Pemkot Yogyakarta Tegaskan Malioboro Steril dari Asongan dan Pengamen Liar di Libur Lebaran
Yoseph Hary W March 10, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemkot Yogyakarta mulai memasang kuda-kuda menghadapi ledakan pemudik dan wisatawan pada libur Lebaran 2026 mendatang.

Bukan tanpa alasan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI telah memproyeksikan pergerakan masuk ke DI Yogyakarta bisa mencapai 8,2 juta orang.

Oleh sebab itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan komitmen untuk menjaga ketertiban kawasan Malioboro sebagai destinasi utama.

Malioboro steril dari asongan

Fokusnya adalah sterilisasi dari aktivitas pedagang asongan dan pengamen liar yang kerap muncul dan mengganggu kenyamanan pengunjung.

​"Pergerakan 8 juta itu kan akumulasi, ada yang stay di Yogyakarta, lalu ada yang sekadar lewat. Tetapi, kita harus mencermati arus ini agar kota tetap tertib," tandasnya, Senin (9/3/26).

​Wawan menekankan, Pemkot Yogyakarta tetap memegang teguh aturan penataan kawasan Malioboro yang sudah direalisasikan sedemikian rupa.

Ia menegaskan, tidak boleh ada pedagang asongan yang nekat berjualan di area pedestrian, mengingat pemerintah telah menyediakan tempat khusus di Teras Malioboro.

​"Kita tetap mengharapkan pedagang asongan tidak ada (di jalur pedestrian). Posisi mereka sudah kita tempatkan di Teras Malioboro. Ini semua demi menjaga ketertiban kota kita sendiri, semua ada aturannya," tegasnya.

​Langkah ini juga diambil sebagai antisipasi agar insiden-insiden yang berpotensi viral dan mencoreng citra pariwisata Kota Yogyakarta tidak terulang kembali. 

Wawan merujuk pada beberapa kasus pedagang makanan yang sempat viral karena ketidaktertiban terhadap peraturan di lapangan.

​"Harapannya semua bisa mencari rezeki, kita sangat apresiasi itu. Tapi, ya harus ditata dengan baik, jangan sampai merugikan kenyamanan wisatawan," imbuhnya.

Pengamen di tempat tertentu

​Selain pedagang asongan, Pemkot Yogyakarta juga mendapati laporan mengenai munculnya aktivitas pengamen liar di sepanjang trotoar Malioboro.

​Wawan menyatakan, sosialisasi akan terus digencarkan supaya para seniman jalanan tetap bisa tampil namun di lokasi yang sudah ditentukan Dinas Kebudayaan.

Pihaknya pun tidak segan mengambil tindakan jika aturan tersebut terus dilanggar demi menjaga estetika dan kenyamanan kawasan ikonik tersebut.

​"Jangan sampai yang sudah ditata dengan baik malah jadi rancu karena muncul lagi pengamen-pengamen liar. Mereka tetap bisa tampil, tapi di titik-titik yang sudah ditentukan," pungkasnya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.