BANGKAPOS.COM – Inilah sosok CAPT Miswar Maturus, kapten kapali yang dilaporkan hilang kontak saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.
Keluarga masih menanti kabar CAPT Miswar Maturusi, kapten kapal tugboat Musaffah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Port.
CAPT Miswar Maturusi dilaporkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.
Melansir Kompas.com, korban diketahui merupakan warga asal Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyatakan, tiga dari empat anak buah kapal (ABK) yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) menghilang usai kapal tugboat Mufassah 2 berbendera Uni Emirat Arab (UEA) meledak dan tenggelam di Selat Hormuz, antara perairan UEA dan Oman pada Jumat (6/3/2026) pukul 02.00 dini hari.
Informasi ini diterima melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi dan KBRI Muscat.
Hingga kini, keluarga masih menunggu kabar terbaru mengenai kondisi korban setelah kapal yang dinakhodainya dilaporkan mengalami insiden di tengah pelayaran.
Keluarga korban, Sumarlin Ahmad (21), mengatakan bahwa komunikasi terakhir korban dengan keluarga terjadi pada Rabu (4/3/2026) lalu.
Saat itu Miswar masih sempat berbicara dengan istrinya dan menyampaikan rencana perjalanan pelayaran yang akan dilakukannya.
“Terakhir kali beliau sempat berbicara dengan istrinya pada hari Rabu. Beliau menyampaikan bahwa akan melakukan perjalanan menuju lokasi kerjanya,” kata Sumarlin kepada Kompas.com, Sabtu (7/3/2026) sore.
Pada Kamis (5/3/3036) siang, sekitar pukul 13.00 Wita, korban masih sempat membuka pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan.
Namun, pesan tersebut tidak sempat dibalas, hanya "centang biru".
“Pesan dari anaknya sempat dibaca, tapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar dari beliau,” imbuhnya.
Baca juga: Token Listrik Promo Harga, Cek Besaran Diskon 2026 di Platform Belanja Online dan Dompet Digital
Sejak saat itu, keluarga tidak lagi menerima komunikasi dari Miswar hingga akhirnya muncul kabar bahwa kapal yang dinakhodainya mengalami insiden.
Lantas seperti apa sosok Kapten Miswar Maturusi yang kini hilang kontak dengan keluarga?
Miswar dikenal sebagai sosok kepala keluarga yang selama ini menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
Ia dikenal sebagai pribadi pekerja keras yang telah lama mengabdikan diri di dunia pelayaran.
“Beliau adalah kepala keluarga dengan satu orang istri dan dua orang anak. Selain menafkahi keluarganya, beliau juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya,” kata Sumarlin.
Menurut Sumarlin, kepedulian Miswar terhadap keluarga besar membuatnya menjadi figur yang sangat dihormati oleh kerabatnya.
Tidak hanya menanggung kebutuhan keluarga inti, ia juga kerap membantu pendidikan anggota keluarga lainnya.
“Beberapa sepupu dan keponakan kami juga dibantu sekolahnya oleh beliau,” ucapnya.
Istri korban diketahui bernama Marliani Ahmad, sementara kedua anaknya adalah Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.
Anak pertama Miswar bahkan telah mengikuti jejak pengabdian kepada negara setelah resmi menjadi anggota kepolisian sejak tahun lalu.
“Anak pertamanya sudah menjadi polisi sejak tahun lalu dan bertugas di Polda Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Dari informasi yang diterima keluarga, Miswar diketahui telah berangkat berlayar sejak 18 Februari 2026.
Ia sebelumnya menyampaikan kepada keluarganya bahwa perjalanan menuju lokasi kerja diperkirakan memakan waktu sekitar satu hari.
Selama ini Miswar diketahui bekerja di wilayah pelabuhan Abu Dhabi.
Tugasnya antara lain memandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan.
“Informasi yang kami dengar sebelumnya, beliau biasanya bekerja memandu kapal-kapal besar yang mau masuk ke pelabuhan Abu Dhabi,” jelas Sumarlin.
Baca juga: Modus Licik Sindikat Kasus Fidusia di Bangka, 8 Unit Motor Disita, 6 Saksi Debitur Dipanggil
“Perjalanan menuju Selat Hormuz kali ini diduga menjadi salah satu pelayaran yang cukup jauh bagi Miswar, karena selama ini sebagian besar pekerjaannya dilakukan di area pelabuhan,” tambahnya.
Kabar mengenai insiden kapal pertama kali diterima keluarga pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 10.00 Wita.
Informasi tersebut disampaikan oleh seorang rekan korban bernama Kapten Ismail yang menghubungi keluarga melalui telepon.
“Informasi awal yang kami terima, kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut,” ujar Sumarlin.
Meski demikian, hingga kini keluarga masih menerima berbagai versi informasi terkait kejadian tersebut.
Beberapa pihak menyebut kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Abu Dhabi untuk proses evakuasi.
Ada pula informasi lain yang menyebut kapal itu tengah dibawa untuk menjalani proses perbaikan atau pengelasan setelah mengalami kerusakan.
“Informasi yang kami dengar ada beberapa versi. Ada yang mengatakan kapal itu akan dievakuasi ke pelabuhan Abu Dhabi, ada juga yang mengatakan kapal itu dibawa untuk diperbaiki,” jelasnya.
Dalam pelayaran tersebut, dua kapal disebut berangkat secara bersamaan, yakni Musaffah 2 dan Musaffah 1.
Kapal yang dinakhodai Miswar dilaporkan berangkat lebih dulu menuju lokasi tujuan.
“Rencananya dua kapal yang berangkat. Musaffah 2 duluan, lalu di belakangnya Musaffah 1,” ujarnya.
Namun, kapal kedua disebut tidak melanjutkan perjalanan setelah diduga menerima informasi mengenai hilangnya kontak dengan Musaffah 2.
“Mungkin kapal yang satunya lagi sudah mendapat informasi bahwa Musaffah 2 hilang kontak,” ujarnya Sumarlin.
Sebelum hilang kontak, korban disebut sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya mengenai gangguan teknis pada kapal yang dipimpinnya.
Menurut Sumarlin, Miswar beberapa kali menyampaikan bahwa sistem navigasi GPS di kapalnya mengalami gangguan.
“Beliau sempat menyampaikan bahwa sistem GPS di kapalnya mengalami error,” katanya.
Selain itu, Miswar juga sempat menyampaikan bahwa dirinya melihat sesuatu di sekitar jalur pelayaran dan meminta bantuan panduan.
“Beliau sempat mengatakan seperti melihat sesuatu dan meminta dipandu, tapi ternyata tidak ada,” tutur Sumarlin.
Tak lama setelah itu, komunikasi dengan kapal tersebut dilaporkan terputus.
Menunggu Kepastian Pemerintah Hingga kini keluarga mengaku belum menerima informasi resmi secara tertulis dari pihak perusahaan tempat Miswar bekerja. Informasi yang diterima masih bersifat lisan melalui rekan korban yang bernama Kapten Ismail.
Baca juga: Rumah Kolektor 24 Kampil Pasir Timah Ilegal Digerebek Polisi
Menurut Sumarlin, Kapten Ismail disebut menjadi perantara komunikasi antara perusahaan dengan keluarga korban karena mampu berbahasa Indonesia.
“Katanya Kapten Ismail ini yang menjadi komunikator dari perusahaan karena bisa berbahasa Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) disebut telah mulai menghubungi keluarga untuk mengumpulkan data terkait korban.
“Tadi ada dari pihak KBRI yang menelpon menanyakan alamat lengkap keluarga. Mereka bilang akan menyampaikan jika ada perkembangan informasi dari sana,”kata Sumarlin.
Keluarga berharap pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di luar negeri dapat membantu proses pencarian korban dan memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi yang terjadi.
“Kami berharap pihak kedutaan bisa membantu menemukan korban dan memberikan informasi yang jelas kepada keluarga,” ujar Sumarlin.
Ia juga berharap proses pencarian dapat dilakukan secepat mungkin mengingat hingga saat ini keluarga masih menunggu kepastian kabar mengenai korban.
“Kami berharap pencarian bisa segera dipercepat,” katanya. Meski demikian, keluarga mengaku siap menerima apa pun hasil dari proses pencarian tersebut.
“Walaupun harapan terbesar kami tentu beliau bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” ujar Sumarlin.
Saat ini keluarga di kampung halaman hanya bisa menunggu kabar sambil terus berupaya mencari informasi mengenai perkembangan terbaru.
“Langkah yang kami lakukan sekarang hanya mencari informasi dan menunggu kabar,” kata dia.
(Kompas.com/Amran Amir/Diamanty Meiliana) (Bangkapos.com)