, Sulawesi Tengah, kota kelahiran ayah, atau Papi kami.

Kami, sekeluarga yang tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan, sontak diliputi kekhawatiran.

Kekhawatiran itu semakin besar karena komunikasi dengan keluarga di Palu terputus sama sekali.

Ironisnya, gempa itu bertepatan dengan pelaksanaan Festival Budaya Nomoni, sebuah perayaan tahunan yang diselenggarakan untuk mempromosikan pariwisata sekaligus melestarikan budaya Kaili, suku asli Kota Palu. 

Tidak lama berselang, muncul kabar yang lebih mengejutkan: gempa tersebut memicu tsunami setinggi tujuh meter dan likuifaksi yang menyebabkan tanah bergerak seolah hidup, menenggelamkan rumah-rumah beserta penghuninya.

Bencana yang datang bertubi-tubi itu akhirnya merenggut 4.340 nyawa.

Di tengah duka yang begitu dalam, uluran tangan dari berbagai penjuru dunia berdatangan, termasuk dari Jepang.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii, menyampaikan belasungkawa sekaligus komitmen negaranya dalam sebuah press briefing di Kementerian Luar Negeri Jakarta.

Ia menegaskan bahwa Jepang akan selalu siap mendukung Indonesia melewati masa sulit ini, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Komitmen itu langsung diwujudkan. Pada 3 Oktober 2018, pemerintah Jepang mengirimkan Japan Disaster Relief (JDR) Self-Defense Unit, sebuah lembaga yang dibentuk khusus untuk membantu negara-negara yang dilanda bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia.

Satu pesawat Hercules C-130H bersama sekitar 51 personel bertolak menuju Palu untuk membantu penanggulangan bencana melalui jalur udara.

Sementara itu, Japan International Cooperation Agency (JICA) menyalurkan 500 tenda, 20 alat pemurnian air (water purifiers), 20.000 flokulan untuk mengolah air limbah, dan 80 generator senilai total Rp 3 miliar.

Perusahaan-perusahaan Jepang yang tergabung dalam satu kelompok yang dinamakan Jakarta Japan Club pun turut bergerak, menyalurkan donasi melalui Palang Merah Indonesia (PMI) dan organisasi resmi lainnya.

Total donasi mereka melampaui Rp 5 miliar per 4 Oktober 2018. Seluruh bantuan itu ibarat lentera yang menerangi kegelapan pascabencana.

Hampir empat tahun kemudian, tepatnya 6 Agustus 2022, giliran keluarga kami yang harus berpindah ke Kota Palu karena urusan pekerjaan papi.

Saat itu saya duduk di kelas 2 SMP, dan ada rasa takut yang sulit disembunyikan.

Palu tercatat sebagai daerah dengan aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia, berdiri di atas Sesar Palu-Koro, sebuah patahan kerak bumi berdimensi besar yang menjadi pemicu gempa dahsyat 2018.

Bayangan bencana itu masih terasa begitu dekat.

Namun, ketakutan itu perlahan mencair setelah saya berkenalan dan berbagi cerita bersama sahabat-sahabat di MTsN 1 Kota Palu dan SMAN Model Terpadu Madani Kota Palu.

Mereka yang hidup dan merasakan langsung bencana itu justru menampilkan ketangguhan yang luar biasa.

Ketika berjalan-jalan mengitari kota, memang masih tampak puing-puing bekas gempa di sana-sini, tetapi Kota Palu terus berbenah.

Kerja keras itu berbuah penghargaan: Piala Adipura 2023 untuk kategori Kota Sedang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di bawah kepemimpinan Wali Kota Hadianto Rasyid adalah sebuah bukti nyata kebangkitan kota ini.

Kebangkitan Kota Palu tidak lepas dari peran Jepang, negara yang memiliki banyak kesamaan dengan kota ini. 

Secara geografis, keduanya sama-sama berada di kawasan rawan gempa dan tsunami.

Dari sisi keindahan alam pun ada kemiripan yang mencolok: Jepang terkenal dengan pantai dan pegunungan yang memukau, salah satunya Gunung Fuji, sementara Palu dijuluki "Kota 5 Dimensi" karena laut, sungai, pegunungan, teluk, dan lembah dapat terlihat sekaligus dalam satu pandangan.

Lebih dari sekadar kesamaan geografis, Jepang dan Palu juga terhubung melalui dunia ilmu pengetahuan.

Jepang memiliki pengalaman panjang dalam penelitian dan penanggulangan gempa serta tsunami, sehingga Palu menjadi salah satu objek kajian penting bagi para ilmuwan Jepang terkait struktur geologi dan mitigasi bencana.

Kerja sama intelektual ini memperdalam ikatan antara kedua pihak, melampaui sekadar hubungan donor dan penerima bantuan.

Salah satu wujud nyata kerja sama tersebut adalah pembangunan kembali Jembatan IV Palu, ikon kota yang luluh lantak akibat gempa dan tsunami 2018.

Didanai melalui hibah pemerintah Jepang lewat JICA, jembatan itu kini telah hadir kembali pada 2025 yang membentangkan secara kokoh hubungan Palu Barat dan Palu Timur.

Masyarakat Kota Palu menyambut peresmiannya dan penuh antusias sebagai simbol kebangkitan yang paling terasa dan paling terlihat.

Hubungan Jepang dan Palu pun terus dipererat melalui jalur diplomatik antarkota.

Pada 14 Juli 2025, Pemerintah Kota Palu menyambut kedatangan Wali Kota Iwanuma, Prefektur Miyagi, Jepang, Junichi Sato, untuk menyaksikan langsung proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Ia didampingi utusan JICA yang meninjau progres pembangunan Jembatan IV, serta utusan Japan Overseas Cooperative Association (JOCA) yang akan melanjutkan pendampingan fase kedua dalam peningkatan kesiapsiagaan bencana di sekolah-sekolah Kota Palu, menurut sumber di patform salah satu media sosial walikota Palu, @wali.kota.palu.

Wali Kota Junichi Sato menyampaikan harapan agar kunjungan ini mempererat hubungan Kota Palu dan Kota Iwanuma menjadi sister city dan brother mayor yang saling mendukung.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan penandatanganan Perjanjian Persahabatan Sister-Organisasi antara PRB Simpotove Tangguh Huntap 1 Tondo, Palu, dan Dewan Masyarakat Pengembangan Komunitas Tamaura-Nishi, Kota Iwanuma, Prefektur Miyagi, Jepang—sebuah ikatan persaudaraan yang terjalin dari kesamaan nasib dan tekad untuk bangkit.

Menyaksikan semua ini, saya teringat kembali pada segelas susu dan tayangan Doraemon di sore yang berubah kelam tujuh tahun silam.

Kehadiran Jepang dalam membantu Kota Palu bangkit terasa seperti Doraemon dengan kantong ajaibnya yang selalu hadir di saat yang paling dibutuhkan, membawa solusi ketika segalanya terasa mustahil.

Hatiku bangga dan bahagia menyaksikan negara asal anime favoritku itu menjadi bagian dari kebangkitan kota tempat tinggalku, tempatku menimba ilmu, dan tempat Papi mencari rezeki. 

Kota Palu dijuluki "Kota Satu Orang Satu Matahari" bukan hanya karena panasnya yang terik di bawah garis khatulistiwa, tetapi karena setiap orang memiliki peran dan kontribusi yang setara dalam membangun kota ini, seperti matahari yang menyinari semua tanpa membeda-bedakan.

 Jepang telah menjadi salah satu matahari itu. Terima kasih, Jepang, terima kasih Negeri Matahari Terbit.(*)

Naskah telah disunting oleh Ibu Meta Sekar Puji Astuti, Ph.D (Ketua program studi kajian Budaya, Dosen Prodi Departemen Sastra Jepang FIB UNHAS-PERSADA)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.