TRIBUNBATAM.id - Iran langsung meluncurkan rudal ke Iran setelah Ayatollah Mojtaba Khamenei diangkat menggantikan Ali Khamenei, Senin (9/3/2026).
Iran juga mengunggah gambar proyektil yang bertuliskan slogan “At Your Command, Sayyid Mojtaba,” sebuah referensi keagamaan Syiah.
“Iran menembakkan gelombang pertama rudal di bawah kepemimpinan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei ke arah wilayah pendudukan,” kata IRIB di saluran Telegram-nya, Senin.
Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali.
Mojtaba, seorang ulama yang berpengaruh di dalam pasukan keamanan Iran dan memiliki jaringan bisnis yang luas di bawah ayahnya, telah dipandang sebagai kandidat terdepan menjelang pemungutan suara pada Minggu (8/3/2026) oleh Majelis Pakar, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama yang bertugas memilih pengganti Ali Khamenei.
“Dengan suara yang menentukan, Majelis Pakar menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran,” kata Majelis dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan tepat setelah tengah malam waktu Teheran, dilansir Arab News.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengenai penunjukan pemimpin tertinggi baru tersebut, mengatakan bahwa ini adalah manifestasi dari keinginan Iran untuk memperkuat persatuan nasional.
Jabatan tersebut memberi Mojtaba wewenang terakhir dalam semua urusan negara di Republik Islam.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan pada hari Minggu bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan bertahan lama tanpa persetujuannya, saat Teheran bersiap untuk mengungkap pengganti Ali Khamenei yang telah tewas.
Sembilan hari setelah serangan AS-Israel menewaskan Khamenei dan menjerumuskan Timur Tengah ke dalam perang, Majelis Pakar Iran mengadakan pertemuan tertutup dan memilih pemimpin mereka berikutnya.
Para ulama tidak menyebutkan siapa yang telah dipilih, hanya mengatakan bahwa sebuah nama akan segera diumumkan.
Beberapa orang menduga putra Khamenei yang berusia 56 tahun, Mojtaba Khamenei, akan menggantikan ayahnya.
Sebelumnya, Trump menuntut untuk ikut menentukan penunjukan tersebut dan menganggap Khamenei muda sebagai sosok yang tidak dapat diterima dan dianggap sebagai "kelas ringan".
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump kepada ABC News pada Minggu, merujuk pada pemimpin Iran berikutnya.
“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," lanjutnya.
Namun diplomat tertinggi Teheran mengatakan sebelumnya pada hari itu bahwa keputusan tersebut sepenuhnya merupakan wewenang Iran, dan menambahkan bahwa hal itu "tidak akan membiarkan siapa pun ikut campur dalam urusan dalam negeri kami."
Berbicara di acara "Meet the Press" NBC, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi kemudian menuntut agar Trump "meminta maaf kepada rakyat di kawasan itu" atas memburuknya perang.