TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Perburuan uang pecahan baru menjelang Lebaran di Kota Semarang kini tak lagi sekadar antre di bank.
Sistem penukaran daring yang disediakan Bank Indonesia pada website www.pintar.bi.go.id membuat masyarakat harus bersaing di ruang tunggu digital.
Dewa, warga Kecamatan Gajahmungkur, menjadi salah satu yang merasakan panjangnya antrean tersebut.
Ia mencoba mengakses sistem penukaran uang pada hari pertama pembukaan layanan.
Menurutnya, layanan penukaran uang dibuka sekitar pukul 08.00. Namun ia baru mencoba masuk sekitar pukul 10.00 karena terlambat bangun.
“Saya masuk sekitar jam 10 siang. Langsung pakai dua gadget, hape sama komputer,” ujarnya kepada Tribunjateng.com, Minggu (8/3/2026).
Upaya melalui ponsel justru tidak berjalan lancar. Ia menyebut sistem di ponsel cukup sensitif terhadap perubahan jaringan.
Baca juga: TNI Siaga 1 Antisipasi Konflik Iran, Panglima Perintahkan Pangkotamaops, Kohanudnas hingga Bais
“Kalau pakai hape harus terus dibuka. Kalau ditutup, pindah wifi, atau koneksi jelek, langsung refresh otomatis. Akhirnya malah reset lagi di waiting room,” katanya.
Berbeda dengan komputer yang ia gunakan secara bersamaan. Perangkat tersebut tetap berada di ruang tunggu sejak pukul 10.00.
Meski sistem sempat menampilkan estimasi waktu tunggu sekitar 15 menit, kenyataannya ia baru bisa masuk ke halaman pemilihan lokasi penukaran sekitar pukul 14.00.
“Padahal di layar tertulis waiting room cuma 15 menit, tapi faktanya saya nunggu sampai empat jam,” ujarnya.
Dewa juga mengaku sempat kebingungan dengan estimasi waktu yang berubah-ubah di layar.
Menurutnya, hitungan waktu antrean sering naik turun.
“Kadang sudah tinggal tujuh menit lagi, tiba-tiba balik lagi jadi sepuluh menit,” katanya.
Ia menilai sistem antrean tersebut masih perlu diperbaiki agar lebih transparan bagi masyarakat.
“Kayaknya Bank Indonesia perlu memperbaiki sistem juga,” ucapnya.
Dewa juga mempertanyakan bagaimana para penukar uang di pinggir jalan bisa mendapatkan banyak uang baru, sementara masyarakat harus mengantre panjang melalui sistem resmi.
“Kalau pakai sistem sekarang, harusnya mereka juga susah dapat uang baru,” ujarnya.
Saat akhirnya berhasil masuk ke sistem sekitar pukul 14.00, ia memilih lokasi penukaran di Bank DBS Jalan Pandanaran Semarang.
Namun jadwal yang tersedia sudah cukup jauh karena slot penukaran di Semarang pada hari pertama langsung habis.
“Yang tersedia antrean paling pagi itu tanggal 11 Maret di Bank DBS Pandanaran,” katanya.
Ia juga mengetahui dari cerita warga lain bahwa kuota penukaran di Semarang sudah habis pada hari pertama, bahkan sebelum sore hari.
“Dari cerita Bu RT saya, sore setelah pulang kerja sudah tidak bisa dapat lokasi Semarang karena habis,” ujarnya.
Dewa menilai penggunaan komputer dengan jaringan stabil menjadi cara paling aman untuk mengikuti antrean penukaran uang secara daring.
Ia bahkan menggunakan dua layar monitor agar halaman antrean tetap terbuka tanpa harus diminimalkan.
“Pakai PC paling aman, jaringan stabil dan tidak refresh otomatis. Saya pakai dua monitor jadi tinggal geser saja ke layar sebelah,” ujarnya.
Dalam jadwal yang ia dapatkan, Dewa berencana menukar uang sebesar Rp800 ribu dalam berbagai pecahan kecil untuk kebutuhan Lebaran.
Sementara itu, pengalaman berbeda dialami Andika Setyanto, warga Semarang Utara.
Andika mengaku sempat mencoba mengikuti antrean penukaran uang secara daring, namun tidak berhasil mendapatkan jadwal.
“Saya sudah coba masuk, tapi lama sekali di waiting room. Akhirnya saya menyerah,” ujarnya.
Menurutnya, sistem antrean yang panjang membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan slot penukaran uang.
Karena itu, ia memilih mencari alternatif lain untuk mendapatkan uang pecahan kecil menjelang Lebaran.
“Kalau memang tidak dapat di sistem, ya kemungkinan cari di tempat lain atau tukar ke orang yang punya pecahan kecil,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap uang pecahan kecil menjelang Lebaran, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi sistem penukaran uang yang diterapkan secara daring. (Rad)