Dari Keluarga Pendeta Hingga Menemukan Hidayah, Perjalanan Hidup Junaedi Syaputra Pasaribu
Ayu Prasandi March 08, 2026 01:54 PM

TRIBUN-MEDAN .com, MEDAN - Perjalanan spiritual seseorang menuju keyakinan baru seringkali tidak mudah. 

Apalagi jika harus berhadapan dengan lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.

Itulah yang dialami Junaedi Syaputra Pasaribu (36), seorang mualaf yang baru dua tahun lalu memutuskan memeluk agama Islam setelah 36 tahun hidup sebagai Kristen, dengan latar belakang anak seorang pendeta.

Junaedi, yang akrab disapa Jun, menikah dengan istrinya yang berbeda agama pada tahun 2014.

Saat itu, pernikahan mereka dilangsungkan secara Kristen, dan sang istri mengikuti keyakinan Junaedi. 

Namun, setelah 12 tahun berumah tangga, istri Junaedi kembali memeluk agama Islam.

"Saya ada buat salah, jadi istri saya ini balik lagi ke Islam. Dulu kan saya tarik ke Kristen, balik ke Muslim," ujar Junaedi saat ditemui di kediamannya, di Jalan Bahagia, Gang Kali nomor 47, Minggu (8/3/2026).

Perjalanan semakin kompleks ketika anak kedua mereka meninggal dunia. Saat itulah Junaedi mulai bertanya-tanya tentang arah kehidupan keluarganya. 

Istrinya memilih diam dan membiarkan Junaedi menemukan jalannya sendiri.

"Dia nunggu saya ini selama 12 tahun. Saya masuk Islam ini bukan karena anak, bukan karena istri," tegasnya.

Keajaiban datang saat musibah banjir melanda. Saat membersihkan rumah, tangan Junaedi menyentuh Al-Qur'an. 

Tanpa sengaja, ia membuka dan membaca terjemahan Al-Baqarah yang menjelaskan bahwa Al Qur'an ini diturunkan mengikuti kitab-kitab sebelumnya.

"Saya tengok Taurat, Zabur, Injil, baru Al-Qur'an. Makin saya baca, makin saya mengerti. Semua nabi yang ada di Alkitab ada di Al-Qur'an. Serupa tapi tak sama," kenangnya.

Perjalanan menuju syahadat tidaklah mudah. Junaedi sempat ditolak di Masjid Istiqlal dan beberapa tempat lainnya. 

Berkat bantuan sepupunya, ia akhirnya menemukan Mualaf Center dan bersyahadat di Masjid Agung As-Sakinah, di Komplek, Jalan  Citra Garden, Kelurahan Titi Rantai, Kecamatan Medan Baru.

Di sinilah peran dua sosok penting dalam hidupnya, Roy Candra Tarigan dan Feri Ristanto, menjadi sangat berarti. 

Keduanya adalah orang-orang yang selalu mendukung Junaedi dalam suka dan duka.

"Yang support aku sampai sekarang ini, dua orang. Roy sama Feri Ristanto. Feri ini rumahnya di Pasar Tiga, ada masjid di sana. Orangnya selalu support aku, mau bentuk apapun. Ada apa-apa cerita, 'Masalahmu cuma satu sekarang, finansial. Enggak ada yang lain,'" ungkap Junaedi.

Rekannya Roy, yang dikenal sebagai mantan marbot di Masjid Sakinah, selalu peka terhadap kondisi Junaedi. 

"Dia udah tahu, masalah lu cuma satu. Finansial," tambahnya.

Setelah menjadi mualaf, Junaedi tidak langsung memahami segala hal tentang Islam. Selama dua bulan ia tinggal di pesantren di daerah Kabung-kabung untuk belajar iqra dan dasar-dasar salat di bawah bimbingan pengurus Masjid Sakinah.

Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Ia kerap mempertanyakan praktik keagamaan yang dilihatnya tidak sesuai dengan Al-Qur'an. 

"Kalau salah-salah, rasa saya itu salah, saya enggak mau kerjakan. Saya tentang, bisa itu. Lama-lama disingkirkanlah saya dari sana," ceritanya.

Junaedi mengkritik fenomena "Islam KTP" yang ia saksikan di sekitarnya. Ia mempertanyakan mengapa masjid hanya ramai di bulan Ramadan, sementara di bulan biasanya ini selalu sepi.

"Subuh aja lima orang, nunggu juga. Jujur, lima orang. Itu pun tunggu tungguan. Saya tanya, bapak dari kecil sudah muslim? Bisa azan? Bisa, kenapa enggak azan? Alasannya gigi. Itu enggak alasan," kritiknya.

Dua minggu lalu, Junaedi menghadapi ujian berat. Ibunya yang seorang pendeta meninggal dunia. Sebagai anak ketiga dan anak laki-laki paling besar, ia harus hadir memberikan penghormatan terakhir, meskipun secara agama Islam ia tidak diperbolehkan memasuki gereja.

"Seharusnya aku sebagai muslim, aku enggak boleh masuk. Itu surut pandang dari secara agama, tapi secara keluarga, aku ini anaknya, anak paling besar. Mau enggak mau, inilah penghormatanku terakhir," ujarnya.

Di tengah duka, ia justru mendapat tekanan dari jemaat gereja yang memintanya kembali ke "jalan yang benar". 

"Kembalilah kau ke jalan yang benar. Kau sudah tersesat, ini domba yang tersesat," ujar Junaedi menirukan ucapan para pendeta yang hadir.

Pengalaman paling pahit yang pernah dialami Junaedi adalah saat anak keduanya meninggal dunia. Karena statusnya saat itu masih Kristen, tidak ada seorang pun di lingkungannya yang mau menggali kubur untuk anaknya, meskipun anak tersebut beragama Islam.

"Anakku meninggal umur 2 tahun. Karena bapaknya Kristen, enggak ada yang mau gali kubur. Yang menolong kami bukan orang sini, tapi orang Karang Sari, Karang Rejo. Dari sana Bilal-nya," kenangnya pilu.

Bahkan setelah dikuburkan, warga setempat meminta agar kuburan ditutup kembali karena anak seorang Kristen dimakamkan di pemakaman muslim.

Meski berbagai cobaan datang silih berganti, Junaedi mengaku semakin yakin dengan pilihannya. Ia merasa justru Allah selalu membukakan jalan di saat-saat tersulit.

"Allah tuh baik. Dibukakan. Saya pikir dari orang satu kampung ini yang mengurus, mengomong, menguburkan anakku ini, agamanya paling bagus. Eh, enggak ada. Munafik semua," sesalnya.

Junaedi kini tinggal bersama istri dan anak-anaknya yang semuanya beragama Islam. Ia aktif belajar dan terus memperdalam ilmunya, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan sosial.

Junaedi berpesan agar umat Islam tidak terjebak pada penilaian individu semata. 

"Jangan gara-gara satu individu, saya balik kan? Saya tanya dulu, kalian tahu Ar Rahman Ar Rahim itu apa? Allah itu Maha Pengasih. Sekalipun tak beriman sama Dia, diberkahi-Nya. Itu Ar Rahman. Ar Rahim itu bagi orang yang beriman," jelasnya.

Ia juga mengkritik praktik keagamaan yang hanya formalitas. 

"Masa, kalian habis salat Isya, habis itu kalian karaokean? Ini kayak mana? Tengok orang tua-tua, tapi kalau bercakap orang jago. Malah, penentangku nanti ke sana pergi. Semua ustad saya tanya, ini kayak mana, ini kayak mana? Aliran ini kayak mana?" tandasnya.

Hingga kini, Junaedi terus melangkah dengan keyakinan yang telah dipilihnya, ditemani istri dan anak-anak, serta dukungan dua sahabat setia, Roy Candra Tarigan dan Feri Ristanto, yang selalu ada dalam suka dan duka. 

Meski badai terus menerpa, ia teguh pada pendirian bahwa kebenaran harus diperjuangkan, bukan sekadar diucapkan.

(Cr9/Tribun-medan.com)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.