Sentil Nama Raffi Ahmad hingga Verrell Bramasta, Materi Mens Rea Pandji Pragiwaksono Dijadikan Buku
Achmad Maudhody March 09, 2026 08:45 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Materi stand up comedy bertajuk Mens Rea yang dibawakan Pandji Pragiwaksono bakal dijadikan buku.

Pertunjukan stand up Mens Rea sempat viral setelah tayang di platform Netflix akhir 2025 lalu.

Berisi guyonan terkait kondisi sosial dan politik di Indonesia, Pandji sempat menyentil sejumlah nama figur publik dalam pertunjukan tersebut.

Nama artis yang juga kini jadi pejabat publik seperti Raffi Ahmad dan Verrell Bramasta sempat disentil.

Tak cuma itu, nama Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka juga sempat disebut Pandji di panggung saat tampil.

Kini, materi Mens Rea yang sempat membuat heboh publik itu bakal diabadikan dalam bentuk buku.

“Iya betul, Mens Rea akan hadir dalam bentuk buku," kata Pandji Pragiwaksono di Bareskrim Mabes Polri, dikutip dari Grid.id, Senin (9/3/2026).

Menurut Pandji, buku tersebut tidak hanya memuat naskah materi stand up. Ia juga akan menyertakan data dan fakta yang menjadi dasar dari setiap guyonan yang ia sampaikan.

Dengan demikian, pembaca dapat memahami konteks dari materi yang dibawakan. Hal itu diharapkan bisa memberikan perspektif yang lebih luas kepada masyarakat.

“Isinya adalah naskah dari joke-nya dengan data dan fakta yang mendasari joke tersebut," imbuhnya.

Pandji juga menjelaskan bahwa buku tersebut akan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Ia berharap buku itu dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia secara luas.

Selain menghadirkan naskah materi komedi, Pandji juga akan menuliskan pandangannya mengenai joke yang ia buat. Hal itu dilakukan agar pembaca memahami alasan di balik setiap materi.

“Orang bisa memahami argumen-argumen di balik joke yang ada di Mens Rea," pastinya.

Baca juga: Disaksikan Keluarga, 3 Kata Terkahir Vidi Aldiano Sebelum Nafas Terakhir Diungkap: Lalu Dia Senyum

Pandji mengaku, ide membuat buku tersebut muncul karena banyak diskusi yang berkembang di masyarakat. Ia ingin memberikan penjelasan langsung dari sudut pandangnya sebagai kreator pertunjukan.

Menurutnya, buku tersebut juga akan menjelaskan latar belakang pembuatan pertunjukan tersebut. Termasuk makna dari berbagai kalimat yang muncul dalam materi stand up-nya.

“Kenapa saya bikin pertunjukan ini dan apa maksud dari kalimat-kalimatnya dijelaskan di buku itu," tutur Pandji.

Meski sempat memicu perdebatan di publik, Pandji mengaku tidak khawatir jika buku tersebut kembali memunculkan kontroversi. Ia menilai setiap orang berhak memiliki pendapat masing-masing.

Pandji justru berharap buku tersebut bisa membantu memperjelas berbagai perdebatan yang sempat muncul. Dengan begitu, kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya dapat diminimalkan.

“Saya berharap buku ini membantu memberi kejelasan sehingga tidak perlu terjadi kesalahpahaman," tutupnya.

Diperiksa Polisi

Komika Pandji Pragiwaksono kembali menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri terkait kasus yang berhubungan dengan sidang adat Toraja. Pemeriksaan kedua tersebut berlangsung di Mabes Polri pada Senin (9/3/2026).

Usai pemeriksaan, Pandji menjelaskan bahwa penyidik menanyakan berbagai hal terkait kehadirannya di Toraja. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan proses sidang adat yang pernah ia jalani bersama perwakilan masyarakat setempat.

“Ditanya terkait kehadiran saya di Toraja ketika saya melaksanakan sidang adat Toraja," tutur Pandji Pragiwaksono, dikutip dari Grid.id, Senin (9/3/2026).

Pandji mengungkapkan, total ada sekitar 17 pertanyaan yang diajukan oleh penyidik selama kurang lebih 2 jam sejak kedatangannya di Bareskrim Mabes Polri. Menurutnya, sebagian besar pertanyaan masih berkaitan dengan jalannya sidang adat yang telah dilakukan sebelumnya.

Ia mengatakan proses klarifikasi sudah ia sampaikan kepada penyidik. Pandji juga berharap kasus tersebut dapat segera menemukan titik terang.

“Kurang lebih ada 17 pertanyaan kalau tidak salah," tambahnya.

Dalam pemeriksaan itu, Pandji menyebut tidak ada pembahasan langsung mengenai unsur pidana secara spesifik. Namun penyidik lebih menyoroti proses sidang adat dan kesepakatan yang terjadi dalam forum tersebut.

Pandji juga berharap penyelesaian kasus ini dapat mengedepankan pendekatan Restorative Justice. Menurutnya, komunikasi antara dirinya dan perwakilan masyarakat Toraja sudah terjadi melalui sidang adat.

Ia mengaku tetap menjalani proses hukum yang berjalan dengan tenang. Pandji menilai setiap proses akan menemukan titik terang pada waktunya.

“Saya percaya semua ini akan ketemu titik terangnya," harapnya.

Pandji juga mengaku bersyukur mendapat kesempatan bertemu langsung dengan masyarakat adat Toraja. Pengalaman mengikuti sidang adat tersebut menurutnya menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan.

Ia menilai proses sidang adat yang dijalani berlangsung secara adil dan demokratis. Selain itu, sidang tersebut juga melibatkan berbagai perwakilan wilayah adat.

“Pengalaman saya di Toraja adalah salah satu pengalaman yang sangat berkesan," ungkapnya.

Pandji menambahkan bahwa sidang adat tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 32 wilayah adat di Toraja. Selain itu, tujuh hakim adat juga turut hadir dalam proses tersebut.

Menurutnya, sidang adat tersebut sekaligus menjadi bentuk mediasi yang sah antara pihak-pihak terkait. Hal itu karena seluruh perwakilan masyarakat adat hadir dalam forum tersebut.

Pandji juga menyampaikan bahwa kedua pihak dalam sidang adat telah saling meminta maaf. Ia menilai peristiwa tersebut memberikan pembelajaran bagi semua pihak.

“Dua belah pihak meminta maaf atas apa yang telah terjadi," katanya.

Ke depan, Pandji berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menulis materi komedi. Ia mengatakan pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting dalam proses kreatifnya sebagai komika.

(Banjarmasinpost.co.id/Grid.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.