Perang Dunia I yang memakan puluhan juta jiwa resmi berakhir pada pukul 11 pagi, tanggal 11 November 1918. Setelah kurang lebih 5 tahun berperang, pihak Sentral yakni Jerman, dan negara-negara Sekutu sepakat untuk melakukan gencatan senjata.
Jerman setuju untuk menghentikan perang karena pihaknya sudah kehabisan pasukan, persediaan perang, dan terancam diinvasi oleh Sekutu. Sejak pukul 5 pagi, perjanjian gencatan sudah lebih dulu ditandatangani oleh kedua belah pihak, yang berlangsung di sebuah gerbong kereta di tepi hutan Compiègne, Prancis.
Hari Gencatan Senjata atau berhentinya pertempuran juga dikenal sebagai Armistice Day. Mengutip laman BBC, pada akhir peperangan terjadi hal yang tidak disangka sebelumnya, saat Rusia memilih mundur, Inggris dan Prancis justru menyerang Jerman pada Maret 1918.
Namun, angkatan laut Jerman juga tengah mogok kerja. Akibatnya, situasi semakin tak terkendali serta tidak memungkinkan untuk melanjutkan peperangan. Mundurnya Kaisar Wilhelm II dari jabatannya pada 9 November 1918 juga menjadi sinyal perang akan berakhir.
Akhir Perang Dunia I
Pada musim gugur tahun 1918, blok Sentral yang dikomandoi oleh Jerman mulai kehabisan tenaga. Banyak warga sipil yang merasa kesulitan dan kelaparan di negaranya, mulai melakukan pemberontakan massal. Mengutip Imperial War Museums, ancang-ancang gencatan senjata dilakukan oleh Jenderal dan Ahli Strategi Jerman, Erich Ludendorff.
Negosiasi mulai dilancarkan terhadap pihak Amerika Serikat dengan pernyataan "Fourteen Points" Presiden AS Woodrow Wilson (1918), sebagai dasar "perdamaian tanpa kemenangan." Namun, keterlibatan Jerman dalam pertumpahan darah di Front Barat, membuat AS menolak negosiasi sebelumnya.
Negosiasi gencatan senjata sebenarnya tidak dilakukan oleh pemerintah Sekutu, tetapi oleh panglima tertinggi mereka, Ferdinand Foch. Ia memastikan syarat-syaratnya membuat mustahil bagi Angkatan Darat Jerman untuk memulai kembali pertempuran.
Penurunan takhta Kaisar Wilhelm II dan pembentukan pemerintahan demokratis di Jerman merupakan amunisi yang diperlukan untuk gencatan senjata. Para jenderal memastikan pemerintahan Sosialis yang baru ternodai oleh penghinaan kekalahan yang menjadi tanggung jawab mereka sendiri.
Penandatanganan gencatan senjata disambut dengan beragam tanggapan. Di banyak kota dan daerah Sekutu, terutama yang dibebaskan dari pendudukan musuh, terdapat pemandangan bahagia. Namun, suasana perayaan tersebut diimbangi oleh kesedihan ribuan orang yang berduka atas korban perang.
Di luar Front Barat, penandatanganan gencatan senjata tidak selalu berarti berakhirnya konflik. Pertempuran berlanjut sementara negosiasi perdamaian sedang berlangsung.
Isi Perjanjian Versailles 1919
Perjanjian ini ditandatangani oleh perwakilan empat negara Sekutu yang terdiri dari, Woodrow Wilson mewakili AS, David Lloyd George dari Inggris Raya, Georges Clemenceau dari Prancis, dan Vittorio Orlando dari Italia.
Namun, karena keempat pihak tersebut saling berbeda keputusan, maka sekutu Eropa menetapkan syarat perdamaian yang memojokkan Jerman, dikutip dari History, sebagai berikut:
- Jerman wajib menyerahkan 10% wilayahnya dan seluruh kekuasaan di luar negeri.
- Demiliterisasi dan pendudukan Rhineland.
- Membatasi angkatan darat dan angkatan laut Jerman.
- Melarang Jerman memiliki angkatan udara.
- Pengadilan kejahatan perang terhadap Kaisar Wilhelm II, dan para pemimpin lainnya atas agresi mereka.
- Pasal 231 perjanjian tersebut, yang dikenal sebagai " klausa kesalahan perang," memaksa Jerman untuk menerima tanggung jawab penuh atas dimulainya Perang Dunia I dan membayar ganti rugi yang sangat besar atas kerugian perang Sekutu.
Isi dari perjanjian ini membuat pihak Jerman terkejut karena mereka ditetapkan sebagai penyebab utama terjadinya perang. Hal ini membuat luka yang membekas bagi masyarakatnya, dimana mereka jatuh miskin karena harus membayar hutang akibat kerusakan perang sebesar 132 miliar Mark emas (mata uang Jerman sebelum Euro).







