10 Materi Kultum Ramadhan 2026: Singkat, Beragam Tema, dan Menyentuh Hati
Evan Saputra March 08, 2026 12:03 AM

BANGKAPOS.COM - Menyemarakkan bulan suci bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menyebarkan syiar Islam melalui nasihat-nasihat penuh makna.

Kultum atau Kuliah Tujuh Menit menjadi momen yang paling dinanti, baik setelah Subuh maupun menjelang berbuka, untuk mengisi ruhani dengan siraman kalbu.

​Bagi Anda yang mencari inspirasi dakwah yang ringkas namun padat, berikut kami rangkum 10 contoh teks kultum Ramadhan 2026 dengan berbagai tema menarik mulai dari kesehatan, produktivitas kerja, hingga etika bermedia sosial lengkap dengan dalil Al-Qur'an dan Hadist sebagai referensi terpercaya.

Sesuai namanya, kultum Ramadhan biasanya disampaikan selama kurang lebih 7 menit baik di masjid maupun musala di beberapa momen tertentu.

Misalnya setelah sholat Subuh, sebelum berbuka puasa, dan antara sholat Isya dan sholat Tarawih.

Bagi Anda yang akan bertugas menyampaikan kultum Ramadhan 2026, berikut 10 contoh teks kultum dalam berbagai tema yang bisa menjadi inspirasi.

Contoh kultum Ramadhan 2026 singkat ini juga disertai dengan judul serta nukilan ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist yang sesuai dengan tema yang diangkat.

Contoh Kultum Ramadhan 2026 Singkat dalam Berbagai Tema

1. Keutamaan Menyiapkan Makan Sahur

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Hadirin yang dimuliakan Allah

Ibadah puasa harus dijalankan dengan penuh ketulusan. Sebagai bentuk ketulusan tersebut, kita harus mempersiapkan ibadah dengan sebaik-baiknya. Persiapan ini dapat berarti persiapan sebelum memasuki bulan puasa atau ketika sudah berada di bulan puasa.

Islam mengajarkan agar kita menyiapkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa dengan melakukan makan sahur. Makan sahur tidak hanya merupakan persiapan yang bersifat lahiriah, untuk menyimpan energi selama menjalankan puasa. Namun ada nilai keutamaan tersendiri di luar manfaat jasadiyah. Nilai-nilai itu telah dijelaskan dalam sejumlah hadis Nabi SAW dan penjelasan para ulama terhadap hadis tersebut.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dalam konteks menjelaskan nilai keutamaan sahur ini,

Rasulullah SAW menyabdakan:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

"Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan." (HR Bukhari: 1923 & Muslim: 1095).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari. Karenanya, kesahihan hadis tersebut tidak perlu dipertanyakan. 

Berdasarkan perintah dalam hadis tersebut, para ulama bersepakat disunnahkannya makan sahur. Imam al-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim, jilid 7 halaman 206, mengatakan:

"Para ulama bersepakat akan kesunnahan makan sahur, dan bahwa makan sahur bukan perkara yang diwajibkan."

Bapak Ibu yang Dirahmati Allah,

Arti keberkahan dalam hadis adalah ia mengandung banyak sekali kebaikan. Di antara bentuk kebaikan makan sahur adalah ia dapat membuat orang kuat menjalankan ibadah puasa dan membuat lebih bersemangat. Dengan seperti itu, berpuasa menjadi terasa lebih ringan dijalankan. Ketika puasa terasa ringan, ada keinginan untuk berpuasa lagi.

Berbeda dengan orang yang tidak makan sahur, ia akan merasa berat menjalankan puasa. Mungkin ia akan menganggapnya sebagai ibadah yang berat. Demikian penjelasan Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Jamaah Hafidzakumullah, 

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menulis beragam bentuk keberkahan makan sahur:

"Berkah dalam sahur dapat diperoleh dengan beberapa bentuk; mengikuti sunnah Nabi, menyelisihi ahli kitab, mengambil kekuatan untuk ibadah, menambah semangat, menolak perilaku buruk yang timbul akibat rasa lapar, mendorong sedekah kepada orang yang meminta sahur pada waktu sahur, berkumpul untuk makan sahur bersama, mendorong dilaksanakannya zikir dan doa pada waktu yang mustajab, membaca niat bagi orang yang lupa membaca niat sebelum tidur." (Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, jilid 4, halaman 140)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada poin yang menarik dalam penjelasan Imam Ibnu Hajar di atas. Yaitu, sahur menjadi sebab kita berbagi sedekah kepada orang lain yang membutuhkan makan sahur pada waktu sahur. Poin ini penting, tidak hanya bagi orang yang bersahur, tetapi bagi orang yang mau menyediakan makan sahur bagi orang lain. Poin ini sering dilupakan masyarakat kita. Memberi atau menyiapkan makan sahur untuk orang lain adalah suatu amalan yang utama.

Amalan menyiapkan makan sahur untuk orang lain sering dianggap remeh. Padahal, ia merupakan amalan sosial yang utama. Karena, amalan tersebut merupakan ibadah sosial yang dilakukan di bulan Ramadan untuk membantu orang yang akan menjalankan kewajiban agama. 

Dalam sebuah kaidah fikih dikatakan, al-muta’addi afdhalu min al-qashir. Artinya, ibadah yang dapat bermanfaat untuk orang lain lebih utama dibanding ibadah yang hanya kembali kepada pelakunya. Menyiapkan makan sahur adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. 

Al-Qur'an mengatakan: wa ta’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa (saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan).' Tidak diragukan lagi bahwa menolong orang lain yang akan menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah bentuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan. 

Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan, 'afdhalu as-shadaqah shadaqah fi Ramadan.' Artinya, sedekah yang paling utama adalah
sedekah di bulan Ramadan. Berbagi makan sahur atau menyiapkan makan sahur merupakan bentuk sedekah di bulan Ramadan.

Sampai di sini, dapat kita pahami bahwa makan sahur memiliki banyak kebaikan. Salah satu kebaikan itu adalah memberi kesempatan orang berbuat baik kepada orang lain dengan cara berbagi atau menyiapkan makan sahur. 

Sumber: Buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan (2024) terbitan Kementerian Agama

2. Mengawali Ramadan dengan Senyuman

Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jamaah yang Dirahmati Allah

Dalam Islam, ketika kita bertemu atau bersama orang lain, maka kita sangat dianjurkan untuk menampakkan wajah ceria dan senantiasa tersenyum. Sebaliknya, kita dilarang menampakkan wajah cemberut. 

Hal ini tentu juga berlaku saat kita menyambut dan bertemu kembali dengan Ramadan. Senyum merupakan simbol kebahagiaan. Saat mengawali Ramadan sudah seyogianya seorang muslim dan muslimah bahagia bertemu dengannya. 

Kita dapat membayangkan bahwa Ramadan itu bagaikan tamu agung yang akan berkunjung ke rumah kita. Laiknya tamu agung, kita pun perlu mempersiapkan jamuan yang pantas atas kedatangan tamu agung yang ditunggu-tunggu itu. Jamuan yang pantas kita sajikan untuk Ramadan berupa amal-amal ibadah, baik yang individual maupun sosial.

Bapak Ibu yang Dimuliakan Allah

Ibadah individual dapat dilakukan dengan cara konsisten menjalankan shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, melakukan ibadah umrah pada bulan Ramadan bila memungkinkan, dan terus berupaya memperbaiki diri. Sementara itu, ibadah sosial selama Ramadan dapat ditingkatkan dengan cara menyiapkan takjil untuk masyarakat yang membutuhkan, berderma kepada yang tidak mampu, dan menyantuni anak yatim, duafa, dan para janda.

Jamaah yang Dirahmati Allah

Saat Ramadan sudah dipastikan karena sudah terlihatnya hilal, sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia, Rasulullah saw. pun memanjatkan doa kepada Allah sebagaimana riwayat dari Thalhah bin Ubaidillah.

عن طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الهِلَالَ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاليُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، رَبِّي
  وَرَبُّكَ اللَّهُ» : «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ»

Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW itu ketika telah melihat hilal Ramadan, beliau berdoa; Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah (Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Hadis ini merupakan hadis hasan Gharib (HR Tirmidzi).

Jamaah rahimakumullah

Saking banyak keberkahan di bulan Ramadan terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Mas‘ud sebagai berikut:

"Kalau para hamba Allah tahu (secara kasat mata) keberkahan dalam bulan Ramadan, pasti umatku akan berharap supaya setahun penuh itu bulan Ramadan semua." (HR Ibn Abi al-Dunya, nomor 22)

Jamaah yahfazhukumllah Rasulullah selalu mengabarkan kepada para sahabatnya mengenai datangnya Ramadan sebagaimana riwayat Abu Hurairah berikut:

"Dari Abu Hurairah yang menyampaikan bahwa Rasulullah saw. pernah berpesan, 'Ramadan itu sungguh telah datang. Ia merupakan bulan berkah. Allah mewajibkan puasa Ramadan kepada kalian. Saat Ramadan tiba, pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan para setan pun terikat. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tak memperoleh kebaikannya itu tak memperoleh apa-apa.'" (HR Ahmad; Nomor 7148)

Hadirin yang dimuliakan Allah Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma‘arif mengatakan:

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمٍ رَمَضَانَ

Nabi Muhammad saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadan.

قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: هَذَا الْحَدِيثُ أَصْلٌ فِي تَهْنِئَةِ النَّاسِ بَعْضَهُمْ بَعْضًا
بِشَهْرِ رَمَضَان

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis ini (hadis yang ketiga dalam tulisan ini) menjadi dasar dalam mengucapkan “selamat menyambut kedatangan bulan Ramadan” di antara satu sama lain ketika menjelang bulan Ramadan.

Di Indonesia tahniah tersebut biasanya diungkapkan dengan kalimat "ahlan wa sahlan ya ramadan". Kegembiraan dan kebahagiaan dalam menyambut bulan Ramadan harus ditampakkan satu sama lain.

Semoga kita dapat mengawali Ramadan dengan penuh senyum, suka-cita dan kegembiraan sehingga kita dapat melaksanakan anjuran-anjuran Nabi dan para ulama mengenai memperbanyak ibadah bulan Ramadan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: Buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan (2024) terbitan Kementerian Agama

3. Amalan-Amalan Ringan di Bulan Ramadhan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Bulan Ramadhan menjadi kesempatan setiap orang beramal ibadah dimulai dari kebaikan sekecil apapun. Agar bulan Ramadhan tidak lewat dengan sia-sia, maka ada beberapa amalan yang mampu dilakukan setiap orang dengan cukup mudah.

Dzikir

Berdzikir tidak membutuhkan persiapan apapun, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Serta mampu dilakukan sembari melakukan pekerjaan lain seperti bersih-bersih rumah, mengendarai kendaraan dan lain sebagainya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28).

Akhlak mulia itu mudah disampaikan dan digambarkan, tetapi sulit dalam penerapan. Bagaimana menjadikan ucapan dari lisan, dan perbuatan agar selalu bernilai kebaikan dan tidak menyakiti orang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi).

Di hadits yang lain, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi).

Bersedekah Rutin Setiap Hari

Bersedekah dalam bentuk materi tentu membutuhkan modal berupa uang atau barang yang bisa disedekahkan. Akan tetapi itu tetap bisa terlaksana walaupun dengan nominal yang tidak banyak, tetapi dilakukan dengan rutin setiap hari.

Dalam sebuah hadits disebutkan dari Abu Darda’ –radhiyallahu anhu– Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam– bersabda, “Setiap pagi yang dilalui seseorang, ada dua malaikat yang turun, yang pertama berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.’ Sementara yang kedua berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mendoakan Kebaikan Bagi Orang Lain

Dalam keseharian, seringkali manusia memiliki keinginan untuk berbuat baik pada orang lain, terlebih lagi yang pernah menolongnya. Akan tetapi tidak semua orang mampu berbuat atau membalas kebaikan orang lain karena kondisi. Maka mendoakan kebaikan untuk orang lain menjadi alternatif, baik mendoakan orang lain agar dibalas dengan kebaikan yang lebih, atau mendoakan ampunan untuknya. Lebih baik lagi tanpa sepengetahuan orang tersebut.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, ”Tidaklah seorang muslim yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan untukmu juga kebaikan yang serupa’”. (HR. Muslim).

Memberi Makan Hewan

Islam sebagai agama kasih sayang bagi semua ciptaan Tuhan juga mengajarkan untuk berbuat baik tidak hanya pada sesama manusia, tetapi juga pada hewan. Sehingga seorang muslim yang baik, terlebih di bulan Ramadhan adalah seorang muslim yang berbuat baik pada hewan-hewan yang ada di sekitarnya, seperti kucing liar yang mudah ditemui.

Maka memberinya makan adalah salah satu alternatif yang tepat, baik itu makanan yang dibeli khusus untuk hewan, makanan sisa, atau menyisihkan sebagian porsi makanan untuk hewan tersebut.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu–, bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

“Pada suatu ketika ada seorang lelaki sedang berjalan dan ia merasa sangat kehausan, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah lalu membalasnya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperoleh pahala?”

Rasulullah menjawab, “Menolong setiap makhluk yang bernyawa itu ada nilai pahala (sebagai balasan atas perbuatan baik padanya).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Membelikan Makanan Berbuka Puasa

Seorang muslim yang baik adalah yang mengharapkan kebaikan pada seorang muslim lainnya sebagaimana dirinya mengharapkan mendapat kebaikan itu. Sehingga mentraktir atau membelikan makanan untuk berbuka puasa untuk seorang atau dua orang teman juga menjadi amalan mudah yang disarankan.

Rasulullah –shallalallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Tirmizi)

Membeli Dagangan Orang yang Butuh

Di bulan Ramadhan, semua orang berhak bahagia. Sehingga membahagiakan orang lain yang sedang membutuhkan juga termasuk amalan baik. Salah satu amalan baik yang mudah dan ringan itu adalah dengan membeli dagangan orang yang sedang membutuhkan, seperti penyandang difabel, pedagang yang berusia tua, fakir miskin, dan belanja di pasar tradisional. Jikapun tidak butuh, bisa saja apa yang dibeli itu kemudian diberikan pada orang lain.

Karena mereka yang sedang membutuhkan itu berjualan untuk mendapat keuntungan yang akan sangat bermanfaat untuk membeli kebutuhan sehari-harinya, membayar hutang, dan membiayai sekolah anak-anaknya. Itu jauh lebih baik daripada meminta-minta.

sumber: muhammadiyah.or.id

4. Tetap Produktif Bekerja Saat Berpuasa

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Jamaah yang Dirahmati Allah

Puasa Ramadan bukan penghalang untuk bekerja produktif. Justru, dengan niat yang tulus dan perencanaan yang baik, ibadah puasa bisa menjadi pendorong semangat kerja. Disiplin dan pengendalian diri yang diperoleh saat berpuasa dapat diterapkan dalam mengatur waktu dan menyelesaikan tugas secara efisien.

Lantas mengapa Puasa Tidak Menghambat Produktivitas?

Pertama, puasa melatih disiplin dan kontrol diri. Selama berpuasa, kita dituntut untuk menahan lapar dan haus. Disiplin ini terbawa ke dalam dunia kerja. Kita jadi lebih bisa mengatur waktu, fokus pada pekerjaan, dan menghindari hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi.

Ma‘asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah

Kedua, puasa menyehatkan tubuh dan pikiran. Dengan pola makan teratur saat sahur dan berbuka, asupan nutrisi menjadi lebih terjaga. Hal ini berdampak positif pada kesehatan secara keseluruhan, sehingga kita tetap berenergi dan bisa bekerja secara optimal. Selain itu, puasa juga diyakini dapat meningkatkan kejernihan pikiran dan ketenangan batin, yang tentunya akan mendukung produktivitas.

Ketiga, puasa menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian. Suasana Ramadan yang penuh kebersamaan dan kedermawanan bisa memotivasi kita untuk bekerja lebih giat. Dengan niat beribadah, kita akan merasa bahwa pekerjaan yang kita lakukan tidak hanya mendatangkan keuntungan finansial, tetapi juga pahala.

Jamaah yang Berbahagia

Dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan manusia bahwa bekerja untuk memenuhi nafkah keluarga termasuk kewajiban. Pada surah at-Taubah ayat 105 Allah mengingatkan pentingnya bekerja serta larangan untuk bermalas-malasan. 

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Jamaah yang Berbahagia

Pada sisi lain, dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun dengan pekerjaan yang kasar, lebih mulia daripada meminta-minta kepada orang lain. Hal ini berlaku meskipun orang yang dimintai memberi atau menolak permintaan tersebut.

"Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Mengomentari hadits tersebut, Imam Nawawi mengatakan, hadits ini juga menganjurkan umat Islam untuk memakan hasil kerja sendiri, bukan hasil mencuri atau menipu. Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dengan sungguh-sungguh dalam mencari nafkah, karena hal ini dianggap sebagai bentuk ibadah. Rasulullah Muhammad SAW sendiri memberikan contoh dengan berusaha dan bekerja keras untuk menyediakan kebutuhan dirinya serta keluarganya.

Jamaah yang Berbahagia

Pun dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga mengingatkan umatnya agar tidak hanya berdoa, namun juga melakukan usaha nyata dalam mencari rezeki. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang kerja keras sebagai salah satu cara untuk mencapai keberkahan dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Selain menekankan pentingnya usaha dan kerja keras, Islam juga menganjurkan agar setiap orang bekerja dengan cara yang halal. Konsep ini mengacu pada prinsip bahwa segala sesuatu yang diperoleh haruslah melalui cara yang sah dan tidak melanggar aturan agama. Dalam Islam, kehalalan dalam mencari nafkah dianggap sebagai bagian penting dari ibadah dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk menghindari segala bentuk pekerjaan atau praktik yang melibatkan penipuan, korupsi, atau eksploitasi terhadap orang lain.

Jamaah yang dirahmati Allah

Imam Nawawi berkata dalam kitab Shahih Muslim;

“Sesungguhnya dalam hadits tersebut terdapat anjuran untuk bersedekah, makan dari hasil kerja tangan sendiri, dan mencari penghasilan dengan cara yang halal.”

Dengan demikian, puasa bukan alasan untuk menjadi tidak produktif dalam bekerja. Justru sebaliknya, puasa melatih setiap orang untuk bisa lebih disiplin dan mandiri dalam kehidupannya.

Sumber: Buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan (2024) terbitan Kementerian Agama

5. Korelasi Puasa dengan Hidup Sehat

Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudari,
Bagaimana puasa hari ini?
Semoga selalu lancar Amiin ya Rabbal Alamiin

Tema ceramah kali menarik karena tentang "korelasi puasa dengan hidup sehat."  Seperti yang kita ketahui, salah satu perintah utama di bulan Ramadan adalah berpuasa. Ibadah ini menjadi bagian dari rukun Islam yang sebenarnya sejak lama dipraktikkan oleh umat-umat terdahulu, tentu dengan tatacara dan syariatnya berbeda. 

Dalam bahasa ushul fiqih, syariat seperti ini disebut sebagai syar'u man qablana. Sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Puasa adalah ibadah yang penuh perjuangan, karena menjalankan ibadah ini perlu kesiapan fisik dan jiwa yang prima. Jika kita melihat secara dhahir atau luarnya saja, maka yang terlihat adalah 'seakan-akan kesengsaraan'. Sebagai umat muslim, sejak subuh sampai maghrib kita harus menahan haus, lapar dan menahan dari segala hawa nafsu yang membatalkannya. Bagi orang yang tidak
memiliki keimanan, tentu sulit untuk menjalankan ibadah ini. 

Hadirin yang dirahmati Allah Swt,

Wajib digarisbawahi, sebenarnya puasa bukanlah ibadah yang menyusahkan. Dalam hukum Islam, sudah sangat jelas jika seseorang sedang terkendala entah sedang menempuh perjalanan jauh, atau sedang sakit maka sangat diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan bisa diganti di lain waktu. Ini namanya rukhsah.

Mari kita lihat salah satu hadis Nabi Muhammad Saw: 

"Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya". (HR. Bukhari).

Bapak-bapak, Ibu-ibu, Jamaah semuanya,

Dalam Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibnu Asyur menyebutkan bahwa puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk menyucikan dan melatih diri, sehingga hasilnya akan dirasakan oleh setiap individu masing-masing. Baru setelah itu, maka kebaikan akan berdampak pada masyarakat secara keseluruhan.

Dari ungkapan tersebut, pertanyaannya kemudian, apakah puasa hanya berdampak pada kualitas jiwa seseorang, lantas bagaimana dengan kualitas raga orang yang berpuasa? Inilah yang akan diulas dalam ceramah ini, kita akan melihat dari perspektif kesehatan. Karena sesungguhnya ada korelasi antara kesehatan dan puasa.

Pertama, momentum puasa sebenarnya adalah momentum yang tepat untuk mengatur pola makan. Islam adalah agama yang memiliki panduan sempurna melalui dalil-dalil teks, hingga praktik secara praktis oleh Rasulullah Saw. Kaitannya dengan pola makan, puasa mengajarkan agar manusia teratur dan tidak berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. 

Hal ini sesuai dengan QS. Al-A'raf ayat 31: "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. Al-A'raf: 31).

Ibnu Athiyah dalam Tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz mengutip ungkapan Ibnu Abbas bahwa makanan dan minuman halal itu harus dikonsumsi secara cukup, tidak berlebihan. Karena berlebihan itu termasuk berbuat maksiat. Dalam medis, makan berlebihan akan menyebabkan diabetes, meningkatkan lemak tubuh, potensi sakit jantung, memicu depresi, hingga berpotensi merusak fungsi otak.

Kedua, puasa itu sangat baik untuk orang yang sedang terkena obesitas atau kolestrol. Dalam salah satu penelitian yang dilakukan dengan judul Effects of Ramadan fasting on serum low-density and high-density lipoprotein-cholesterol concentrations, membuktikan bahwa puasa di bulan Ramadan mampu menurunkan lemak jahat dan meningkatkan lemak baik. Selain itu, puasa juga
menurunkan tekanan darah. Dalam hal ini, kembali lagi bahwa puasa juga harus melatih memperbaiki pola makan. Jangan sampai waktu berbuka malah menjadi kalap dan apapun di makan semuanya. Bahaya ini!

Ketiga, Puasa memang melatih kita untuk peka dengan kekebalan tubuh kita. Dalam berbagai penelitian, puasa bisa meningkatkan sistem imun tubuh namun terkadang juga bisa menurunkannya. Artinya terkait kekebalan tubuh ini manusia sangat beragam dampaknya jika berpuasa, sistem imun manusia yang bertugas melawan berbagai penyakit ini harus diperhatikan betul. Maka, penelitian itu menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mampu meningkatkan fungsi sistem imun seperti semangka, bayam, teh hijau, ubi jalar, dan brokoli.

Hadirin yang dirahmati Allah, 

Terakhir, saya berpesan bahwa dalam keadaan berpuasa, kita masih tetap beraktivitas seperti biasa. Tentunya, kita yang mengetahui kondisi tubuh kita sendiri. Siapapun yang sebelumnya punya penyakit, lebih baik dikonsultasikan dengan dokter agar selama puasa aman-aman saja. Begitu pun bagi yang kondisinya sehat, jangan sampai ketika berpuasa malah menjadi orang yang kalap makan apa pun. 

Semoga kita mendapatkan keberkahan dari Ramadan ini, Amiiin ya rabbal Alamiin. Akhir kalam, mohon maaf dari segala kekurangan. Wasalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Sumber: Buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan (2024) terbitan Kementerian Agama

6. Memperbanyak Ibadah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesempatan untuk menjalankan ibadah di bulan yang penuh keberkahan ini, bulan Ramadhan. Shalawat serta salam senantiasa kita panjatkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa, di mana pahala ibadah dilipatgandakan. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.' (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang mendirikan (shalat dan ibadah) di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mari kita perbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, serta memperbaiki akhlak kita. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa ada perubahan dalam diri kita menuju kebaikan.

Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-Nya yang lebih bertakwa. Aamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: jakarta.penerbitdeepublish.com

7. Sabar di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Hadirin sekalian, bulan Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajarkan kita tentang kesabaran. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)

Di bulan Ramadhan, kesabaran diuji dalam berbagai bentuk, seperti menahan amarah, menjaga hawa nafsu, dan tetap berbuat baik meskipun dalam keadaan sulit. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah perisai, maka jika seseorang sedang berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk atau berbuat kejahatan.

Marilah kita jadikan Ramadhan sebagai momentum melatih kesabaran, baik dalam ibadah maupun dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Semoga dengan kesabaran, kita mendapatkan keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: jakarta.penerbitdeepublish.com

8. Puasa Ramadhan dan Ketakwaan Sosial

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Puasa dalam Islam ada yang hukumnya sunnah dan wajib. Untuk puasa sunnah, tidak semua umat Islam melaksanakanmya, terlebih puasa yang dikerjakan secara rutin seperti puasa Senin dan Kamis, Puasa Ayyamul Bidh, apalagi Puasa Nabi Daud AS. 

Secara umum, hampir saja kita mengatakan bahwa orang yang biasa melaksanakan puasa sunnah adalah orang yang memiliki tingkat keimanan dan ketakwaan yang sangat baik. Logika sederhananya, jangankan ibadah wajib seperti shalat, ibadah sunnah yang cukup berat seperti puasa saja selalu dikerjakan.

Lain lagi jika kita bicara soal puasa Ramadan yang wajib hukumnya. Siapa pun orangnya, selama dia adalah mukallaf yang tidak memiliki udzur, suka atau tidak, dipaksa atau tidak tetap wajib melaksanakannya. Artinya, puasa Ramadan wajib bagi pezina, pemabuk, penjudi, koruptor, perampok, penipu dan selururuh ahli maksiat lainnya dan wajib bagi para ulama dan orang awan sekalipun.

Karena kewajiban puasa Ramadan satu bulan penuh ini serentak dilakukan oleh seluruh mukalaf bila uzur, maka puasa Ramadan sangat berpotensi untuk menjadikan para sha'imin menjadi pribadi yang bertakwa, sebagaimana tujuan dari puasa itu sendiri, la'allakum tattaqun. Harapan kita, setelah Ramadan berakhir, umat Islam seluruh dunia adalah umat yang bertakwa, khususnya di Indonesia, aamin.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah ayat 183 dan 185, Allah berfirman mengenai kewajiban dan tujuan puasa Ramadan:

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Q.S. Al-Baqarah: 183).

"Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah." (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Jadi, dari dua ayat ini kita tahu bahwa Ramadan itu akan membentuk seorang Muslim menjadi orang yang bertakwa sebenar-benarnya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda: Dari Ibnu Umar RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Islam dibangun di atas lima (landasan); bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad
adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan'. (Muttafaq Alaih).

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Rasulullah saw. juga bersabda:

Dari Abu HurairahRA berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (Muttafaq Alaih).

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah,

Ketakwaan seorang yang berpuasa di antaranya dapat kita simak dalam dua hadis berikut. Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Hurairah RA -secaya riwayah (menukil dan menceritakan hadits dari Nabi) beliau SAW berkata; Apabila salah seorang dari kalian berpuasa di suatu hari,
maka janganlah ia berkata-kata kotor dan berbuat kesiasiaan. Bila ia caci seseorang atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, "Sesungguhnya saya sedang berpusa." (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah RA ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda: "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan selain begadang." (HR. Ibn Majah)

Jamaah yang dimuliakan Allah, 

Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim mengatakan: "Ketahuilah bahwa larangan berkata kotor, bertindak bodoh, permusuhan dan saling mencaci bukan hanya dikhususkan bagi orang yang sedamg berpuasa secara khusus. Semua larangan tersebut memang bersifat asal (kapan dan dimanapun). Terlebih hal itu dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa."

Oleh sebab itu, orang yang berpuasa bukanlah hanya menahan lapar dan haus, tapi ia menjaga seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan kotor dan maksiat kepada Allah. Dengan begitu, puasa yang berkualitas menjadikan orang yang melakukannya bertakwa kepada Allah.

Semoga kaum muslimin seluruh dunia, terutama di Indonesia mampu menjalankan seluruh ranglaian ibadah Ramadan dengan penuh kualitas, terutama puasa Ramadan.

Dengan demikian, ketakwaan sosial Insya Allah terwujud, aamiin.

Sumber: Buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan (2024) terbitan Kementerian Agama

Tindakan intoleransi kepada kelompok lain, karena perbedaan agama, politik, keyakinan, etnis, budaya dan lain-lain, kini semakin marak terjadi di tengah masyarakat. Akibat dari tindakan ini, membuat munculnya suasana disharmoni, dan bahkan konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

Mengapa kini muncul fanatisme politik yang berlebihan, semangat kedaerahan yang berlebihan, dan perdebatan yang cukup melelahkan karena perbedaan warna politik. Padahal dalam al-Qur'an sudah dijelaskan bagaimana cara berdebat yang baik dan bagaimana cara mengajak masyarakat pada jalan kebaikan. 

Allah Swt berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. an nahl [16]: 125).

Kalau tokoh-tokoh politik dan tokoh-tokoh agama mampu menerapkan cara yang santun dalam berdebat dan menyikapi perbedaan pendapat tentu tidak akan muncul tindakan intolerasi di tengah masyarakat. Kasus-kasus intoleransi yang terjadi saat ini harus diurai dengan akal sehat dan pikiran yang jernih demi keutuhan bangsa. Tidak boleh ada satu kelompok yang merasa lebih Pancasilais dari kelompok lain, dan menuduh kelompok lain itu anti Pancasila, radikal dan membuat makar. 

Kalau tindakan intoleransi yang marak saat ini tidak segera diatasi dengan baik, akan bisa menjadi "bom waktu" yang akan mengoyak semangat nasionalisme dan persatuan bangsa. Pemerintah tentu harus mampu bertindak adil dan jujur dalam mengatasi setiap persoalan yang ada di tengah masyarakat. Jangan ada kelompok yang dibiarkan membuat keonaran, sementara kelompok lain dicari-cari kesalahannya dan begitu mudah memberi label makar. Ini tentu tindakan konyol dan akan membuat prahara bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sesungguhnya budaya masyarakat Indonesia yang pluralistik ini terkenal sangat toleran, santun, dan menghargai perbedaan yang ada. Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur. Masyarakat yang menghargai nilai-nilai budaya tidak akan terjebak pada konflik, karena bagi masyarakat yang berbudaya, perbedaan adalah suatu keindahan yang harus dipelihara dengan baik. Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia.

Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadhan Mutiara Nasihat Seribu Bulan (2017) terbitan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga 

10. Bukber Semangat, tapi Shalat Magrib Lewat

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudari,
Bagaimana puasa hari ini?
Semoga selalu lancar Amiin ya Rabbal Alamiin

Tema ceramah hari ini sangat menarik yakni, Bukber semangat, tapi shalat Maghrib terlewat. Ada di sini orang yang pernah seperti itu? Orangnya datang? Jangan diulangi lagi ya.

Sebelum dibahas lebih lanjut, mari kita baca bersama-sama QS. Al-Ma'un ayat 4-7

"4. Celakalah orang-orang yang melaksanakan shalat; 5. (yaitu) yang lalai terhadap shalatnya; 6. Yang berbuat riya; 7. Dan enggan (memberi) bantuan."

Hadirin yang dirahmati Allah Swt.

Baca ayat ini jangan hanya sepotong ya Pak, Bu. Jangan hanya fawailul lil mushollin. Jika hanya sepotong, ini bahaya, masak orang yang melaksanakan shalat kok celaka? Kita lihat ayat setelahnya, yaitu orang yang lalai terhadap shalatnya.

Maksud dari lalai itu apa sih? Ini yang mesti dijelaskan. Syekh Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya At-Tahrir wa AtTanwir menekankan betul bahwa kata sahûn itu bukan lalai karena lupa tidak melakukan sunnah ab'ad dalam shalat, seperti lupa tidak tasyahud awal misalnya, atau karena ragu dengan jumlah rakaat shalat. Bukan itu maksudnya. Kalau itu kan kita diminta untuk melakukan sujud sahwi. 

Ibnu Asyur menyebutkan bahwa orang lalai itu adalah orang yang melakukan shalat karena riya', tidak ikhlas dan tanpa ada niat yang tulus. Orang ini pun mudah meninggalkan shalat. Ini yang dimaksud sebagai orang yang lalai itu.

Imam Jajaluddin As-Suyuthi mengumpulkan beberapa riwayat yang menafsirkan ayat ini. Dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, salah satu riwayat itu adalah: "Ibnu Jarir dan Ibnu Marduwiyah dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang meninggalkan shalat saat tidak ada orang dan shalat saat di keramaian."

Dari sini, istilah munafik itu sangat luas artinya. Tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah dalam kondisi apapun jangan pernah menyepelekan shalat. Wajib is wajib, no debat!!

Hadirin yang dirahmati Allah Swt.

Buka bersama pada dasarnya adalah aktivitas yang boleh dan baik. Karena hadis Nabi sebenarnya menyebutkan bahwa kebahagiaan bagi orang yang berpuasa itu salah satunya karena berbuka. 

Rasulullah Saw bersabda: "Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya," (HR Muslim).

Saya membayangkan betapa nikmatnya berbuka puasa bersama. Di momen tersebut, kita bisa silaturahim mengumpulkan sanak famili, kerabat, tetangga, bahkan kawan lama. Kebahagiaan itu memang sudah Rasulullah Saw. sampaikan. Tetapi, problemnya bukan di buka bersama ya Pak, Bu. Problemnya adalah jika orang-orang yang berbuka puasa itu melewatkan shalat maghrib. Allah
Swt, memperingati betul, bahwa orang yang melewatkan puasa ini disebut akan celaka lho. Jadi, kita perlu berhati-hati.

Lantas, bagaimana kita agar tetap tidak melewatkan shalat maghrib. Berikut tipsnya:

1. Kita menyusun agenda shalat berjamaah. Maksudnya, ketika azan maghrib kita hanya membatalkan puasa saja dengan sajian iftar secukupnya. Setelah itu kita shalat berjamaah, baru kemudian kita makan besar.

2. Acara dimulai dari siang atau setelah ashar, bukan dimulai ketika maghrib. Ini menjadi perhatian, karena biasanya bukber ini kemepetan. Sehingga, rata-rata meskipun shalat maghribnya aman tapi shalat tarawihnya bablas.

3. Mencari tempat yang kondusif. Ini sangat penting, kalau buka bersama di tempat umum yang tidak kondusif, maka kemungkinan agenda shalat akan terganggu. Bisa jadi ada rombongan lain yang pada akhirnya gantian dulu untuk bisa shalat.

4. Kepanitiaan dibentuk dengan maksimal. Ini untuk menjaga-jaga, karena shalat maghrib itu waktunya sangat pendek.

Terakhir, izinkan saya berpantun:

Pak camat beli tomat
Yang beli harus Hormat
Boleh saja buka bersama semangat
Tapi ingat, Shalat Maghrib jangan lewat

Terima kasih saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Sumber: Buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan (2024) terbitan Kementerian Agama

(Tribunnews.com/Sri Juliati/bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.