TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam konflik perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Fenomena ini dinilai menjadi bukti bahwa konflik geopolitik global kini telah memasuki era digital.
Asisten Khusus Menteri Pertahanan RI Bidang Cyber Security, Sylvia W. Sumarlin mengatakan, perkembangan teknologi membuat dunia digital tidak lagi mengenal batas wilayah negara.
Menurutnya, teknologi AI kini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari atau hiburan, tetapi juga telah digunakan dalam berbagai konflik geopolitik di dunia.
"Kalau kita lihat sekarang, aplikasi AI bahkan dipakai dalam situasi geopolitik. Kita melihat perang di Iran, kemudian yang terjadi di Venezuela, itu semua menggunakan AI," kata Sylvia dalam konferensi pers Hari Kebudayaan Keamanan Informasi 2026 di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Sylvia menjelaskan, penggunaan AI dalam konflik modern menunjukkan bahwa perang tidak lagi hanya berlangsung di medan militer konvensional.
Teknologi digital kini memainkan peran penting dalam strategi militer dan keamanan suatu negara.
Sejumlah laporan internasional juga menunjukkan bahwa teknologi AI telah digunakan untuk membantu analisis intelijen hingga penentuan target dalam operasi militer dalam konflik Iran.
Bahkan, AI mampu menganalisis data dalam jumlah besar secara cepat untuk membantu pengambilan keputusan militer, mulai dari identifikasi target hingga perencanaan serangan.
Sylvia menilai perkembangan ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk tidak tertinggal dalam penguasaan teknologi digital, terutama di bidang kecerdasan buatan.
Ia menegaskan bahwa generasi muda Indonesia perlu didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi teknologi sendiri.
"Ke depan kita harus mencetak generasi muda yang bukan hanya paham menggunakan AI untuk media sosial atau hiburan, tetapi juga mampu membuat aplikasi-aplikasi baru yang bisa digunakan oleh kita sendiri," ujarnya.
Menurut Sylvia, penguasaan teknologi dalam negeri menjadi penting agar Indonesia tidak bergantung pada teknologi dari negara lain.
Ia juga menekankan bahwa kemandirian teknologi digital akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keamanan nasional di era konflik geopolitik yang semakin kompleks.
Karena itu, pemerintah melalui berbagai lembaga termasuk Kementerian Pertahanan terus mendorong penguatan sumber daya manusia di bidang keamanan siber dan teknologi digital.
Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia memiliki kemampuan yang memadai dalam menghadapi berbagai ancaman digital di masa depan, termasuk potensi konflik di ruang siber yang semakin berkembang.