Dulu Mimpi Jadikan Sulsel Provinsi Pisang, Kini Bahtiar Baharuddin Tersangka Korupsi Bibit Nanas
Sakinah Sudin March 10, 2026 08:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, WAJO - Nama Bahtiar Baharuddin Pj Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) tengah jadi perbincangan.

Pada tahun 2023, Bahtiar Baharuddin pernah jadi sorotan lantaran bermimpi jadikan Sulsel Provinsi Pisang.

Kini Bahtiar Baharuddin kembali disorot.

Penyebabnya, Bachtiar Baharuddin ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan bibit nanas. 

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Didik Farkhan Alisyahdi mengumumkan penetapan tersangka Bachtiar Baharuddin di Kantor Kejati Sulsel, jl Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Senin (9/3/2026). 

Penetapan tersangka itu setelah  Bachtiar Baharuddin (BB) menjalani pemeriksaan di ruang Pidana Khusus (Pidsus) Lantai 5 Gedung Kejati Sulsel.

Ia diperiksa selama lebih kurang 11 jam, terhitung mulai pukul 10.00 siang hingga 22.00 Wita.

Setelah ditetapkan tersangka, BB langsung dipakaikan rompi pink bertuliskan "Tahanan Tipikor Kejati Sulsel"

BB mengenakan topi dan masker hitam dengan tangan terborgol digiring dari lantai 5 ke mobil tahanan Kejati Sulsel.

Tak ada komentar yang keluar dari mulut mantan pejabat Gubernur Sulsel dan Gubernur Sulbar itu saat sejumlah awak media memintainya komentar.

Ia hanya tertunduk sambil berjalan menuju mobil tahanan yang telah menantinya di Lobi kantor Kejati Sulsel.

Tak hanya Bahtiar Baharuddin, Tim Penyidik Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel juga menetapkan enam orang lainnya sebagai tersangka.

“Penyidik sudah menahan terhadap lima orang tersangka dugaan tindak pidana korupsi proyek pengadaan bibit nanas,” kata Didik Farkhan Alisyahdi.

"Adapun ke lima tersangka yang dilakukan penahanan adalah, pertama inisialnya BB (54) mantan PJ Gubernur Sulawesi Selatan," kata Kajati Sulsel Didik Farkhan Alisyahdi.

Kemudian tersangka kedua adalah RM (55) selaku Direktur PT AAM, sedang ketiga RE selaku Direktur PT JAP (pelaksana kegiatan).

Keempat HS selaku tim pendamping PJ Gubernur Sulsel 2023-2024 dan kelima RRS pegawai Pemkab Takalar.

Selain lima orang yang telah ditahan, lanjut Didik, satu orang lainnya berinisial UN selaku KPA PPK.

"Namun (UN) hari ini tidak menghadiri undangan kami dengan alasan sakit," ujarnya.

Dijerat Pasal Berlapis

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin dan lima tersangka dugaan korupsi bibit nanas lainnya, dijerat pasal berlapis.

Pasal yang diterapkan yaitu, Pasal 603 UU No 1 Tahun 2023 tentang KUHP Jo Pasal 20 huruf c UU No 1 Tahun 2023 tentang KUHP Jo Pasal 18 ayat (1) huruf a dan b UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU No 20 Tahun 2001.

Kemudian, Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat (1) huruf a dan b UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU No 20 Tahun 2001 Jo Pasal 20 huruf c UU No 1 Tahun 2023 tentang KUHP Jo Pasal 618 UU No 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

"Ini pasalnya panjang-panjang sekarang karena ada perubahan beberapa pasal di undang-undang korupsi masuk dalam KUHP," kata Kajati Sulsel Didik Farkhan Alisyahdi saat mengumumkan penetapan tersangka, di kantornya Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (9/3/2026) malam.

Orang nomor satu di Kejati Sulsel ini menegaskan, penetapan tersangka kasus dugaan korupsi bibit Nanas Pemprov Sulsel senilai Rp60 Milliar pada 2024 itu, adalah bentuk keseriusan dalam penegakan hukum 

"Jadi intinya kejaksaan tinggi Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas perkara ini dan menindak tegas semua yang terlibat dan terbukti merugikan keuangan negara," jelasnya.

Mimpi Jadikan Sulsel Provinsi Pisang

Menilik ke belakang, Bahtiar Baharuddin pernah jadi perbincangan saat masih menjabat PJ Gubernur Sulsel.

Saat itu, Bahtiar Baharuddin berkunjung ke daerah transmigrasi di Desa Paselloreng, Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, Minggu (24/9/2023).

Dalam kunjungannya, PJ Gubernur Sulsel mensosialisasikan gerakan gemar menanam pisang sekaligus berdialog dengan warga untuk peningkatan kesejahteraan.

Bahtiar Baharuddin menjelaskan satu hektar lahan bisa ditanami 1.500-2.000 pohon pisang.

"Artinya, target 100.000 hektar lahan di Sulsel bisa menghasilkan 200 juta pohon," ujarnya.

Kata dia, luas lahan 100 ribu hektar ini berasal dari lahan tidak produktif.

Di Sulsel, jelasnya, tersedia luas lahan pertanian 6,7 juta hektar.

Namun baru sekitar 1,7 juta hektar lahan yang ditanami.

"Saya target 100.000 hektar bisa ditanam satu tahun ke depan. Karena ini bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat, tetapi belum dibudidayakan," kata Bahtiar.

"Saya mendorong ketahanan pangan kita melalui budidaya pisang. Di Wajo itu ada 5.000 hektar," jelasnya.

Dia menjelaskan, Sulsel siap mencontoh Lampung yang sukses dengan produksi pisang dan nanas.

Bahkan, sistem pertanian di Lampung terintegrasi juga dengan sektor peternakan.

Pasalnya, makanan ternak diolah dari sisa limbah pisang dan nanas menjadi pakan.

Contohnya, PT Great Giant Food yang memiliki dengan luas 32.000 hektar.

Revenue pertahun Rp 5 triliun untuk budidaya pisang, sementara budidaya nanas berkisar Rp 3 triliun.

Dari budidaya tersebut, lanjutnya, limbah pisang dan nanas bisa menjadi makanan ternak sapi 20.000 ekor.

"Nilai ekonominya juga tinggi. Selain sebagai makanan budaya, setiap kegiatan dengan sajian makanan selalu ada pisang," kata Bahtiar.

"Secara kultural ini adalah tanaman budayanya Sulsel," jelasnya.

Dia menjelaskan, nilai keekonomian pisang Rp36 juta per hektar.

"Masyarakat kita perlu diajari membudidayakan. Saya ingin menjadikan Sulsel provinsi pisang," ujarnya.

Bupati Wajo, Amran Mahmud, menyampaikan desa Pasolloreng memiliki 732 Kepala Keluarga (KK) dengan masyarakat sejahtera.

"Kami penuh bahagia, di tempat ini merupakan sebuah potensi daerah area transmigrasi. Di mana penduduk asal dan penduduk setempat sudah berkolaborasi," tambahnya.

Masyarakat pun diminta untuk segera menanam pisang di lahan masing-masing.

Dalam kunjungannya kali ini, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut hadir.

Mereka diantaranya Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Imran Jauzi, dan Kepala DP3A Dalduk KB Andi Mirna.

Ada juga Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Astina Abbas,  Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Ardiles Saggaf, serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan M Ilyas.

Selain itu, ada Kepala Dinas Perhubungan Andi Erwin Terwo, Kadiskominfo Andi Winarno, Kepala Biro Perekonomian dan Ekonomi Pembangunan Djunaedi B, serta Kasatpol PP Andi Arwin Azis. 

Lahan di Wajo dan Bone

Demi mewujudkan mimpinya, Bahtiar Baharuddin bahkan kunjungan ke beberapa daerah memantau kesiapan lahan.

Wilayah dikunjungi Bahtiar Baharuddin diantaranya Wajo dan Bone.

Bahtiar sampai meninjau lahan pertanian masyarakat di Desa Paselloreng, Kec Gilireng, Kab Wajo, pada Minggu (24/9/2023).

Kedatangan Bahtiar didampingi Bupati Wajo Amran Mahmud dan Wakilnya Amran.

Turut hadir Ketua DPRD Kab Wajo Andi M Alauddin Palaguna.

Bahtiar meminta masyarakat Desa Paselloreng ikut menanam pohon pisang.

Pemprov Sulsel disebutnya sudah siap menyalurkan pohon pisang.

Target Bahtiar setidaknya ada 5 ribu hektar lahan di Kab Wajo yang bisa di tanam pohon pisang.

"Saya sudah ngobrol pak Bupati mau bikin di Wajo 5 ribu hektar. Luas sekali lahan kita. Sejauh mata memandang banyak lahan tidak produktif," kata Bahtiar dalam pertemuan.

Dalam hitungannya, satu kontainer bisa memuat 1.500 tandang pisang.

Dengan target 10 kontainer saja, dibutukan 15 ribu pohon.

"Jangan kecil-kecil kalau menanam. Satu kontainer bisa 1.500 tandang. Kalau mau 10 kontainer maka 15 ribu pohon. Satu hektar itu sekitar 1.500 sampai 2 ribu pohon," lanjutnya.

Guna memuluskan target tersebut, Bahtiar menginstruksikan pembentukan Kelompok Tani Pisang (KTP).

Kelompok ini nantinya bertugas atas luas lahan tertentu yang sudah dipetakan.

"Tolong nanti dibentuk Kelompok tani pisang ya," pesan Bahtiar ke Bupati Wajo Amran Mahmud.

Lahan pertanian di Desa Paselloreng menurutnya bisa menjadi percontohan desa lainnya.

Sebagai langkah awal, Bahtiar meminta masyarakat mulai membuat lubang untuk pohon pisang.

"Siapkan ki lahan dulu sekitar 100 sampai 200 hektar, jadi contoh dulu. Mulai besok bikin mi lubangnya paling 3 meter x 3 meter. Berapa ratus ribu pohon yang dibutuhkan nanti saya kirimkan dari Makassar," kata Bahtiar

"Soal metode tanam terbaik menurut ilmu pertanian nanti kita bicara lagi," sambungnya.

Adapun kunjungan ke Bone pada Sabtu-Minggu (7-8/10/2023).

Bahtiar memulai misinya dari Kecamatan Mare, Kabupaten Bone, Sabtu (7/10/2023).

"Saya ingin menjadikan Sulawesi Selatan sebagai produsen pisang. Nah itu rencana lokasinya besar di Mare," kata Bahtiar.

Bahtiar berharap, tujuh bulan ke depan sudah ada produksi dari program budidaya pisang di Kecamatan Mare.

Jumlah lahan yang tersedia di Kecamatan Mare mencapai 5 ribu hektar.

"Kita mulai menanam di lahan seluas 1.200 sampai 5.000 hektare di Mare," kata Bahtiar.

"Pak Bupati sudah siapkan kita sampai 20 ribu hektare di Bone," sambungnya

Pj Gubernur Bahtiar memiliki misi menanam pisang di 100 ribu hektar se-Sulsel. (Tribun-Timur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.