Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
DALAM bulan Ramadan, ada satu peristiwa yang sangat spektakuler dan maha dahsyat. Peristiwa itu bisa dikatakan sebagai peristiwa yang sudah mengubah kehidupan di dunia ini. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 17 Ramadan itu sampai sekarang selalu dikenang dan diperingati oleh umat Islam. Peristiwa nuzul Al-Qur’an atau sering disebut peristiwa diturunkannya Al-Qur’an.
Walau diturunkan paling terakhir, Al-Qur’an namun tidak ada satu kitab suci pun yang paling terkenal dalam sejarah dan paling besar pengaruhnya dalam kehidupan manusia, selain Al Qur’an. Al-Qur’an juga kitab suci yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Dan Al-Qur’an dipilih oleh Nabi Muhammad sebagai warisan untuk umat Islam.
Dikarenakan ayat pertama yang diturunkan berupa perintah untuk membuka diri terhadap ilmu pengetahuan, yaitu iqra, maka ramadan sering juga disebut dengan bulan tadarus Al-Qur’an dan bulan tarbiah.
Makna Ramadan bulan tadarus Al-Qur’an yaitu untuk mendidik kita dan keluarga kita, agar selalu menyuarakan bacaan Al-Qur’an di rumah kita sepanjang harinya sehingga rumah kita tidak sepi seperti kuburan. Lalu makna Ramadan bulan tarbiah adalah agar menjadikan Al-Qur’an dan isinya benar-benar sebagai pedoman kehidupan, yang mampu mengangkat manusia dari kegelapan, kebodohan, keterbelakangan, dan kemunduran.
Selain keistimewaan di atas, Al-Qur’an juga memiliki keistimewaan yang lain, yaitu Al-Qur’an adalah kitab suci yang bersifat universal. Bukti keuniversalan Al-Qur’an adalah Al-Qur'an diturunkan untuk semua makhluk yang ada di alam semesta ini, bukan hanya untuk satu golongan saja.
Kemudian Al-Quran tak memiliki masa berlaku seperti kitab-kitab Allah Swt seperti Zabur, Taurat, dan Injil. Al-Quran berlaku sepanjang masa, menjadi pedoman dan petunjuk hidup manusia hingga akhir zaman.
Selanjutnya, keuniversalan Al-Qur’an yang lain dapat dilihat dari ajarannya yang bukan hanya untuk orang Arab saja, tetapi untuk semua bangsa di dunia ini, baik bangsa Arab ataupun non-Arab, baik yang berdomisili di Timur maupun di Barat, termasuk di Indonesia ini.
Lalu keuniversalannya juga dapat dilihat dari pesan atau ajaran-ajarannya yang tidak terbatas kepada aspek akidah dan ibadah saja, namun juga meliputi prinsip-prinsip yang mendasari semua urusan hidup dan kehidupan manusia, baik akidah, ibadat, hubungan antara sesama manusia, hukum, akhlak, dan sebagainya.
Universalitas ajaran Al-Qur’an juga ada dalam bidang syariat, bahkan lebih tampak bila diperhatikan. Dalam bidang syariat ini ajarannya senantiasa sesuai dengan tuntutan segala tempat dan perkembangan setiap zaman. Bahkan, ajaran Islam itu ternyata sangat sesuai dengan fitrah dan hakikat manusia itu sendiri.
Adapun hal-hal yang dapat diperhatikan dan dapat dijadikan contoh bahwa keuniversalan
Al-Qur’an dalam bidang syariat itu memang ada, seperti berikut ini:
1. Kecenderungan manusia untuk mencari nafkah dan harta
Terkait hal ini, Al-Qur’an sangat memperbolehkan manusia untuk melakukan hal tersebut. Dalam hal ini, Islam memperbolehkan manusia untuk mencari dan memiliki harta kekayaan dengan syarat harta itu baik dan diperoleh dengan jalan yang halal.
Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya dan memiliki harta yang berlimpah. Namun, Islam tetap memberikan rambu-rambu yang mengatur tata cara mencari harta dan kekayaan, di dalam Al-Qur’an semua itu sudah diatur, semisal jangan berlaku zalim ketika mencari nafkah dan harta dan lain sebagainya.
2. Manusia menyenangi lawan jenis
Terkait hal ini, Al-Qur’an juga sangat memahami. Laki-laki menyenangi perempuan dan sebaliknya perempuan menyenangi laki-laki merupakan sebuah fitrah yang tidak bisa dicegah. Hanya saja, cara bergaulnya diatur dalam Al-Qur’an sehingga pergaulannya tidak sama dengan makhluk lain.
Prosesi saling menyenangi dalam Islam secara jelas memiliki aturan tersendiri. Dalam hal ini Islam menyerukan manusia agar melakukan pernikahan untuk mewujudkan cinta kasih sesamanya dan membangun keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah.
3. Manusia tidak menyenangi pekerjaan yang berat-berat
Al-Qur’an jauh-jauh hari sudah memahami juga sifat manusia yang satu ini. Bahkan jika bisa sambil tidur saja bisa menyelesaikan pekerjaannya, manusia pasti sangat bahagia. Al-Qur’an tidak memberikan garansi seperti itu, tetapi Al-Qur’an memberikan janji jika kamu mau berusaha pasti semua bisa diselesaikan.
Al-Qur’an menyuruh manusia untuk bekerja sesuai dengan kemampuannya, tidak memaksa jika memang manusia sudah tidak mampu lagi. Atau dengan kata lain Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa pekerjaan atau suatu masalah itu diberikan kepada manusia karena ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya.
Terkait hal ini, Allah sudah berjanji dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”. Sebagai contoh implementasi janji Allah itu adalah diperbolehkannya berbuka puasa Ramadan bagi mereka yang sakit atau sedang dalam perjalanan, dan diperbolehkannya tayamum bagi mereka yang sulit memperoleh air wudu atau sedang sakit dan masih banyak contoh lainnya.
4. Manusia dan fitrahnya mempunyai keinginan untuk mengetahui banyak hal
Terkait hal ini, Al-Qur’an juga mempersilakan manusia untuk selalu belajar dan mempelajari semua yang ada di dunia ini. Jangankan orang dewasa, anak kecil sekalipun sering bertanya kepada orang tuanya tentang apa yang baru dilihatnya. Di sini, Islam menyeru manusia untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran dan ciptaan Allah di langit dan di bumi.
Itulah beberapa tanda keuniversalan Al-Qur’an yang perlu kita pahami dan kita pedomani. Harapannya dengan mengetahui keuniversalan Al-Qur’an, kita akan makin cinta dengan Al-Qur’an dan kita benar-benar bisa menjadikannya sebagai pegangan hidup dan
dapat mengaplikasikan semua ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. (*)